PanduanPedoman klinisGejala & diagnosis

Tes HIV di medical check-up: cara membaca hasilnya

Ringkasan

Tes HIV di medical check-up adalah tes penyaring. Hasil non-reaktif berarti tidak ditemukan infeksi, kecuali ada paparan dalam masa jendela, yang untuk tes generasi keempat sampai sekitar 44 hari. Hasil reaktif belum berarti positif dan harus dipastikan dengan tes lanjutan. Bila positif, pengobatan ARV bisa menekan virus sampai tidak terdeteksi dan tidak menular lewat seks.

  • USPSTF menganjurkan tes HIV untuk semua orang usia 15 sampai 65 tahun
  • Tes generasi keempat mencari antigen p24 dan antibodi sekaligus
  • Hasil reaktif pada satu tes belum diagnosis, perlu tes konfirmasi
  • Hasil non-reaktif belum menyingkirkan paparan dalam 44 hari terakhir
  • Viral load tidak terdeteksi karena ARV berarti tidak menular lewat seks (U=U)
Gambar: File made available by varnent through the LGBT Free Media Collective, CC BY-SA 3.0

Tes HIV makin sering masuk paket medical check-up, kadang bersama tes HBsAg untuk hepatitis B dan anti-HCV untuk hepatitis C. Tujuannya sederhana: menemukan infeksi sedini mungkin, karena pengobatan yang dimulai lebih awal sangat mengurangi risiko sakit berat dan kematian [1]. Tes ini hal biasa dalam pemeriksaan kesehatan dan tidak berarti ada yang curiga pada kamu.

Siapa yang dianjurkan tes

Gugus tugas pencegahan Amerika Serikat (USPSTF) pada 2019 menganjurkan tes HIV untuk semua remaja dan orang dewasa usia 15 sampai 65 tahun, tanpa melihat apakah merasa berisiko atau tidak [1]. Orang di luar rentang usia itu yang punya risiko lebih tinggi juga dianjurkan tes, begitu pula semua ibu hamil [1]. USPSTF menilai tes HIV yang dipakai sekarang sangat akurat [1].

Apa yang diukur tes HIV generasi keempat

Di laboratorium, tes penyaring yang umum adalah tes generasi keempat atau tes Ag/Ab. Tes ini mencari dua hal sekaligus: antigen p24, yaitu bagian dari virus itu sendiri, dan antibodi, yaitu zat kekebalan yang dibuat tubuh untuk melawan virus [2]. Karena antigen muncul lebih dulu daripada antibodi, tes Ag/Ab bisa menangkap infeksi lebih cepat dibanding tes yang hanya mencari antibodi [2]. Selain tes laboratorium, ada juga tes cepat (rapid test) dari setetes darah jari, yang hasilnya keluar dalam beberapa menit.

Membaca hasilnya

Lembar hasil biasanya memakai kata “reaktif” atau “non-reaktif”. Bandingkan juga dengan keterangan yang tercetak di lembar lab kamu sendiri, karena istilah dan metode bisa beda antar lab.

HasilArtinya
Non-reaktifTidak ditemukan tanda infeksi HIV pada saat sampel diambil, dengan catatan tidak ada kemungkinan paparan dalam masa jendela
ReaktifTes penyaring menemukan sesuatu. Ini belum diagnosis dan harus dipastikan dengan tes lanjutan [3]
Indeterminan atau meragukanHasil tidak jelas. Biasanya diulang beberapa minggu kemudian sesuai arahan petugas

Hasil reaktif belum berarti positif HIV

Menurut WHO, tidak ada satu tes pun yang cukup untuk menyatakan seseorang positif HIV [3]. Hasil reaktif pada tes pertama harus dipastikan dengan tes lain sesuai alur pemeriksaan yang ditetapkan negara, dan dikerjakan petugas yang terlatih [3]. Pedoman WHO 2019 menganjurkan diagnosis positif baru diberikan setelah tiga tes berbeda berturut-turut memberi hasil reaktif [2]. Jadi kalau hasil penyaring kamu reaktif, tunggu hasil tes konfirmasi sebelum menarik kesimpulan.

Hasil non-reaktif dan masa jendela

Masa jendela adalah jarak waktu antara masuknya virus dan saat tes mampu mendeteksinya. Dalam masa ini hasil bisa non-reaktif padahal infeksi sudah ada [3]. Untuk tes laboratorium generasi keempat, hampir semua infeksi (99 persen) sudah terdeteksi 44 hari setelah paparan [4]. Tes yang hanya mencari antibodi butuh waktu lebih lama [4]. Jadi kalau kamu punya kemungkinan paparan dalam enam minggu terakhir, hasil non-reaktif hari ini belum bisa menyingkirkan infeksi dari paparan itu. Ceritakan hal ini kepada dokter agar dijadwalkan tes ulang.

Persetujuan dan kerahasiaan

WHO menetapkan lima prinsip layanan tes HIV: persetujuan, kerahasiaan, konseling, hasil yang benar, dan sambungan ke layanan pengobatan [2]. Artinya kamu berhak tahu bahwa darahmu akan dites HIV dan berhak menolak. Hasil tes juga hanya boleh disampaikan kepada kamu. Kalau tes ini bagian dari pemeriksaan kesehatan kerja, kamu boleh bertanya ke klinik siapa saja yang akan melihat hasilnya. Tes HIV yang dipaksakan atau dilakukan diam-diam tanpa persetujuan tidak sesuai pedoman WHO [2].

Kalau hasilnya dipastikan positif

HIV sekarang adalah penyakit kronis yang bisa dikendalikan dengan obat antiretroviral (ARV) yang diminum setiap hari. Pengobatan yang dimulai lebih awal mengurangi risiko AIDS dan kematian secara bermakna [1]. Tujuan pengobatan adalah menekan jumlah virus dalam darah (viral load) sampai tidak terdeteksi.

Ada kabar penting di sini. Orang dengan HIV yang minum ARV dan viral load-nya tidak terdeteksi tidak menularkan HIV kepada pasangan seksualnya [3]. Prinsip ini dikenal sebagai U=U (undetectable = untransmittable). Penelitian PARTNER mengikuti 888 pasangan beda status HIV yang berhubungan seks tanpa kondom, dengan pasangan yang positif minum ARV dan virusnya tertekan. Tidak ada satu pun penularan di dalam pasangan [5]. Tahap lanjutannya, PARTNER2, mengikuti 782 pasangan laki-laki selama 1.593 tahun-pasangan dan juga tidak menemukan penularan di dalam pasangan [6].

Dokter akan merujuk ke layanan HIV untuk tes lanjutan seperti jumlah CD4 dan viral load. Pemeriksaan lain di medical check-up, seperti darah lengkap dan fungsi ginjal, tetap dibaca seperti biasa. Kalau kamu baru belajar membaca lembar hasil, lihat juga cara membaca hasil lab.

Persiapan

Tes HIV tidak perlu puasa. Yang perlu kamu siapkan adalah informasi untuk dokter: apakah ada kemungkinan paparan baru-baru ini, misalnya hubungan seks tanpa kondom atau berbagi jarum, karena ini menentukan perlu tidaknya tes ulang setelah masa jendela lewat.

Kapan harus ke dokter?

  • Hasil tes HIV reaktif: segera minta rujukan untuk tes konfirmasi
  • Kemungkinan paparan dalam 72 jam terakhir: segera ke IGD atau layanan HIV untuk menanyakan obat pencegahan setelah paparan (PEP)
  • Demam, ruam, nyeri tenggorokan, dan kelenjar bengkak 2 sampai 4 minggu setelah kemungkinan paparan
  • Hasil dinyatakan positif tetapi belum terhubung ke layanan pengobatan

Pertanyaan terkait

HBsAg positif: artinya dan langkah selanjutnyaAnti-HCV positif: apakah pasti hepatitis C?Medical check-up: pemeriksaan apa yang perlu sesuai usiaCara membaca hasil lab: nilai rujukan, tanda H dan L, dan satuan

Rujukan

  1. US Preventive Services Task Force; Owens DK, Davidson KW, Krist AH, et al. Screening for HIV infection: US Preventive Services Task Force recommendation statement. JAMA. 2019;321(23):2326-2336 Lihat sumber
  2. World Health Organization. Consolidated guidelines on HIV testing services, 2019. Geneva: WHO; 2019 Lihat sumber
  3. World Health Organization. HIV and AIDS: fact sheet. Geneva: WHO Lihat sumber
  4. Delaney KP, Hanson DL, Masciotra S, et al. Time until emergence of HIV test reactivity following infection with HIV-1: implications for interpreting test results and retesting after exposure. Clin Infect Dis. 2017;64(1):53-59 Lihat sumber
  5. Rodger AJ, Cambiano V, Bruun T, et al. Sexual activity without condoms and risk of HIV transmission in serodifferent couples when the HIV-positive partner is using suppressive antiretroviral therapy. JAMA. 2016;316(2):171-81 Lihat sumber
  6. Rodger AJ, Cambiano V, Bruun T, et al. Risk of HIV transmission through condomless sex in serodifferent gay couples with the HIV-positive partner taking suppressive antiretroviral therapy (PARTNER): final results of a multicentre, prospective, observational study. Lancet. 2019;393(10189):2428-2438 Lihat sumber

Riwayat artikel

  • Diterbitkan: 7 Oktober 2026

Artikel ini disusun Tim Redaksi Ginjalpedia dari pedoman klinis dan riset yang dikutip di bawah, dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter.

Laporkan kesalahan di artikel ini