Perlemakan hati: apa yang terlihat di hasil lab dan USG
Ringkasan
Perlemakan hati kini disebut MASLD: lemak di hati ditambah minimal satu faktor risiko kardiometabolik. SGPT bisa naik, tetapi sering normal, jadi SGPT normal tidak menyingkirkannya. USG mendeteksi perlemakan sedang sampai berat, tetapi tidak menilai jaringan parut. Untuk itu dokter memakai FIB-4: di bawah 1,3 risiko rendah, di atas 2,67 risiko tinggi.
- MASLD: perlemakan hati plus minimal 1 dari 5 faktor risiko kardiometabolik
- SGPT sering normal, dan menurut AASLD ALT di atas 30 U/L umumnya dianggap tidak normal
- USG peka untuk perlemakan sedang sampai berat, kurang peka untuk yang ringan
- FIB-4 dihitung dari usia, AST, ALT, dan trombosit
- FIB-4 di bawah 1,3 risiko rendah, 1,3 sampai 2,67 sedang, di atas 2,67 tinggi

Perlemakan hati adalah keadaan ketika lemak menumpuk berlebihan di sel hati. Temuan ini sangat sering muncul di hasil USG perut saat medical check-up, kadang bersama SGPT yang sedikit naik, kadang dengan hasil lab yang normal sama sekali. Artikel ini menjelaskan nama barunya, apa yang bisa dan tidak bisa dilihat dari lab dan USG, serta cara dokter menilai risiko jaringan parut di hati.
Nama baru: MASLD
Dulu keadaan ini disebut NAFLD (perlemakan hati non-alkohol). Sejak 2023, tiga perhimpunan hati internasional sepakat memakai nama MASLD, singkatan dari metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease. Diagnosisnya ditegakkan bila ada perlemakan hati ditambah minimal 1 dari 5 faktor risiko kardiometabolik [1]:
- Berat badan berlebih: IMT 25 atau lebih (23 atau lebih pada orang Asia), atau lingkar perut di atas batas untuk suku bangsanya. Cara mengukurnya ada di IMT dan lingkar perut.
- Gula darah: gula darah puasa 100 mg/dL atau lebih, gula 2 jam setelah beban glukosa 140 mg/dL atau lebih, HbA1c 5,7% atau lebih, diabetes tipe 2, atau sedang diobati.
- Tekanan darah 130/85 mmHg atau lebih, atau sedang diobati.
- Trigliserida 150 mg/dL atau lebih, atau sedang diobati.
- HDL 40 mg/dL atau kurang pada laki-laki dan 50 mg/dL atau kurang pada perempuan, atau sedang diobati.
Kalau seseorang dengan MASLD juga minum alkohol cukup banyak, yaitu 140 sampai 350 gram per minggu pada perempuan atau 210 sampai 420 gram per minggu pada laki-laki, kategorinya menjadi MetALD [1].
Apa yang terlihat di hasil lab
Tidak ada satu tes darah yang bisa memastikan perlemakan hati. Yang sering terlihat adalah SGPT (ALT) yang naik ringan. Tetapi pedoman AASLD menekankan bahwa ALT sering normal, bahkan pada orang yang hatinya sudah mengalami jaringan parut lanjut, jadi ALT normal tidak bisa dipakai untuk menyingkirkan penyakit ini [2]. Pedoman yang sama menyebut batas atas ALT di banyak lab terlalu tinggi, dan sebagai patokan umum ALT di atas 30 U/L sebaiknya dianggap tidak normal [2]. Bandingkan tetap dengan nilai rujukan di lembar hasil lab kamu, dan bahas dengan dokter bila angkanya berada di antara keduanya.
Saat menilai perlemakan hati, dokter biasanya meminta pemeriksaan pendukung: tes hati lengkap, darah lengkap dengan trombosit, gula darah puasa dan HbA1c, profil lemak, kreatinin, albumin urine, dan tes hepatitis C bila belum pernah [2]. Penjelasan dasar SGOT dan SGPT ada di SGOT dan SGPT: arti hasil tes fungsi hati.
Apa yang terlihat di USG
Pada USG, hati yang berlemak tampak lebih terang (dokter menyebutnya hiperekoik) dibanding normal. Sebuah meta-analisis menemukan USG cukup akurat untuk mendeteksi perlemakan sedang sampai berat, dengan sensitivitas sekitar 85% dan spesifisitas sekitar 94% dibanding biopsi [3].
Kelemahannya, USG biasa kurang peka untuk perlemakan ringan, apalagi pada orang dengan obesitas [2]. USG juga tidak bisa menilai seberapa banyak jaringan parut (fibrosis) di hati. Hasil USG tanpa perlemakan tidak menyingkirkan peradangan atau fibrosis [2]. Sebaliknya, laporan “fatty liver” di USG belum menjelaskan apakah hatimu berisiko rusak lebih jauh. Untuk itu dokter memakai skor FIB-4.
FIB-4: menilai risiko jaringan parut
FIB-4 dihitung dari empat angka yang biasanya sudah ada di hasil lab: usia, SGOT (AST), SGPT (ALT), dan trombosit [4]:
FIB-4 = (usia dalam tahun × AST) ÷ (trombosit dalam 109/L × akar kuadrat ALT)
Trombosit dalam 109/L sama dengan angka “ribu per mikroliter” di lembar lab. Contoh: usia 50 tahun, AST 40 U/L, ALT 50 U/L, trombosit 250.000/µL (dimasukkan sebagai 250). Hasilnya 50 × 40 = 2000, dibagi 250 × 7,07 (akar dari 50) = 1768. FIB-4 sekitar 1,13.
Pedoman AASLD memakai batas berikut [2]:
| FIB-4 | Risiko fibrosis lanjut |
|---|---|
| di bawah 1,3 | Rendah |
| 1,3 sampai 2,67 | Sedang, perlu pemeriksaan lanjutan |
| di atas 2,67 | Tinggi |
Ada beberapa catatan dari pedoman yang sama [2]. Pada usia di atas 65 tahun, batas yang dipakai adalah 2,0. FIB-4 kurang akurat pada usia di bawah 35 tahun, dan tidak boleh dipakai saat seseorang sedang sakit akut. Kalau FIB-4 di rentang sedang atau tinggi, langkah berikutnya biasanya pemeriksaan kekakuan hati (elastografi, misalnya FibroScan). Kekakuan di bawah 8 kPa membantu menyingkirkan fibrosis lanjut, sedangkan di atas 12 kPa menunjukkan kemungkinan fibrosis lanjut yang tinggi [2].
Langkah berikutnya
Bila FIB-4 rendah, pemeriksaan bisa diulang secara berkala. AASLD menyarankan setiap 2 sampai 3 tahun bagi orang tanpa prediabetes atau diabetes dengan 1 sampai 2 faktor risiko, dan setiap 1 sampai 2 tahun bagi orang dengan prediabetes, diabetes, atau 2 faktor risiko atau lebih [2]. Faktor risiko yang sama, seperti gula darah, profil lemak, dan tekanan darah, juga memengaruhi jantung dan ginjal, jadi ketiganya sebaiknya dipantau bersama dokter.
Kapan harus ke dokter?
- FIB-4 di atas 2,67, atau di atas 2,0 bila usia lebih dari 65 tahun
- SGOT atau SGPT tetap tinggi lebih dari 6 bulan
- Mata atau kulit menguning, perut membesar karena cairan, atau kaki bengkak
- Muntah darah, BAB hitam, atau bingung dan mengantuk berat: segera ke IGD
- USG menyebut hati mengecil, permukaan tidak rata, atau limpa membesar
Pertanyaan terkait
SGPT tinggi: penyebab tersering dan langkah selanjutnyaIMT dan lingkar perut: cara menghitung dan batas untuk orang AsiaUSG perut: apa yang dilihat dan arti hasilnyaSGOT dan SGPT: arti hasil tes fungsi hatiRujukan
- Rinella ME, Lazarus JV, Ratziu V, et al. A multisociety Delphi consensus statement on new fatty liver disease nomenclature. J Hepatol. 2023;79(6):1542-1556 Lihat sumber
- Rinella ME, Neuschwander-Tetri BA, Siddiqui MS, et al. AASLD Practice Guidance on the clinical assessment and management of nonalcoholic fatty liver disease. Hepatology. 2023;77(5):1797-1835 Lihat sumber
- Hernaez R, Lazo M, Bonekamp S, et al. Diagnostic accuracy and reliability of ultrasonography for the detection of fatty liver: a meta-analysis. Hepatology. 2011;54(3):1082-1090 Lihat sumber
- Sterling RK, Lissen E, Clumeck N, et al. Development of a simple noninvasive index to predict significant fibrosis in patients with HIV/HCV coinfection. Hepatology. 2006;43(6):1317-1325 Lihat sumber
Riwayat artikel
- Diterbitkan: 7 Oktober 2026
Artikel ini disusun Tim Redaksi Ginjalpedia dari pedoman klinis dan riset yang dikutip di bawah, dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter.
Laporkan kesalahan di artikel ini