Albumin dan protein total: arti hasil rendah
Ringkasan
Albumin adalah protein utama darah yang hanya dibuat hati, dengan batas bawah yang lazim sekitar 3,5 g/dL. Albumin rendah bisa karena sirosis, protein bocor lewat ginjal pada sindrom nefrotik, peradangan atau penyakit berat, dan asupan protein kurang. Pada pasien cuci darah, albumin rendah berkaitan dengan risiko rawat inap dan kematian yang lebih tinggi.
- Albumin hanya dibuat hati, sekitar 10,5 gram per hari
- Batas bawah yang lazim sekitar 3,5 g/dL, cocokkan dengan lembar lab
- Penyebab rendah: sirosis, sindrom nefrotik, peradangan, asupan protein kurang
- Pada pasien cuci darah, albumin rendah menandakan risiko lebih tinggi
- Bukti ekstrak ikan gabus untuk menaikkan albumin masih terbatas

Albumin adalah protein paling banyak di bagian cair darah. Albumin membantu menahan cairan tetap di dalam pembuluh darah dan mengangkut berbagai zat, termasuk obat. Di lembar lab, albumin sering muncul bersama protein total dan globulin.
Albumin dibuat di hati
Albumin hanya dibuat oleh hati, sehingga kadarnya sering dipakai sebagai salah satu penanda kemampuan hati membuat protein [2]. Pada orang sehat, hati membuat sekitar 10,5 gram albumin per hari, dan seluruh persediaan albumin tubuh berganti kira kira tiap 25 hari [1]. Albumin yang hilang terutama dipecah di jaringan tubuh, sebagian kecil keluar lewat ginjal dan usus [1].
Nilai normal
Batas bawah albumin yang lazim dipakai adalah sekitar 3,5 g/dL (35 g/L) [1]. Rentang persisnya berbeda antarlab, jadi bandingkan selalu dengan angka yang tercetak di lembar lab kamu sendiri. Albumin yang benar benar tinggi hampir hanya terjadi saat tubuh kekurangan cairan [1].
| Baris di lembar lab | Artinya |
|---|---|
| Albumin | Protein utama darah, dibuat hati |
| Protein total | Albumin ditambah protein lain, terutama globulin |
| Globulin | Protein total dikurangi albumin. Termasuk antibodi |
| Rasio A/G | Perbandingan albumin dengan globulin |
Penyebab albumin rendah
Albumin rendah (hipoalbuminemia) bisa terjadi pada banyak kondisi. Pedoman British Society of Gastroenterology (BSG) menyebut infeksi berat, peradangan di seluruh tubuh, sindrom nefrotik, gangguan penyerapan usus dan kebocoran protein lewat usus [2]. Penyebab utamanya bisa dikelompokkan seperti ini:
- Hati yang rusak berat, misalnya sirosis. Ini mekanisme yang paling jelas: hati tidak lagi mampu membuat cukup albumin [1].
- Kebocoran lewat ginjal. Pada sindrom nefrotik, protein dalam jumlah sangat besar bocor ke urine sehingga albumin darah turun dan tubuh bengkak [4]. Penjelasan tentang protein di urine ada di protein urine positif dan albumin urine (UACR). Urine yang berbusa terus juga bisa menjadi petunjuk, baca kencing berbusa.
- Peradangan dan penyakit berat. Saat ada peradangan, albumin merembes keluar dari pembuluh darah dan lebih cepat dipecah. Albumin rendah di sini mencerminkan beratnya peradangan [3].
- Asupan protein yang kurang. Diet rendah protein dengan kalori cukup bisa menurunkan pembuatan albumin [1]. Namun, pada orang yang kekurangan makan secara keseluruhan tanpa infeksi, albumin sering tetap normal atau hanya sedikit turun [1][3]. Karena itu, albumin saja kurang tepat dipakai sebagai alat ukur gizi kurang [1].
Albumin pada penyakit ginjal kronis dan cuci darah
Pada orang dengan penyakit ginjal kronis yang menjalani cuci darah (hemodialisis), pedoman KDOQI 2020 menyebut albumin serum bisa dipakai untuk memperkirakan risiko rawat inap dan kematian. Makin rendah albumin, makin tinggi risikonya [5]. Pedoman yang sama juga mengingatkan bahwa status gizi pasien ginjal dinilai dari banyak hal sekaligus, dan satu angka albumin saja tidak cukup [5]. Ahli gizi dan dokter ginjal biasanya ikut mengatur kebutuhan protein pasien cuci darah.
Globulin dan rasio A/G
Globulin adalah kelompok protein lain di darah, termasuk antibodi. Angkanya di lembar lab biasanya dihitung dari protein total dikurangi albumin. Rasio A/G yang rendah bisa terjadi karena albumin turun, globulin naik, atau keduanya. Globulin yang tinggi bisa ditemukan pada infeksi atau peradangan kronis dan beberapa penyakit darah. Bila angkanya mencolok, dokter bisa meminta pemeriksaan lanjutan.
Infus albumin dan ikan gabus
Infus albumin dipakai dokter pada situasi tertentu. Pada sirosis, pedoman EASL (perhimpunan hati Eropa) menganjurkannya misalnya setelah cairan perut dalam jumlah besar dikeluarkan, dan pada infeksi cairan perut [6]. Di luar situasi seperti itu, menaikkan angka albumin dengan infus belum terbukti memperbaiki hasil. Pada pasien perawatan intensif, infus albumin tidak terbukti mengurangi kebutuhan cairan, infeksi atau kematian, sehingga yang dianjurkan adalah mengatasi penyebab peradangannya [3].
Ikan gabus (Channa striata) dan ekstraknya populer di Indonesia untuk “menaikkan albumin”. Ikan gabus memang kaya protein. Namun, sebuah tinjauan sistematis tentang ikan gabus untuk penyembuhan luka hanya menemukan empat uji klinis pada manusia, sebagian besar pada ibu setelah operasi caesar, dan penulisnya menyatakan perlu penelitian yang lebih besar dan lebih baik [7]. Penulis tinjauan itu bekerja di perusahaan farmasi [7]. Kami belum menemukan uji klinis besar yang membuktikan ekstrak ikan gabus menaikkan albumin atau memperbaiki kesehatan pada penyakit hati atau ginjal. Yang lebih jelas, asupan protein dari makanan sehari hari memengaruhi pembuatan albumin [1]. Makan ikan gabus sebagai lauk tidak masalah. Bila kamu punya penyakit ginjal, tanyakan dulu ke dokter sebelum memakai ekstrak atau suplemen apa pun, termasuk soal jumlah protein yang tepat.
Persiapan sebelum tes
Tes albumin dan protein total tidak wajib puasa, tetapi sering diambil bersama tes lain yang butuh puasa. Cek puasa sebelum cek darah. Kekurangan cairan saat diambil darah bisa membuat albumin terbaca lebih tinggi [1].
Kapan harus ke dokter?
- Bengkak di kaki, kelopak mata atau perut yang makin bertambah
- Urine sangat berbusa disertai bengkak
- Sesak napas atau perut membesar karena cairan
- Kulit atau mata menguning disertai albumin rendah
- Berat badan turun cepat dan tidak bisa makan
Pertanyaan terkait
Protein urine positif: artinya dan pemeriksaan lanjutanAlbumin urine (UACR): tanda awal ginjal bocorApa itu cuci darah dan kapan dibutuhkan?Kencing berbusa, kapan perlu khawatir?Rujukan
- Levitt DG, Levitt MD. Human serum albumin homeostasis: a new look at the roles of synthesis, catabolism, renal and gastrointestinal excretion, and the clinical value of serum albumin measurements. Int J Gen Med. 2016;9:229-255 Lihat sumber
- Newsome PN, Cramb R, Davison SM, et al. Guidelines on the management of abnormal liver blood tests. Gut. 2018;67(1):6-19 Lihat sumber
- Soeters PB, Wolfe RR, Shenkin A. Hypoalbuminemia: Pathogenesis and Clinical Significance. JPEN J Parenter Enteral Nutr. 2019;43(2):181-193 Lihat sumber
- Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO) Glomerular Diseases Work Group. KDIGO 2021 Clinical Practice Guideline for the Management of Glomerular Diseases. Kidney Int. 2021;100(4S):S1-S276 Lihat sumber
- Ikizler TA, Burrowes JD, Byham-Gray LD, et al. KDOQI Clinical Practice Guideline for Nutrition in CKD: 2020 Update. Am J Kidney Dis. 2020;76(3 Suppl 1):S1-S107 Lihat sumber
- European Association for the Study of the Liver. EASL Clinical Practice Guidelines for the management of patients with decompensated cirrhosis. J Hepatol. 2018;69(2):406-460 Lihat sumber
- Hapsari R, Tjandrawinata RR. Nutritional composition and action mechanism of Channa striata meat in wound healing: A systematic review. Narra J. 2025;5(3):e2903 Lihat sumber
Riwayat artikel
- Diterbitkan: 7 Oktober 2026
Artikel ini disusun Tim Redaksi Ginjalpedia dari pedoman klinis dan riset yang dikutip di bawah, dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter.
Laporkan kesalahan di artikel ini