Fosfat darah: kenapa penting untuk penyakit ginjal
Ringkasan
Fosfat darah naik ketika ginjal tidak lagi mampu membuangnya, biasanya pada penyakit ginjal kronis tahap lanjut dan pada pasien cuci darah. Fosfat tinggi termasuk bagian gangguan mineral dan tulang (CKD-MBD) yang dikaitkan dengan pengapuran pembuluh darah dan risiko kematian lebih tinggi. Fosfat dari zat tambahan makanan olahan paling mudah diserap, jadi itu yang pertama dikurangi.
- Fosfat mulai naik saat fungsi ginjal makin turun
- KDIGO 2017 menganjurkan cek kalsium dan fosfat sejak stadium G3a
- Fosfat dari zat tambahan makanan olahan jauh lebih mudah diserap
- Obat pengikat fosfat hanya atas resep dokter
- Fosfat rendah sering terkait kurang gizi, alkohol, atau perawatan intensif

Fosfat (di lembar lab sering ditulis fosfor anorganik) adalah mineral yang bersama kalsium membentuk tulang dan gigi. Fosfat juga dipakai sel untuk menyimpan energi. Kelebihan fosfat dari makanan dibuang lewat ginjal. Karena itu, fosfat jarang menjadi masalah pada ginjal yang sehat, tetapi menjadi angka penting pada penyakit ginjal kronis.
Bandingkan hasilmu dengan nilai rujukan yang tercetak di lembar lab kamu sendiri. Rentang normal fosfat berbeda antar laboratorium dan lebih tinggi pada anak-anak yang masih tumbuh.
Kenapa fosfat naik saat ginjal melemah
Ketika fungsi ginjal terus menurun, kemampuan membuang fosfat ikut berkurang dan kadar fosfat darah mulai naik [1]. Kenaikan ini biasanya baru terlihat pada penyakit ginjal tahap lanjut, dan paling sering dipantau pada pasien cuci darah. Fosfat jarang menimbulkan keluhan langsung. Masalahnya datang pelan-pelan.
Apa itu CKD-MBD
Pedoman KDIGO 2017 memakai istilah CKD-MBD (chronic kidney disease mineral and bone disorder), yaitu gangguan mineral dan tulang akibat penyakit ginjal kronis. Gangguan ini mencakup tiga hal [1]:
- Kelainan hasil lab: kalsium, fosfat, dan hormon paratiroid (PTH).
- Kelainan tulang: pergantian, pengerasan, atau kepadatan tulang terganggu.
- Pengapuran (kalsifikasi) pada pembuluh darah atau katup jantung.
Menurut KDIGO, makin banyak bukti bermutu yang mengaitkan fosfat tinggi dengan risiko kematian yang lebih tinggi pada penyakit ginjal kronis stadium G3a sampai G5 dan setelah transplantasi [1]. Pedoman yang sama juga mencatat bahwa bukti dari uji klinis bahwa menurunkan fosfat memperbaiki hasil akhir masih terbatas [1].
Seberapa sering diperiksa
KDIGO 2017 menganjurkan kalsium, fosfat, PTH, dan alkali fosfatase mulai dipantau sejak stadium G3a [1]. Jadwal yang disarankan untuk kalsium dan fosfat [1]:
| Stadium penyakit ginjal kronis | Cek kalsium dan fosfat |
|---|---|
| G3a sampai G3b | Setiap 6 sampai 12 bulan |
| G4 | Setiap 3 sampai 6 bulan |
| G5, termasuk cuci darah (G5D) | Setiap 1 sampai 3 bulan |
Dokter melihat arah perubahannya dari waktu ke waktu, bukan hanya satu angka. KDIGO menyarankan keputusan menurunkan fosfat didasarkan pada fosfat yang terus naik atau menetap tinggi, dan targetnya adalah menurunkan fosfat yang tinggi ke arah rentang normal [1]. Kalsium juga ikut dijaga agar tidak terlalu tinggi. Penjelasannya ada di kalsium darah.
Fosfat tersembunyi di makanan olahan
Fosfat dari makanan ada dua jenis. Fosfat alami di kacang-kacangan dan biji-bijian sebagian terikat fitat, sehingga tidak semuanya diserap usus [2]. Fosfat anorganik dari zat tambahan makanan jauh lebih mudah diserap [2]. Zat tambahan ini dipakai pada makanan olahan, makanan awetan, daging yang diberi bahan tambahan, dan minuman ringan, dan jumlahnya sering tidak tercatat di daftar kandungan gizi [2]. Akibatnya beban fosfat dari makanan olahan lebih besar daripada yang terlihat.
KDIGO 2017 menyarankan pembatasan fosfat dari makanan pada penyakit ginjal kronis stadium G3a sampai G5D, dengan memperhatikan sumbernya: hewani, nabati, atau zat tambahan [1]. Dalam praktik, ini sering berarti mengurangi makanan olahan seperti nugget, sosis, daging olahan, keju olahan, dan minuman bersoda. Coba baca daftar komposisi pada kemasan. Bahan dengan kata “fosfat” atau “phosphate” adalah zat tambahan fosfat. Pasien cuci darah tetap butuh protein yang cukup, jadi aturan makan sebaiknya dibuat bersama dokter atau ahli gizi, bukan dengan memotong semua lauk [2]. Mengurangi garam juga membantu ginjal, lihat garam dan ginjal.
Obat pengikat fosfat dan cuci darah
Bila diet saja tidak cukup, dokter bisa meresepkan obat pengikat fosfat. Obat ini diminum bersama makan untuk mengikat fosfat di usus. Jenis dan dosisnya hanya ditentukan dokter. KDIGO menyarankan pemakaian pengikat fosfat berbahan kalsium dibatasi pada orang dewasa, dan pengikat berbahan aluminium tidak dipakai jangka panjang [1]. Pada pasien cuci darah yang fosfatnya terus tinggi, KDIGO juga menyarankan menambah pembuangan fosfat lewat dialisis [1]. Jangan membeli atau menghentikan obat pengikat fosfat sendiri.
Kalau fosfat rendah
Fosfat rendah (hipofosfatemia) lebih jarang dibahas. Tingkatnya dibagi menjadi ringan (2 sampai 2,5 mg/dL), sedang (1 sampai 1,9 mg/dL), dan berat (kurang dari 1 mg/dL) [3]. Penyebab yang sering adalah makan kembali setelah lama kurang gizi (sindrom refeeding), kecanduan alkohol, ketoasidosis diabetik, kurang gizi berat, setelah operasi, dan perawatan di ICU [3]. Ada juga kelainan bawaan yang membuat ginjal membuang fosfat terlalu banyak, yang pada orang dewasa bisa menyebabkan tulang lunak [3].
Persiapan
Ikuti petunjuk lab soal puasa, karena makan bisa memengaruhi kadar fosfat. Pada pasien cuci darah, tanyakan ke unit dialisis kapan darah sebaiknya diambil. Panduan umum membaca hasil ada di cara membaca hasil lab.
Kapan harus ke dokter?
- Fosfat terus naik pada dua atau lebih pemeriksaan berturut-turut
- Kalsium dan fosfat sama-sama tinggi pada penderita penyakit ginjal kronis
- Nyeri tulang atau patah tulang karena benturan ringan pada pasien ginjal
- Otot sangat lemas atau sesak setelah lama tidak makan atau saat mulai makan lagi
- Fosfat di bawah 1 mg/dL
Pertanyaan terkait
Kalsium darah: arti hasil tinggi dan rendahApa itu cuci darah dan kapan dibutuhkan?Penyakit ginjal kronis: pengertian, stadium, dan pemeriksaannyaBerapa banyak garam yang aman untuk ginjal?Rujukan
- Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO) CKD-MBD Update Work Group. KDIGO 2017 Clinical Practice Guideline Update for the Diagnosis, Evaluation, Prevention, and Treatment of Chronic Kidney Disease-Mineral and Bone Disorder (CKD-MBD). Kidney Int Suppl. 2017;7(1):1-59. PMID 30675420 Lihat sumber
- Kalantar-Zadeh K, Gutekunst L, Mehrotra R, et al. Understanding sources of dietary phosphorus in the treatment of patients with chronic kidney disease. Clin J Am Soc Nephrol. 2010;5(3):519-530. PMID 20093346 Lihat sumber
- Felsenfeld AJ, Levine BS. Approach to treatment of hypophosphatemia. Am J Kidney Dis. 2012;60(4):655-661. PMID 22863286 Lihat sumber
Riwayat artikel
- Diterbitkan: 7 Oktober 2026
Artikel ini disusun Tim Redaksi Ginjalpedia dari pedoman klinis dan riset yang dikutip di bawah, dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter.
Laporkan kesalahan di artikel ini