Riset terbaru: semaglutide memperlambat kerusakan ginjal pada diabetes tipe 2
Ringkasan
Pada 3.533 penderita diabetes tipe 2 dengan penyakit ginjal kronis, suntikan semaglutide seminggu sekali menurunkan risiko kejadian ginjal berat sebesar 24% dan risiko kematian karena sebab apa pun sebesar 20% dibanding plasebo, dalam studi FLOW yang terbit di New England Journal of Medicine tahun 2024.
- Uji klinis acak tersamar ganda, 3.533 peserta, rata-rata 3,4 tahun.
- Risiko kejadian ginjal berat turun 24%.
- Hanya untuk penderita diabetes tipe 2, perlu resep dokter.

Apa yang baru
- Semaglutide adalah obat golongan GLP-1 pertama yang terbukti melindungi ginjal dalam uji klinis khusus ginjal [1].
- Manfaatnya muncul di atas pengobatan standar yang sudah dijalani peserta [1].
- Penderita diabetes dengan penyakit ginjal kini punya pilihan pelindung ginjal selain SGLT2 inhibitor [2] [3].
Tentang studi ini
- Nama studi
- FLOW (NCT03819153)
- Jenis
- Uji klinis acak, tersamar ganda, multisenter
- Peserta
- 3.533 orang dewasa dengan diabetes tipe 2 dan penyakit ginjal kronis
- Perlakuan
- Semaglutide 1,0 mg suntik seminggu sekali dibanding plasebo
- Lama
- Rata-rata 3,4 tahun
- Terbit
- New England Journal of Medicine, Mei 2024
- Pendanaan
- Novo Nordisk
Penderita diabetes tipe 2 yang juga punya penyakit ginjal kronis berisiko tinggi mengalami gagal ginjal, serangan jantung, dan kematian. Studi FLOW menguji apakah semaglutide, obat suntik sekali seminggu yang selama ini dipakai untuk diabetes, juga bisa melindungi ginjal [1].
Siapa yang diteliti?
Peneliti mengikutsertakan 3.533 orang dewasa dengan diabetes tipe 2 dan penyakit ginjal kronis, ditandai eGFR yang menurun dan albumin di urine. Separuh peserta mendapat semaglutide 1,0 mg seminggu sekali, separuh lagi mendapat suntikan plasebo. Baik peserta maupun dokter tidak tahu siapa mendapat obat yang mana [1].
Apa hasilnya?
Studi ini dihentikan lebih awal karena hasilnya sudah jelas pada analisis sementara. Setelah rata-rata 3,4 tahun [1]:
- Risiko kejadian ginjal berat (gagal ginjal, eGFR turun setengah atau lebih, atau kematian karena ginjal atau jantung) 24% lebih rendah pada kelompok semaglutide
- Penurunan eGFR per tahun lebih lambat 1,16 poin
- Risiko kematian karena penyakit jantung 29% lebih rendah
- Risiko kematian karena sebab apa pun 20% lebih rendah
Efek samping serius justru sedikit lebih jarang pada kelompok semaglutide (49,6% dibanding 53,8%) [1].
Bagaimana posisinya dibanding obat lain?
Sebelumnya, obat golongan SGLT2 inhibitor sudah terbukti memperlambat penyakit ginjal kronis. Dalam studi DAPA-CKD, dapagliflozin menurunkan risiko kejadian ginjal berat sekitar 39% [2], dan pedoman KDIGO 2024 sudah memasukkan golongan ini dalam pengobatan PGK [3]. Hasil FLOW menambah satu pilihan lagi, khusus untuk penderita diabetes tipe 2.
Batasan yang perlu diketahui
- Peserta FLOW semuanya penderita diabetes tipe 2. Hasilnya belum bisa diterapkan pada penyakit ginjal tanpa diabetes.
- Studi ini didanai Novo Nordisk, produsen semaglutide. Desainnya tetap acak dan tersamar ganda, dan hasilnya terbit di jurnal yang ditinjau sejawat.
- Angka di atas adalah rata-rata kelompok. Manfaat pada tiap orang bisa berbeda.
- Obat golongan ini sering menimbulkan mual dan gangguan pencernaan, jadi dosis biasanya dinaikkan bertahap oleh dokter.
Apa artinya untuk kamu?
Bila kamu punya diabetes dan hasil lab menunjukkan fungsi ginjal menurun atau ada albumin di urine, tanyakan ke dokter pilihan obat pelindung ginjal yang sesuai. Jangan memulai atau mengganti obat sendiri.
Pertanyaan terkait
Bagaimana diabetes bisa merusak ginjal?Penyakit ginjal kronis: pengertian, stadium, dan pemeriksaannyaCara membaca hasil eGFR dan stadium ginjalRujukan
- Perkovic V, Tuttle KR, Rossing P, et al. Effects of Semaglutide on Chronic Kidney Disease in Patients with Type 2 Diabetes (FLOW). N Engl J Med. 2024;391(2):109-121 Lihat sumber
- Heerspink HJL, Stefansson BV, Correa-Rotter R, et al. Dapagliflozin in Patients with Chronic Kidney Disease (DAPA-CKD). N Engl J Med. 2020;383(15):1436-1446 Lihat sumber
- KDIGO CKD Work Group. KDIGO 2024 Clinical Practice Guideline for the Evaluation and Management of Chronic Kidney Disease. Kidney Int. 2024;105(4S):S117-S314 Lihat sumber
Riwayat artikel
- Diterbitkan: 7 Oktober 2026
Artikel ini disusun Tim Redaksi Ginjalpedia dari pedoman klinis dan riset yang dikutip di bawah, dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter.
Laporkan kesalahan di artikel ini