PanduanPedoman klinisDasar

Cystatin C: kapan perlu diperiksa selain kreatinin

Ringkasan

Cystatin C adalah protein yang disaring ginjal, mirip kreatinin tetapi jauh lebih sedikit dipengaruhi jumlah otot. KDIGO 2024 menyarankan memeriksanya ketika eGFR dari kreatinin diduga kurang tepat, misalnya pada orang sangat berotot atau sangat kurus, amputasi, vegetarian, atau sirosis. Hasilnya digabung dengan kreatinin dalam rumus CKD-EPI 2021 (eGFRcr-cys) yang lebih akurat.

  • Cystatin C dibuat hampir semua sel tubuh dan sedikit dipengaruhi massa otot
  • Dipakai saat kreatinin diduga menyesatkan: otot sangat besar atau kecil, amputasi, vegetarian, sirosis
  • Rumus gabungan kreatinin dan cystatin C (eGFRcr-cys) lebih akurat
  • Kelainan tiroid, steroid, dan peradangan bisa mengubah cystatin C
  • Tidak perlu puasa, tetapi belum tersedia di semua lab
Gambar struktur tiga dimensi protein cystatin C dalam bentuk pita berwarna
Gambar: Fvasconcellos, Public domain

Cystatin C adalah protein kecil yang dibuat terus-menerus oleh hampir semua sel tubuh, lalu disaring keluar dari darah oleh ginjal [3]. Bila fungsi penyaringan ginjal turun, cystatin C menumpuk di darah. Prinsipnya sama dengan kreatinin, tetapi ada satu perbedaan penting: kreatinin berasal dari otot, sedangkan cystatin C jauh lebih sedikit dipengaruhi jumlah otot [3]. Karena itu cystatin C dipakai ketika angka kreatinin diduga tidak mencerminkan fungsi ginjal yang sebenarnya.

Dari angka cystatin C menjadi eGFR

Seperti kreatinin, angka cystatin C jarang dibaca sendirian. Angka itu dimasukkan ke rumus untuk menghitung eGFR, perkiraan berapa mililiter darah yang disaring ginjal per menit. Pedoman KDIGO 2024 memakai rumus keluarga CKD-EPI, dengan tiga versi menurut bahan yang diukur [1]:

VersiBahan hitungan
eGFRcrKreatinin, usia, jenis kelamin [2]
eGFRcysCystatin C, usia, jenis kelamin [1]
eGFRcr-cysKreatinin dan cystatin C bersama, usia, jenis kelamin [2]

Versi kreatinin dan versi gabungan diperbarui pada 2021 dan tidak lagi memakai faktor ras [2]. Lembar hasil biasanya menuliskan versi mana yang dipakai, jadi perhatikan label di samping angka eGFR kamu. Dalam penelitian yang mengembangkannya, rumus gabungan kreatinin dan cystatin C lebih akurat dibanding rumus kreatinin saja [2].

Untuk angka cystatin C sendiri, bandingkan dengan nilai rujukan di lembar lab kamu, karena metode antar lab berbeda. Sebagai gambaran, satu laboratorium di Swiss memakai rentang rujukan 0,63 sampai 1,33 mg/L [5].

Kapan cystatin C perlu diperiksa

Pedoman KDIGO 2024 menyarankan memeriksa cystatin C dan memakai eGFRcr-cys ketika eGFR dari kreatinin diduga kurang tepat dan hasilnya akan memengaruhi keputusan pengobatan [1]. Keadaan yang membuat kreatinin bisa menyesatkan antara lain [1]:

  • Massa otot sangat besar: binaragawan atau orang yang sangat berotot bisa punya kreatinin tinggi padahal ginjalnya sehat. Kalau ini kamu, baca juga kreatinin tinggi.
  • Massa otot sangat kecil: orang lanjut usia yang kurus, lama terbaring, atau mengalami pengecilan otot. Kreatinin tampak normal padahal fungsi ginjal sudah turun.
  • Amputasi atau kelumpuhan yang mengurangi jumlah otot.
  • Pola makan vegetarian atau sangat rendah daging, atau sebaliknya konsumsi suplemen kreatin.
  • Sirosis hati dan penyakit kronis berat lain yang membuat produksi kreatinin turun.

Cystatin C juga berguna untuk memastikan diagnosis. Bila eGFR dari kreatinin sedikit rendah tetapi tidak ada tanda kerusakan ginjal lain, misalnya albumin urine normal, eGFRcr-cys membantu memastikan apakah benar ada penyakit ginjal kronis [1][3]. Selain itu, eGFR dari cystatin C lebih kuat hubungannya dengan risiko kematian, penyakit jantung, dan gagal ginjal dibanding eGFR dari kreatinin [3].

Hal yang bisa mengubah cystatin C

Cystatin C tidak sepenuhnya bebas gangguan. Beberapa hal bisa menaikkan atau menurunkannya tanpa ada perubahan fungsi ginjal:

  • Kelainan tiroid: pada hipertiroid kadar cystatin C lebih tinggi, pada hipotiroid lebih rendah [5]. Dalam satu penelitian, rata-rata cystatin C pasien hipertiroid turun dari 1,32 menjadi 0,95 mg/L setelah tiroidnya normal kembali [5]. Arahnya berlawanan dengan kreatinin. Kalau kamu punya masalah tiroid, baca juga TSH dan fungsi tiroid.
  • Obat steroid (kortikosteroid) dikaitkan dengan cystatin C yang lebih tinggi [6].
  • Peradangan: kadar CRP yang lebih tinggi berhubungan dengan cystatin C yang lebih tinggi [4].
  • Merokok, berat badan lebih, usia lebih tua, dan jenis kelamin laki-laki juga berhubungan dengan cystatin C yang lebih tinggi pada fungsi ginjal yang sama [4].

Karena kreatinin dan cystatin C punya sumber gangguan yang berbeda, menggabungkan keduanya dalam eGFRcr-cys cenderung saling menutupi kelemahan masing-masing [1][2].

Persiapan dan langkah berikutnya

Cystatin C diperiksa dari sampel darah biasa dan tidak perlu puasa. Sampaikan kepada dokter bila kamu punya kelainan tiroid atau sedang minum obat steroid. Pemeriksaan ini belum tersedia di semua lab dan biayanya lebih mahal daripada kreatinin, jadi biasanya diminta dokter untuk pertanyaan yang spesifik. Kalau hasil eGFRcr-cys kamu di bawah 60, dokter akan menilai ulang setelah sekitar tiga bulan dan memeriksa albumin urine, karena diagnosis penyakit ginjal kronis butuh kelainan yang menetap lebih dari tiga bulan [1].

Kapan harus ke dokter?

  • eGFRcr-cys di bawah 60 pada dua pemeriksaan berjarak lebih dari tiga bulan
  • eGFR turun cepat dibanding pemeriksaan sebelumnya
  • eGFR rendah disertai kaki bengkak, sesak napas, atau kencing berkurang
  • eGFR rendah disertai urine berbusa atau albumin urine tinggi

Pertanyaan terkait

Cara membaca hasil eGFR dan stadium ginjalKreatinin tinggi, apakah pasti gagal ginjal?Berapa kadar kreatinin yang normal?Albumin urine (UACR): tanda awal ginjal bocor

Rujukan

  1. Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO) CKD Work Group. KDIGO 2024 clinical practice guideline for the evaluation and management of chronic kidney disease. Kidney Int. 2024;105(4S):S117-S314 Lihat sumber
  2. Inker LA, Eneanya ND, Coresh J, et al. New creatinine- and cystatin C-based equations to estimate GFR without race. N Engl J Med. 2021;385(19):1737-1749 Lihat sumber
  3. Shlipak MG, Mattes MD, Peralta CA. Update on cystatin C: incorporation into clinical practice. Am J Kidney Dis. 2013;62(3):595-603 Lihat sumber
  4. Knight EL, Verhave JC, Spiegelman D, et al. Factors influencing serum cystatin C levels other than renal function and the impact on renal function measurement. Kidney Int. 2004;65(4):1416-21 Lihat sumber
  5. Fricker M, Wiesli P, Brändle M, et al. Impact of thyroid dysfunction on serum cystatin C. Kidney Int. 2003;63(5):1944-7 Lihat sumber
  6. Risch L, Herklotz R, Blumberg A, Huber AR. Effects of glucocorticoid immunosuppression on serum cystatin C concentrations in renal transplant patients. Clin Chem. 2001;47(11):2055-9 Lihat sumber

Riwayat artikel

  • Diterbitkan: 7 Oktober 2026

Artikel ini disusun Tim Redaksi Ginjalpedia dari pedoman klinis dan riset yang dikutip di bawah, dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter.

Laporkan kesalahan di artikel ini