Penyakit ginjal kronis: pengertian, stadium, dan pemeriksaannya
Ringkasan
Penyakit ginjal kronis adalah kerusakan atau penurunan fungsi ginjal yang menetap lebih dari tiga bulan. Penyakit ini dialami lebih dari 10% orang dewasa di dunia, sering tanpa keluhan di awal, dan bisa ditemukan dengan dua tes sederhana: kreatinin darah untuk eGFR dan albumin urine.
- PGK ditegakkan bila kelainan ginjal menetap lebih dari tiga bulan.
- Stadium dinilai dari eGFR (G1 sampai G5) dan albumin urine (A1 sampai A3).
- Penderita diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung perlu diperiksa rutin.
- Obat pelindung ginjal yang lebih baru bisa memperlambat penyakit.

Penyakit ginjal kronis (PGK) adalah kondisi saat ginjal rusak atau kemampuannya menyaring darah turun, dan keadaan itu menetap lebih dari tiga bulan. Panduan ini merangkum pedoman internasional KDIGO 2024, acuan utama dokter ginjal di banyak negara [1].
Seberapa banyak orang yang mengalaminya?
Di seluruh dunia, PGK dialami lebih dari 10% penduduk dewasa, atau lebih dari 800 juta orang. PGK juga termasuk sedikit penyakit tidak menular yang angka kematiannya justru naik dalam 20 tahun terakhir [2]. Di Indonesia, Riskesdas 2018 mencatat prevalensi PGK berdasarkan diagnosis dokter sebesar 3,8 per 1.000 penduduk [3]. Angka ini dihitung dari orang yang sudah pernah didiagnosis, sehingga orang yang belum pernah diperiksa tidak ikut terhitung.
Kapan seseorang disebut punya PGK?
Menurut KDIGO, PGK ditegakkan bila ada kelainan struktur atau fungsi ginjal yang menetap lebih dari tiga bulan dan berdampak pada kesehatan [1]. Kelainan itu bisa berupa eGFR di bawah 60, atau tanda kerusakan ginjal seperti albumin di urine, walaupun eGFR masih normal.
Stadium menurut eGFR dan albumin urine
KDIGO menilai PGK dari dua hal sekaligus: seberapa baik ginjal menyaring (eGFR) dan seberapa banyak albumin bocor ke urine [1].
- G1: eGFR 90 atau lebih, dengan tanda kerusakan ginjal
- G2: eGFR 60 sampai 89
- G3a: eGFR 45 sampai 59
- G3b: eGFR 30 sampai 44
- G4: eGFR 15 sampai 29
- G5: eGFR di bawah 15, disebut gagal ginjal
Albumin urine dibagi menjadi A1 (di bawah 30 mg/g), A2 (30 sampai 300 mg/g), dan A3 (di atas 300 mg/g). Semakin rendah eGFR dan semakin tinggi albumin, semakin besar risiko ginjal memburuk dan risiko penyakit jantung [1].
Pemeriksaan yang dibutuhkan
Dua tes dasar sudah cukup untuk menemukan sebagian besar PGK [1]:
- Tes darah kreatinin, yang dipakai untuk menghitung eGFR
- Tes urine rasio albumin terhadap kreatinin (UACR)
Bila hasil kreatinin diragukan, misalnya pada orang dengan massa otot sangat besar atau sangat kecil, KDIGO 2024 menyarankan pemeriksaan tambahan cystatin C [1].
Siapa yang sebaiknya diperiksa?
KDIGO menganjurkan pemeriksaan rutin bagi orang dengan risiko tinggi: penderita diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan orang yang punya keluarga dengan gagal ginjal [1]. Di stadium awal PGK jarang menimbulkan keluhan, jadi pemeriksaan adalah satu-satunya cara menemukannya lebih dini.
Bisakah PGK diperlambat?
Bisa. Mengendalikan tekanan darah dan gula darah tetap menjadi dasar. Dalam beberapa tahun terakhir, uji klinis besar juga menunjukkan obat golongan SGLT2 inhibitor memperlambat penurunan fungsi ginjal, baik pada orang dengan maupun tanpa diabetes [4]. Riset terbaru menambah pilihan lain untuk penderita diabetes, yaitu semaglutide dalam studi FLOW. Semua obat ini perlu resep dan pemantauan dokter.
Kapan harus ke dokter?
- Kamu punya diabetes atau hipertensi dan belum pernah cek eGFR dan albumin urine
- Bengkak, kencing berbusa, atau kencing makin sedikit
- Sesak napas atau sangat lemas
Pertanyaan terkait
Kreatinin tinggi, apakah pasti gagal ginjal?Cara membaca hasil eGFR dan stadium ginjalApakah kencing berbusa pasti sakit ginjal?Rujukan
- KDIGO CKD Work Group. KDIGO 2024 Clinical Practice Guideline for the Evaluation and Management of Chronic Kidney Disease. Kidney Int. 2024;105(4S):S117-S314 Lihat sumber
- Kovesdy CP. Epidemiology of chronic kidney disease: an update 2022. Kidney Int Suppl. 2022;12(1):7-11 Lihat sumber
- Kementerian Kesehatan RI. Laporan Nasional Riskesdas 2018. Jakarta: Badan Litbangkes; 2019
- Heerspink HJL, Stefansson BV, Correa-Rotter R, et al. Dapagliflozin in Patients with Chronic Kidney Disease (DAPA-CKD). N Engl J Med. 2020;383(15):1436-1446 Lihat sumber
Riwayat artikel
- Diterbitkan: 7 Oktober 2026
Artikel ini disusun Tim Redaksi Ginjalpedia dari pedoman klinis dan riset yang dikutip di bawah, dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter.
Laporkan kesalahan di artikel ini