Medical check-up: pemeriksaan apa yang perlu sesuai usia
Ringkasan
Untuk orang dewasa tanpa keluhan, pemeriksaan yang terbukti bermanfaat adalah tekanan darah sejak usia 18 tahun, gula darah atau HbA1c mulai usia 35 tahun, kolesterol mulai 40 tahun, serta skrining kanker usus besar, leher rahim, dan payudara sesuai usia. Penderita diabetes atau hipertensi perlu eGFR dan albumin urine. Penanda tumor rutin tidak dianjurkan.
- Tekanan darah diukur pada semua orang dewasa sejak 18 tahun
- Gula darah atau HbA1c mulai 35 tahun, lebih awal bila IMT 23 atau lebih dengan faktor risiko
- Diabetes dan hipertensi perlu eGFR plus albumin urine untuk memeriksa ginjal
- Skrining kanker usus besar mulai 45 tahun, mamografi mulai 40 tahun
- Paket check-up yang sangat lengkap tidak terbukti menurunkan angka kematian

Paket medical check-up di rumah sakit dan laboratorium sering berisi puluhan pemeriksaan. Makin mahal paketnya, makin panjang daftarnya. Padahal yang terbukti bermanfaat untuk orang tanpa keluhan jumlahnya tidak banyak, dan pilihannya ditentukan oleh usia, jenis kelamin, dan faktor risiko kamu.
Artikel ini merangkum pemeriksaan yang dianjurkan pedoman, terutama rekomendasi USPSTF (gugus tugas pencegahan Amerika Serikat yang menilai bukti skrining secara sistematis) dan pedoman organisasi profesi. Program skrining di Indonesia bisa sedikit berbeda, jadi diskusikan juga dengan dokter kamu. Saat hasil keluar, bandingkan angkanya dengan nilai rujukan di lembar lab kamu sendiri, dan baca panduan cara membaca hasil lab.
Untuk semua orang dewasa: tekanan darah
Ini pemeriksaan paling sederhana dan paling kuat buktinya. USPSTF menganjurkan semua orang dewasa usia 18 tahun ke atas diukur tekanan darahnya [1]. Pengukuran diulang setiap tahun bila kamu berusia 40 tahun ke atas atau punya risiko lebih tinggi, dan setiap 3 sampai 5 tahun bila usia 18 sampai 39 tahun dengan tekanan darah normal tanpa faktor risiko [1]. Hasil yang tinggi di klinik sebaiknya dikonfirmasi dengan pengukuran di luar klinik, misalnya di rumah, sebelum pengobatan dimulai [1]. Cara membaca angkanya ada di cara membaca tekanan darah. Hitung juga berat badan dan lingkar perut, lihat IMT dan lingkar perut.
Gula darah: mulai usia 35 tahun
USPSTF menganjurkan skrining prediabetes dan diabetes tipe 2 untuk orang dewasa usia 35 sampai 70 tahun yang kelebihan berat badan atau obesitas [2]. American Diabetes Association (ADA) lebih luas lagi: semua orang dewasa mulai diperiksa pada usia 35 tahun [3]. Orang keturunan Asia dengan indeks massa tubuh (IMT) 23 atau lebih yang punya faktor risiko lain sebaiknya diperiksa pada usia berapa pun [3]. Bila hasilnya normal, ulangi minimal setiap 3 tahun [3].
Tesnya bisa gula darah puasa atau HbA1c. Menurut ADA, diabetes ditegakkan bila gula darah puasa 126 mg/dL atau lebih, atau HbA1c 6,5% atau lebih, sedangkan prediabetes adalah gula puasa 100 sampai 125 mg/dL atau HbA1c 5,7 sampai 6,4% [3]. Penjelasan angka di zona tengah ada di prediabetes: arti hasil.
Kolesterol: untuk menilai risiko jantung
USPSTF menilai pemakaian obat statin pada usia 40 sampai 75 tahun yang punya minimal satu faktor risiko (kolesterol tinggi, diabetes, hipertensi, atau merokok) dan perkiraan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah 10 tahun sebesar 10% atau lebih [4]. Perkiraan risiko itu membutuhkan angka kolesterol, jadi profil lemak menjadi bagian penting check-up di rentang usia ini.
Ginjal: eGFR dan albumin urine bila kamu berisiko
Penyakit ginjal kronis sering tanpa gejala sampai tahap lanjut. Pedoman KDIGO 2024 menganjurkan orang yang berisiko, misalnya penderita diabetes, hipertensi, atau penyakit jantung, diperiksa dengan dua tes sekaligus: eGFR dari darah dan albumin dalam urine (UACR) [5]. Keduanya saling melengkapi, karena albumin urine bisa naik saat eGFR masih normal. Rincian tesnya ada di albumin urine (UACR). Kalau kamu punya diabetes atau darah tinggi, baca juga bagaimana diabetes merusak ginjal dan hipertensi dan ginjal.
Skrining kanker yang terbukti bermanfaat
- Kanker usus besar: usia 45 sampai 75 tahun, dengan tes darah samar feses atau kolonoskopi [6]. Pada usia 76 sampai 85 tahun keputusannya dibuat per orang [6].
- Kanker leher rahim: perempuan 21 sampai 29 tahun, pemeriksaan sitologi (Pap smear) setiap 3 tahun. Usia 30 sampai 65 tahun bisa memilih sitologi setiap 3 tahun, tes HPV risiko tinggi setiap 5 tahun, atau keduanya setiap 5 tahun [7].
- Kanker payudara: mamografi setiap 2 tahun untuk perempuan 40 sampai 74 tahun [8].
- Kanker paru: CT scan dosis rendah setiap tahun untuk usia 50 sampai 80 tahun yang merokok minimal 20 bungkus-tahun dan masih merokok atau berhenti kurang dari 15 tahun lalu [9].
- Kanker prostat: tes PSA pada laki-laki 55 sampai 69 tahun adalah keputusan pribadi setelah berdiskusi dengan dokter tentang manfaat dan risikonya, dan tidak dianjurkan rutin pada usia 70 tahun ke atas [10]. Lihat PSA: arti hasil.
Ringkasan per usia
| Usia | Yang umumnya dianjurkan |
|---|---|
| 18 sampai 39 tahun | Tekanan darah [1]; Pap smear mulai 21 tahun untuk perempuan [7]; gula darah bila IMT 23 atau lebih dengan faktor risiko [3] |
| 35 sampai 44 tahun | Ditambah gula darah atau HbA1c [2][3]; mamografi mulai 40 tahun untuk perempuan [8]; profil lemak mulai 40 tahun [4] |
| 45 sampai 75 tahun | Ditambah skrining kanker usus besar [6]; CT paru dosis rendah mulai 50 tahun bila riwayat rokok berat [9] |
| Diabetes, hipertensi, atau penyakit jantung | eGFR dan albumin urine [5] |
Paket lengkap belum tentu lebih baik
Banyak paket memasukkan pemeriksaan yang tidak dianjurkan untuk orang tanpa keluhan, misalnya berbagai penanda tumor. Contohnya, USPSTF menyarankan tidak melakukan skrining kanker ovarium pada perempuan tanpa gejala, karena tidak menurunkan angka kematian dan hasil positif palsunya bisa berujung operasi yang tidak perlu [11]. Tinjauan Cochrane terhadap 17 uji acak juga menemukan bahwa pemeriksaan kesehatan umum yang mencakup banyak tes sekaligus hampir tidak berpengaruh pada angka kematian total, kematian karena kanker, maupun kematian karena penyakit jantung [12].
Makin banyak tes, makin besar peluang ada angka yang sedikit di luar rentang rujukan walaupun kamu sehat. Angka seperti itu sering memicu tes lanjutan, biaya, dan kecemasan. Pilih pemeriksaan sesuai usia dan risiko, dan bawa hasil check-up sebelumnya supaya dokter bisa membandingkan. Persiapan sebelum ambil darah ada di puasa sebelum cek darah.
Kapan harus ke dokter?
- Tekanan darah 180/120 mmHg atau lebih, apalagi disertai sakit kepala hebat, nyeri dada, atau sesak
- Gula darah puasa 126 mg/dL atau lebih, atau HbA1c 6,5% atau lebih pada hasil check-up
- eGFR di bawah 60 atau albumin urine positif pada dua pemeriksaan
- BAB berdarah, benjolan di payudara, atau berat badan turun tanpa sebab, jangan menunggu jadwal check-up
Pertanyaan terkait
Cara membaca hasil lab: nilai rujukan, tanda H dan L, dan satuanTekanan darah: cara membaca angka atas dan bawahAlbumin urine (UACR): tanda awal ginjal bocorHbA1c: arti angka dan target untuk penderita diabetesRujukan
- US Preventive Services Task Force; Krist AH, Davidson KW, Mangione CM, et al. Screening for hypertension in adults: US Preventive Services Task Force reaffirmation recommendation statement. JAMA. 2021;325(16):1650-1656 Lihat sumber
- US Preventive Services Task Force; Davidson KW, Barry MJ, Mangione CM, et al. Screening for prediabetes and type 2 diabetes: US Preventive Services Task Force recommendation statement. JAMA. 2021;326(8):736-743 Lihat sumber
- American Diabetes Association Professional Practice Committee. 2. Diagnosis and classification of diabetes: Standards of Care in Diabetes-2026. Diabetes Care. 2026;49(Suppl 1):S27-S49 Lihat sumber
- US Preventive Services Task Force; Mangione CM, Barry MJ, Nicholson WK, et al. Statin use for the primary prevention of cardiovascular disease in adults: US Preventive Services Task Force recommendation statement. JAMA. 2022;328(8):746-753 Lihat sumber
- Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO) CKD Work Group. KDIGO 2024 clinical practice guideline for the evaluation and management of chronic kidney disease. Kidney Int. 2024;105(4S):S117-S314 Lihat sumber
- US Preventive Services Task Force; Davidson KW, Barry MJ, Mangione CM, et al. Screening for colorectal cancer: US Preventive Services Task Force recommendation statement. JAMA. 2021;325(19):1965-1977 Lihat sumber
- US Preventive Services Task Force; Curry SJ, Krist AH, Owens DK, et al. Screening for cervical cancer: US Preventive Services Task Force recommendation statement. JAMA. 2018;320(7):674-686 Lihat sumber
- US Preventive Services Task Force; Nicholson WK, Silverstein M, Wong JB, et al. Screening for breast cancer: US Preventive Services Task Force recommendation statement. JAMA. 2024;331(22):1918-1930 Lihat sumber
- US Preventive Services Task Force; Krist AH, Davidson KW, Mangione CM, et al. Screening for lung cancer: US Preventive Services Task Force recommendation statement. JAMA. 2021;325(10):962-970 Lihat sumber
- US Preventive Services Task Force; Grossman DC, Curry SJ, Owens DK, et al. Screening for prostate cancer: US Preventive Services Task Force recommendation statement. JAMA. 2018;319(18):1901-1913 Lihat sumber
- US Preventive Services Task Force; Grossman DC, Curry SJ, Owens DK, et al. Screening for ovarian cancer: US Preventive Services Task Force recommendation statement. JAMA. 2018;319(6):588-594 Lihat sumber
- Krogsbøll LT, Jørgensen KJ, Gøtzsche PC. General health checks in adults for reducing morbidity and mortality from disease. Cochrane Database Syst Rev. 2019;1(1):CD009009 Lihat sumber
Riwayat artikel
- Diterbitkan: 7 Oktober 2026
Artikel ini disusun Tim Redaksi Ginjalpedia dari pedoman klinis dan riset yang dikutip di bawah, dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter.
Laporkan kesalahan di artikel ini