PanduanPedoman klinisGejala & diagnosis

Tiroid subklinis: hasil tidak normal tanpa gejala

Ringkasan

Tiroid subklinis berarti TSH tidak normal sementara FT4 dan T3 masih normal. TSH tinggi disebut hipotiroid subklinis, TSH rendah disebut hipertiroid subklinis. Langkah pertama adalah tes ulang setelah 2 sampai 3 bulan. Banyak orang cukup dipantau. Obat lebih sering dipertimbangkan bila TSH 10 mIU/L atau lebih, saat hamil, atau bila TSH di bawah 0,1 mIU/L.

  • Hipotiroid subklinis: TSH tinggi, FT4 normal; dialami sampai 10% orang dewasa
  • Ulang TSH dan FT4 bersama anti-TPO setelah 2 sampai 3 bulan
  • Uji TRUST: obat tidak memperbaiki keluhan pada orang 65 tahun ke atas
  • TSH 10 mIU/L atau lebih dan kehamilan lebih sering diobati
  • Hipertiroid subklinis menaikkan risiko fibrilasi atrium dan patah tulang, terutama bila TSH di bawah 0,1
Gambar: Nevit Dilmen, CC BY-SA 3.0

Kadang hasil TSH di medical check-up keluar dengan tanda bintang, padahal kamu merasa sehat dan FT4 normal. Keadaan ini disebut gangguan tiroid subklinis: angka TSH sudah di luar rentang, tetapi hormon tiroidnya sendiri (FT4, dan T3) masih normal. Ada dua jenis, tergantung arah TSH.

  • Hipotiroid subklinis: TSH tinggi, FT4 normal [1].
  • Hipertiroid subklinis: TSH rendah, FT4 dan T3 normal [6].

Cara membaca FT4 dan T3 ada di FT4 dan T3: arti hasil hormon tiroid. Seperti biasa, bandingkan angkamu dengan rentang di lembar lab sendiri.

Hipotiroid subklinis

Hipotiroid subklinis cukup sering, dialami sampai 10% orang dewasa [1]. Penyebab tersering adalah radang tiroid autoimun (tiroiditis Hashimoto) [1]. Orang yang punya antibodi anti-TPO (antibodi terhadap tiroid) lebih berisiko berlanjut menjadi hipotiroid yang nyata [1].

TSH juga naik dengan sendirinya seiring usia. Pada orang lanjut usia yang tiroidnya sehat, TSH bisa melewati batas atas tradisional 4 sampai 5 mIU/L [1]. Karena itu pedoman Eropa (ETA) menyarankan rentang TSH sesuai usia untuk orang tua [2]. Pedoman yang sama membagi hipotiroid subklinis menjadi dua kelompok: TSH naik ringan (4,0 sampai 10,0 mIU/L) dan TSH di atas 10 mIU/L [2].

Langkah pertama: ulang tesnya

Satu hasil TSH tinggi belum cukup untuk diagnosis. TSH bisa naik sementara, misalnya saat pemulihan dari sakit berat. Pedoman ETA menyarankan TSH dan FT4 diulang, bersama pemeriksaan antibodi anti-TPO, sebaiknya setelah jeda 2 sampai 3 bulan [2]. Banyak orang yang hasil ulangnya kembali normal. Baca juga hasil lab sedikit di luar normal.

Perlu obat atau tidak?

Ini masih diperdebatkan. Kebanyakan orang dengan hipotiroid subklinis cukup dipantau tanpa obat [1]. Keputusan untuk mengobati bila TSH di bawah 10 mIU/L disesuaikan dengan keadaan masing-masing orang [3].

Bukti terkuat datang dari uji klinis TRUST yang dimuat di New England Journal of Medicine tahun 2017. Sebanyak 737 orang berusia 65 tahun ke atas dengan hipotiroid subklinis menetap (TSH 4,60 sampai 19,99 mIU/L) diberi levotiroksin (hormon tiroid sintetis) atau plasebo [4]. Rata-rata usia peserta 74 tahun dan rata-rata TSH 6,4 mIU/L [4]. Setelah satu tahun, keluhan khas hipotiroid dan rasa lelah tidak berbeda antara kedua kelompok [4]. Ulasan di JAMA tahun 2019 menyimpulkan belum ada bukti bahwa obat bermanfaat bagi orang berusia 65 tahun atau lebih [1].

Pengobatan lebih sering dipertimbangkan pada dua keadaan [1][2]:

  • TSH 10 mIU/L atau lebih. Pedoman ETA menganjurkan terapi pada orang yang lebih muda (di bawah sekitar 65 sampai 70 tahun) dengan TSH di atas 10 mIU/L, walaupun tanpa gejala [2].
  • Orang usia muda atau paruh baya dengan TSH di bawah 10 mIU/L yang punya keluhan mirip hipotiroid. Di sini ETA menyarankan percobaan terapi. Bila keluhan tidak membaik setelah 3 sampai 4 bulan dengan TSH yang sudah normal, obat umumnya dihentikan [2].

Untuk orang berusia di atas 80 sampai 85 tahun dengan TSH sampai 10 mIU/L, ETA menyarankan cukup dipantau dan umumnya tidak diberi obat [2].

Kalau kamu hamil atau merencanakan hamil

Aturannya berbeda. Saat hamil TSH dinilai dengan rentang khusus kehamilan, dan bila lab tidak punya rentang itu, batas atas sekitar 4,0 mIU/L dapat dipakai [5]. Dokter juga menimbang hasil antibodi anti-TPO saat memutuskan perlu tidaknya obat [5]. Jadi ibu hamil dengan TSH tinggi sebaiknya segera berkonsultasi, jangan menunggu jadwal check-up berikutnya.

Hipertiroid subklinis

Hipertiroid subklinis lebih jarang, sekitar 0,7% sampai 1,4% orang [6]. Walaupun tanpa keluhan, kondisi ini punya dua risiko yang perlu diperhatikan.

  • Jantung. Analisis gabungan 10 studi kohort dengan lebih dari 52.000 peserta menemukan risiko fibrilasi atrium (irama jantung tidak teratur) sekitar 1,7 kali lebih tinggi pada hipertiroid subklinis [7]. Risikonya paling tinggi bila TSH di bawah 0,1 mIU/L [7]. Gangguan irama ini bisa terlihat di EKG.
  • Tulang. Analisis 13 studi kohort dengan lebih dari 70.000 peserta menemukan risiko patah tulang panggul sekitar 1,4 kali lebih tinggi, dan makin tinggi bila TSH di bawah 0,1 mIU/L [8].

Karena itu, pengobatan hipertiroid subklinis dianjurkan terutama untuk orang dengan risiko tertinggi, yaitu usia di atas 65 tahun atau TSH yang menetap di bawah 0,1 mIU/L [6]. Pada orang yang sudah minum obat hormon tiroid, TSH rendah bisa berarti dosisnya perlu dievaluasi. Jangan mengubah dosis sendiri.

Yang bisa kamu lakukan

Bawa hasil lengkap (TSH, FT4, dan bila ada, T3 dan anti-TPO) ke dokter. Sampaikan bila kamu minum suplemen biotin, obat jantung amiodaron, atau sedang hamil, karena semuanya memengaruhi cara hasil dibaca. Tes ulang biasanya tidak perlu puasa. Untuk jadwal pemeriksaan sesuai usia, lihat medical check-up sesuai usia.

Kapan harus ke dokter?

  • Jantung berdebar tidak teratur, pusing, atau sesak napas
  • TSH 10 mIU/L atau lebih, atau TSH di bawah 0,1 mIU/L
  • Hamil atau merencanakan hamil dengan TSH di luar rentang
  • Keluhan berat seperti sangat lemas, bengkak di wajah, berat badan turun cepat, atau gemetar
  • Benjolan di leher yang membesar atau sulit menelan

Pertanyaan terkait

TSH: arti hasil tinggi dan rendahFT4 dan T3: arti hasil hormon tiroidHasil lab sedikit di luar normal, perlu khawatir?EKG: arti hasil rekam jantung di medical check-up

Rujukan

  1. Biondi B, Cappola AR, Cooper DS. Subclinical hypothyroidism: a review. JAMA. 2019;322(2):153-160 Lihat sumber
  2. Pearce SHS, Brabant G, Duntas LH, et al. 2013 ETA guideline: management of subclinical hypothyroidism. Eur Thyroid J. 2013;2(4):215-228 Lihat sumber
  3. Garber JR, Cobin RH, Gharib H, et al. Clinical practice guidelines for hypothyroidism in adults: cosponsored by the American Association of Clinical Endocrinologists and the American Thyroid Association. Thyroid. 2012;22(12):1200-1235 Lihat sumber
  4. Stott DJ, Rodondi N, Kearney PM, et al. Thyroid hormone therapy for older adults with subclinical hypothyroidism. N Engl J Med. 2017;376(26):2534-2544 Lihat sumber
  5. Alexander EK, Pearce EN, Brent GA, et al. 2017 Guidelines of the American Thyroid Association for the diagnosis and management of thyroid disease during pregnancy and the postpartum. Thyroid. 2017;27(3):315-389 Lihat sumber
  6. Lee SY, Pearce EN. Hyperthyroidism: a review. JAMA. 2023;330(15):1472-1483 Lihat sumber
  7. Collet TH, Gussekloo J, Bauer DC, et al. Subclinical hyperthyroidism and the risk of coronary heart disease and mortality. Arch Intern Med. 2012;172(10):799-809 Lihat sumber
  8. Blum MR, Bauer DC, Collet TH, et al. Subclinical thyroid dysfunction and fracture risk: a meta-analysis. JAMA. 2015;313(20):2055-2065 Lihat sumber

Riwayat artikel

  • Diterbitkan: 7 Oktober 2026

Artikel ini disusun Tim Redaksi Ginjalpedia dari pedoman klinis dan riset yang dikutip di bawah, dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter.

Laporkan kesalahan di artikel ini