PanduanUlasan ilmiahDasar

Tes mata dan pendengaran di medical check-up: cara membaca hasilnya

Ringkasan

Visus 6/6 (sama dengan 20/20) berarti tajam penglihatan normal. Ukuran minus berarti rabun jauh, plus rabun dekat, silinder astigmatisme. Ishihara menyaring buta warna merah-hijau. Pada audiometri, ambang dengar 20 dB atau lebih baik di kedua telinga dianggap normal, dan takik di 4 kHz menandakan kemungkinan kerusakan akibat bising. Tekanan bola mata normal belum menyingkirkan glaukoma.

  • 6/6 atau 20/20 berarti penglihatan normal, angka bawah makin besar berarti makin kabur
  • Minus rabun jauh, plus rabun dekat, silinder astigmatisme
  • Tekanan bola mata normal tidak menyingkirkan glaukoma
  • Pendengaran normal bila ambang dengar 20 dB atau lebih baik
  • Penyandang diabetes butuh pemeriksaan retina, bukan hanya tes visus
Seorang perempuan memakai headphone di dalam bilik kedap suara, bersiap menjalani tes pendengaran
Gambar: Senior Airman Kellyann Novak, Public domain

Di banyak paket medical check-up, terutama untuk kerja, ada pemeriksaan mata dan telinga. Hasilnya ditulis dengan notasi yang jarang dijelaskan, misalnya 6/6, S -1,50, Ishihara normal, atau angka dB di grafik audiogram. Di bawah ini cara membacanya, plus batas apa yang bisa dan tidak bisa ditangkap oleh tes ini.

Tajam penglihatan (visus): 6/6 dan 20/20

Kamu diminta membaca huruf di papan Snellen dari jarak tertentu, satu mata bergantian. Hasilnya ditulis sebagai pecahan. Angka atas adalah jarak kamu ke papan (6 meter), angka bawah adalah jarak dari mana orang dengan penglihatan normal masih bisa membaca baris itu. Jadi 6/6 berarti normal. Di sistem kaki, nilai yang sama ditulis 20/20. Hasil 6/12 berarti huruf yang kamu baca dari 6 meter sudah bisa dibaca orang lain dari 12 meter, jadi penglihatanmu lebih kabur.

Untuk survei kesehatan dunia, gangguan penglihatan sedang sampai berat didefinisikan sebagai visus lebih buruk dari 6/18 sampai 3/60, dan kebutaan bila lebih buruk dari 3/60 [4]. Penyebab terbanyak gangguan penglihatan sedang sampai berat di dunia adalah kelainan refraksi yang belum dikoreksi dan katarak [4].

Refraksi: minus, plus, dan silinder

Kalau visus kurang dari 6/6, petugas biasanya mencoba lensa untuk mencari ukuran yang pas. Hasilnya ditulis dalam dioptri (D):

  • Minus (S -): rabun jauh atau miopia. Konsensus internasional memakai batas -0,50 D atau lebih minus untuk menyebut miopia, dan -6,00 D atau lebih minus untuk miopia tinggi [5].
  • Plus (S +): rabun dekat karena bola mata relatif pendek (hipermetropia), atau kebutuhan kacamata baca seiring usia.
  • Silinder (C) dengan sudut (axis): astigmatisme, yaitu kelengkungan kornea yang tidak rata sehingga bayangan tampak berbayang.

Miopia tinggi perlu diperhatikan karena berkaitan dengan komplikasi struktural di mata [5], jadi pemeriksaan rutin ke dokter mata lebih penting daripada sekadar ganti kacamata.

Tes buta warna (Ishihara)

Kamu diminta membaca angka yang tersusun dari titik-titik berwarna. Ishihara adalah tes penyaring yang paling banyak dipakai untuk buta warna merah-hijau, dan pada edisi 38 lempeng kepekaannya 95,5% sampai 99% tergantung jumlah kesalahan yang dipakai sebagai batas [7]. Tes ini dirancang untuk buta warna merah-hijau [7], jadi tidak ditujukan untuk menangkap jenis buta warna yang lebih jarang.

Buta warna merah-hijau bawaan dialami sekitar 8% laki-laki dan 0,4% perempuan keturunan Eropa, serta 4% sampai 6,5% laki-laki keturunan Tionghoa dan Jepang [6]. Kondisi bawaan ini tidak memburuk dan bukan tanda penyakit mata, tetapi bisa memengaruhi syarat beberapa pekerjaan.

Tekanan bola mata dan glaukoma

Sebagian paket MCU mengukur tekanan bola mata. Glaukoma adalah kerusakan saraf mata yang berjalan pelan dan sering tanpa gejala sampai tahap lanjut [8]. Masalahnya, tekanan bola mata saja kurang bisa diandalkan untuk mendeteksinya. Pada 25% sampai 50% penderita glaukoma, tekanannya di bawah 22 mmHg, dan banyak orang dengan tekanan tinggi tidak pernah terkena glaukoma [8]. Diagnosis glaukoma dibuat dari pemeriksaan saraf mata dan lapang pandang oleh dokter mata [8].

Gugus tugas pencegahan Amerika Serikat (USPSTF) menyimpulkan bahwa bukti untuk skrining glaukoma rutin pada orang dewasa 40 tahun ke atas tanpa gejala belum cukup untuk menilai untung ruginya [9]. Jadi hasil tekanan mata normal belum berarti bebas glaukoma. Kalau ada keluarga dekat dengan glaukoma, bicarakan pemeriksaan ke dokter mata.

Penyandang diabetes perlu pemeriksaan retina

Tes visus di MCU tidak memeriksa retina, yaitu lapisan saraf di belakang mata yang bisa rusak akibat diabetes. Retinopati diabetik yang sudah mengancam penglihatan bisa tanpa gejala [10]. Pedoman American Diabetes Association (ADA) 2026 menyarankan pemeriksaan mata lengkap dengan pupil dilebarkan oleh dokter mata atau optometris sejak diagnosis pada diabetes tipe 2, dan 5 tahun setelah awitan pada diabetes tipe 1 [10]. Bila tidak ada retinopati pada satu atau lebih pemeriksaan tahunan dan gula darah terkendali, jarak pemeriksaan bisa 1 sampai 2 tahun [10]. Diabetes juga perlu dipantau di ginjal, lihat bagaimana diabetes merusak ginjal.

Audiometri: membaca angka dB

Pada tes pendengaran (audiometri nada murni), kamu mendengar bunyi bip lewat headphone dengan nada rendah sampai tinggi, lalu menekan tombol setiap kali bunyi terdengar. Hasilnya adalah ambang dengar dalam desibel (dB HL), yaitu bunyi paling pelan yang masih kamu dengar. Makin besar angkanya, makin buruk pendengaran. WHO menyebut pendengaran normal bila ambang dengar 20 dB atau lebih baik di kedua telinga [1].

Derajat gangguan dihitung dari rata-rata ambang dengar di 500, 1000, 2000, dan 4000 Hz pada telinga yang lebih baik [2]:

Rata-rata ambang dengarDerajat
Kurang dari 20 dBNormal
20 sampai 34 dBRingan
35 sampai 49 dBSedang
50 sampai 64 dBSedang berat
65 sampai 79 dBBerat
80 sampai 94 dBSangat berat

WHO menganggap gangguan dengar lebih dari 35 dB di telinga yang lebih baik sebagai gangguan yang membutuhkan rehabilitasi, misalnya alat bantu dengar [1].

Takik di 4 kHz: tanda bising

Pada orang yang sering terpapar bising, misalnya di pabrik atau dari musik keras, grafik audiogram bisa menunjukkan lekukan turun (takik) yang berpusat di 4000 Hz, lalu naik lagi di nada lebih tinggi [3]. Takik ini dianggap khas untuk gangguan dengar akibat bising, walau pedoman sering memakai rentang 3 sampai 6 kHz dan hubungannya dengan bising tidak selalu lurus [3]. WHO memperkirakan lebih dari 1 miliar anak muda berisiko kehilangan pendengaran permanen karena kebiasaan mendengar yang tidak aman [1]. Takik yang tertangkap saat MCU adalah saat yang tepat untuk mulai melindungi telinga, karena kerusakan akibat bising bersifat permanen.

Cara umum membaca lembar hasil ada di cara membaca hasil lab. Kalau MCU kamu juga mencatat tekanan darah, baca penjelasannya karena tekanan darah tinggi juga merusak pembuluh darah kecil di mata dan ginjal.

Kapan harus ke dokter?

  • Penglihatan turun mendadak, muncul bayangan seperti tirai, atau kilatan cahaya baru
  • Mata merah dan nyeri hebat disertai pandangan kabur, sakit kepala, atau mual
  • Pendengaran turun mendadak di satu telinga
  • Telinga berdenging terus atau rata-rata ambang dengar lebih dari 35 dB di telinga yang lebih baik
  • Penyandang diabetes yang belum pernah diperiksa retina oleh dokter mata

Pertanyaan terkait

Medical check-up: pemeriksaan apa yang perlu sesuai usiaCara membaca hasil lab: nilai rujukan, tanda H dan L, dan satuanBagaimana diabetes bisa merusak ginjal?Tekanan darah: cara membaca angka atas dan bawah

Rujukan

  1. World Health Organization. Deafness and hearing loss: fact sheet. Updated 3 March 2026 Lihat sumber
  2. Humes LE. The World Health Organization's hearing-impairment grading system: an evaluation for unaided communication in age-related hearing loss. Int J Audiol. 2019;58(1):12-20 Lihat sumber
  3. Meghji S, Phillips J. The significance of audiometric notching in individuals with a history of noise exposure: a systematic review. Ear Hear. 2021;42(5):1109-1118 Lihat sumber
  4. GBD 2019 Blindness and Vision Impairment Collaborators; Vision Loss Expert Group of the Global Burden of Disease Study. Causes of blindness and vision impairment in 2020 and trends over 30 years, and prevalence of avoidable blindness in relation to VISION 2020: the Right to Sight. Lancet Glob Health. 2021;9(2):e144-e160 Lihat sumber
  5. Flitcroft DI, He M, Jonas JB, et al. IMI: Defining and classifying myopia: a proposed set of standards for clinical and epidemiologic studies. Invest Ophthalmol Vis Sci. 2019;60(3):M20-M30 Lihat sumber
  6. Birch J. Worldwide prevalence of red-green color deficiency. J Opt Soc Am A Opt Image Sci Vis. 2012;29(3):313-20 Lihat sumber
  7. Birch J. Efficiency of the Ishihara test for identifying red-green colour deficiency. Ophthalmic Physiol Opt. 1997;17(5):403-8 Lihat sumber
  8. Weinreb RN, Aung T, Medeiros FA. The pathophysiology and treatment of glaucoma: a review. JAMA. 2014;311(18):1901-11 Lihat sumber
  9. US Preventive Services Task Force; Mangione CM, Barry MJ, et al. Screening for primary open-angle glaucoma: US Preventive Services Task Force recommendation statement. JAMA. 2022;327(20):1992-1997 Lihat sumber
  10. American Diabetes Association Professional Practice Committee. 12. Retinopathy, Neuropathy, and Foot Care: Standards of Care in Diabetes 2026. Diabetes Care. 2026;49(Suppl 1):S261-S276 Lihat sumber

Riwayat artikel

  • Diterbitkan: 7 Oktober 2026

Artikel ini disusun Tim Redaksi Ginjalpedia dari pedoman klinis dan riset yang dikutip di bawah, dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter.

Laporkan kesalahan di artikel ini