Vitamin D: perlu dicek saat medical check-up?
Ringkasan
Untuk orang dewasa sehat tanpa keluhan, pedoman Endocrine Society 2024 tidak menyarankan tes vitamin D (25(OH)D) secara rutin, karena belum ada bukti bahwa skrining memberi manfaat. Tes tetap berguna untuk orang berisiko, misalnya penyakit ginjal kronis, osteoporosis, gangguan penyerapan usus, atau pemakaian obat tertentu. Batas kurang berbeda antar lembaga, umumnya di bawah 20 ng/mL (50 nmol/L).
- Yang diukur adalah 25(OH)D, bentuk vitamin D yang beredar di darah
- Pedoman 2024 tidak menyarankan tes rutin pada orang sehat
- IOM menganggap 20 ng/mL (50 nmol/L) sudah cukup untuk hampir semua orang
- Bagi nmol/L dengan sekitar 2,5 untuk mendapat ng/mL
- Penyakit ginjal kronis, penyakit tulang, dan gangguan penyerapan usus adalah alasan wajar untuk tes

Tes vitamin D makin sering ditawarkan sebagai tambahan paket medical check-up. Pertanyaannya, apakah orang sehat tanpa keluhan memang perlu memeriksanya? Pedoman terbaru Endocrine Society tahun 2024 menjawab: untuk kebanyakan orang, tidak perlu [1]. Artikel ini menjelaskan alasannya, siapa yang tetap perlu diperiksa, dan cara membaca angkanya bila kamu sudah terlanjur tes.
Apa yang diukur
Yang diukur di lab adalah 25-hidroksivitamin D, disingkat 25(OH)D. Ini bentuk vitamin D yang beredar di darah setelah vitamin D dari sinar matahari, makanan, atau suplemen diolah di hati. Kadarnya dipakai untuk menilai cadangan vitamin D di tubuh [4]. Vitamin D berperan menjaga penyerapan kalsium dan kesehatan tulang. Hubungannya dengan kesehatan tulang sudah jelas, sedangkan untuk penyakit lain seperti kanker, penyakit jantung, dan diabetes, buktinya belum konsisten [3].
Satuan: ng/mL atau nmol/L
Hasil 25(OH)D dilaporkan dalam dua satuan. Untuk mengubah nmol/L menjadi ng/mL, bagi dengan sekitar 2,5 (tepatnya 2,496) [4]. Jadi 50 nmol/L sama dengan sekitar 20 ng/mL. Periksa satuan di lembar lab kamu sebelum membandingkan dengan angka di artikel mana pun.
| ng/mL | nmol/L | Arti menurut sumber |
|---|---|---|
| Di bawah 20 | Di bawah 50 | Disebut kurang (defisiensi) menurut Endocrine Society 2011 [4] |
| 20 atau lebih | 50 atau lebih | Cukup untuk kebutuhan tulang pada sedikitnya 97,5% orang menurut IOM [3] |
| 21 sampai 29 | sekitar 52 sampai 72 | Disebut “insufisiensi” oleh Endocrine Society 2011, tetapi dianggap cukup oleh IOM [3][4] |
| Di atas 50 | Di atas 125 | Perlu diwaspadai kemungkinan efek samping menurut IOM [3] |
Kenapa batas “kurang” berbeda-beda
Dua lembaga besar memakai batas yang berbeda. Institute of Medicine (IOM) Amerika Serikat pada 2011 menyimpulkan bahwa kadar 20 ng/mL sudah memenuhi kebutuhan hampir semua orang, dan kadar di atas 30 ng/mL tidak terbukti konsisten memberi manfaat tambahan [3]. Menurut IOM, jumlah orang yang dianggap kurang vitamin D selama ini dibesar-besarkan karena sebagian pihak memakai batas yang terlalu tinggi [3]. Pedoman Endocrine Society 2011 memakai batas yang lebih tinggi, sehingga lebih banyak orang tergolong kurang [4].
Pedoman Endocrine Society yang baru (2024) tidak lagi menetapkan target kadar. Panel menyatakan tidak ada bukti jelas tentang kadar 25(OH)D yang optimal untuk mencegah penyakit [1]. Akibatnya, lembar lab yang berbeda bisa mencetak rentang rujukan yang berbeda. Karena itu, bandingkan hasilmu dengan rentang di lembar lab kamu sendiri, lalu diskusikan dengan dokter. Penjelasan umum soal ini ada di kenapa nilai normal beda antar lab.
Kenapa tidak dianjurkan untuk semua orang
Pedoman Endocrine Society 2024 menyarankan agar 25(OH)D tidak diperiksa secara rutin pada orang sehat, termasuk pada orang dengan obesitas atau berkulit gelap [1]. Alasannya, tinjauan sistematis yang mendasari pedoman ini tidak menemukan satu pun uji klinis yang menilai manfaat atau kerugian skrining vitamin D [2]. Artinya, belum ada bukti bahwa mengecek lalu mengoreksi angka vitamin D pada orang sehat membuat mereka lebih sehat.
Pedoman yang sama justru menyarankan suplemen vitamin D tanpa perlu tes lebih dulu untuk beberapa kelompok: anak dan remaja usia 1 sampai 18 tahun, orang berusia 75 tahun ke atas, ibu hamil, dan orang dengan prediabetes berisiko tinggi [1]. Untuk orang dewasa sehat di bawah 75 tahun, panel tidak menyarankan suplemen di atas angka kecukupan harian yang berlaku [1]. Soal dosis, tanyakan ke dokter, karena dosis dalam penelitian sangat bervariasi [1].
Siapa yang tetap perlu diperiksa
Rekomendasi 2024 tidak berlaku untuk orang yang punya alasan medis jelas untuk diperiksa [1]. Pedoman 2011 menyebut beberapa kelompok berisiko yang wajar dites [4]:
- Orang dengan penyakit tulang seperti osteoporosis, osteomalasia (tulang lunak), atau rakitis pada anak.
- Orang dengan penyakit ginjal kronis atau gagal hati.
- Orang dengan gangguan penyerapan usus, misalnya penyakit radang usus atau setelah operasi bariatrik.
- Orang yang minum obat tertentu dalam jangka panjang, seperti obat antikejang, kortikosteroid, sebagian obat HIV, dan obat antijamur.
- Orang lanjut usia yang pernah jatuh atau patah tulang tanpa benturan berat.
- Orang dengan penyakit granuloma seperti sarkoidosis atau tuberkulosis, serta sebagian limfoma.
Untuk pasien penyakit ginjal kronis stadium 3a sampai 5, termasuk yang cuci darah, pedoman KDIGO menyarankan 25(OH)D dapat diperiksa, dengan jadwal ulang disesuaikan hasil awal dan pengobatan [5]. Pada kelompok ini dokter biasanya membacanya bersama kalsium darah, fosfat darah, dan hormon paratiroid.
Persiapan dan kalau sudah terlanjur tes
Tes 25(OH)D tidak memerlukan puasa, kecuali diambil bersamaan dengan tes lain yang memerlukannya. Lihat puasa sebelum cek darah. Bila kamu minum suplemen vitamin D, sampaikan dosisnya ke dokter, karena suplemen jelas memengaruhi angka. Daftar suplemen lain yang bisa mengubah hasil ada di obat dan suplemen yang mengubah hasil lab.
Kalau hasilmu sedikit di bawah rentang dan kamu tidak punya keluhan atau faktor risiko di atas, angka itu belum tentu berarti sakit. Hindari minum vitamin D dosis tinggi atas inisiatif sendiri. IOM mengingatkan kadar yang terlalu tinggi juga membawa risiko [3]. Bawa hasilnya ke dokter untuk diputuskan perlu tidaknya suplemen dan tes ulang.
Kapan harus ke dokter?
- Nyeri tulang, otot terasa lemah, atau sulit berdiri dari duduk
- Patah tulang akibat jatuh ringan
- Kesemutan di sekitar mulut, kram otot, atau kejang
- Mual, sangat haus, dan sering buang air kecil saat minum vitamin D dosis tinggi
- Punya penyakit ginjal kronis, gangguan penyerapan usus, atau rutin minum obat antikejang atau kortikosteroid
Pertanyaan terkait
Kalsium darah: arti hasil tinggi dan rendahFosfat darah: kenapa penting untuk penyakit ginjalMedical check-up: pemeriksaan apa yang perlu sesuai usiaObat dan suplemen yang bisa mengubah hasil labRujukan
- Demay MB, Pittas AG, Bikle DD, et al. Vitamin D for the prevention of disease: an Endocrine Society clinical practice guideline. J Clin Endocrinol Metab. 2024;109(8):1907-1947 Lihat sumber
- Shah VP, Nayfeh T, Alsawaf Y, et al. A systematic review supporting the Endocrine Society clinical practice guidelines on vitamin D. J Clin Endocrinol Metab. 2024;109(8):1961-1974 Lihat sumber
- Ross AC, Manson JE, Abrams SA, et al. The 2011 report on dietary reference intakes for calcium and vitamin D from the Institute of Medicine: what clinicians need to know. J Clin Endocrinol Metab. 2011;96(1):53-58 Lihat sumber
- Holick MF, Binkley NC, Bischoff-Ferrari HA, et al. Evaluation, treatment, and prevention of vitamin D deficiency: an Endocrine Society clinical practice guideline. J Clin Endocrinol Metab. 2011;96(7):1911-1930 Lihat sumber
- Ketteler M, Block GA, Evenepoel P, et al. Executive summary of the 2017 KDIGO Chronic Kidney Disease-Mineral and Bone Disorder (CKD-MBD) guideline update: what's changed and why it matters. Kidney Int. 2017;92(1):26-36 Lihat sumber
Riwayat artikel
- Diterbitkan: 7 Oktober 2026
Artikel ini disusun Tim Redaksi Ginjalpedia dari pedoman klinis dan riset yang dikutip di bawah, dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter.
Laporkan kesalahan di artikel ini