Kenapa nilai normal berbeda antar laboratorium?
Ringkasan
Nilai normal berbeda antar lab karena dibuat dari kelompok orang sehat yang berbeda, diukur dengan metode dan alat yang punya selisih sendiri, dan kadang ditulis dalam satuan lain. Usia, jenis kelamin, etnis, dan kehamilan juga menggeser rentang. Bandingkan hasil dengan nilai rujukan di lembar lab kamu sendiri, dan pantau perubahan di lab yang sama.
- Nilai rujukan mencakup 95% orang sehat dari kelompok pembanding tertentu
- Metode dan alat yang berbeda bisa punya selisih tetap
- Satuan berbeda: kreatinin 1,5 mg/dL sama dengan 133 µmol/L
- Usia, jenis kelamin, etnis, dan kehamilan menggeser rentang
- Untuk memantau tren, periksa di lab yang sama dan simpan hasil lama

Kamu cek darah di dua tempat dalam sebulan. Di lab pertama kreatinin kamu bertanda H, di lab kedua angkanya mirip tetapi dianggap normal. Ini bukan berarti salah satu lab keliru. Nilai rujukan, yang sering disebut “nilai normal”, memang bisa berbeda antar lab. Berikut alasannya dan apa yang sebaiknya kamu lakukan.
Nilai rujukan itu dibuat, bukan angka baku
Nilai rujukan dibuat dari hasil sekelompok orang sehat. Batas bawahnya adalah persentil 2,5 dan batas atasnya persentil 97,5, sehingga rentang itu mencakup 95% orang sehat [1]. Karena berasal dari pengukuran nyata, hasilnya tergantung siapa yang diperiksa, alat apa yang dipakai, dan bagaimana sampel ditangani.
Idealnya setiap lab membuat nilai rujukan sendiri yang cocok untuk metode dan penduduk setempat. Dalam praktik, ini mahal dan lama, jadi banyak lab mengambil rentang dari pabrik alat, buku acuan, atau penelitian besar, lalu memverifikasinya dengan memeriksa paling sedikit 20 orang sehat dari penduduk setempat [2]. Sumber rentang yang berbeda membuat angka yang tercetak juga berbeda.
Alasan pertama: metode dan alat
Satu pemeriksaan bisa diukur dengan beberapa cara kimia dan alat dari pabrik berbeda. Hasilnya umumnya berkorelasi baik, tetapi tiap metode bisa punya selisih tetap, yang disebut bias [3]. Kreatinin adalah contoh yang terkenal. Ada metode lama (Jaffe) dan metode enzimatik, dan kelompok kerja laboratorium di Amerika Serikat mencatat bahwa variasi antar metode membuat perkiraan fungsi ginjal kurang akurat justru di rentang kreatinin di bawah 1,5 mg/dL, rentang yang penting untuk menemukan penyakit ginjal dini [4]. Karena itu kalibrasi kreatinin di seluruh dunia diarahkan ke satu metode acuan [4].
Alasan kedua: satuan
Lab yang satu menulis mg/dL, lab lain µmol/L atau mmol/L. Kreatinin 1,5 mg/dL sama dengan 133 µmol/L [4]. Angkanya terlihat jauh berbeda padahal nilainya sama. Sebelum membandingkan, pastikan satuannya sama.
Alasan ketiga: siapa yang dijadikan pembanding
- Usia dan jenis kelamin. Ketepatan nilai rujukan bisa ditingkatkan dengan memisahkan rentang menurut usia, jenis kelamin, ras atau etnis, dan gaya hidup [1]. Anak dan lansia termasuk kelompok yang paling sulit dibuatkan rentangnya [1].
- Etnis dan asal penduduk. Analisis data survei kesehatan Amerika Serikat pada 33 pemeriksaan menemukan bahwa rentang terpisah dibutuhkan pada sekitar 30% perbandingan antar kelompok etnis dan jenis kelamin, terutama untuk glukosa dan GGT [3]. Rentang yang dibuat dari penduduk negara lain belum tentu pas untuk orang Indonesia.
- Kehamilan. Banyak nilai lab berubah secara wajar saat hamil, sehingga dibutuhkan rentang khusus kehamilan untuk sebagian pemeriksaan [5].
Nilai rujukan dan batas keputusan
Untuk beberapa tes, batas yang dicetak bukan rentang 95% orang sehat, melainkan batas keputusan klinis dari pedoman, misalnya batas risiko kolesterol atau batas diagnosis diabetes [1]. Lab yang memakai pedoman berbeda, atau edisi pedoman yang berbeda, bisa mencetak batas yang berbeda pula. Contoh lebih jauh ada di kenapa target LDL berbeda.
Upaya menyamakan nilai rujukan
Federasi kimia klinik internasional (IFCC) lewat komite nilai rujukannya menjalankan penelitian di banyak negara, termasuk proyek di Asia, untuk membuat nilai rujukan bersama (harmonisasi) [1]. Nilai rujukan bersama hanya bisa dipakai di lab yang metodenya tertelusur ke sistem pengukuran acuan yang sama dan melayani penduduk yang mirip [6]. Jadi perbedaan antar lab akan makin kecil, tetapi tidak akan hilang sama sekali.
Yang bisa kamu lakukan
- Bandingkan hasil dengan nilai rujukan di lembar lab kamu sendiri, bukan dengan angka dari internet atau lab lain.
- Kalau memantau sesuatu dari waktu ke waktu, usahakan periksa di lab yang sama. Variasi alami tubuh seseorang cenderung stabil dari waktu ke waktu, sehingga perubahan yang berarti lebih mudah terlihat bila metode tidak berganti [7].
- Simpan dan bawa hasil lama saat ke dokter, lengkap dengan nama lab dan satuannya.
- Kalau terpaksa pindah lab, misalnya untuk kreatinin dan eGFR, beri tahu dokter supaya selisih kecil tidak langsung dibaca sebagai perubahan nyata.
Dasar membaca lembar hasil ada di cara membaca hasil lab. Kalau hasil kamu hanya sedikit melewati batas, baca juga hasil lab sedikit di luar normal.
Kapan harus ke dokter?
- Hasil berubah jauh dari biasanya setelah pindah lab dan kamu punya keluhan baru
- Kreatinin naik atau eGFR turun pada pemeriksaan berulang
- Lab menghubungi kamu karena hasil masuk nilai kritis
- Hasil jauh di luar rentang disertai lemas berat, sesak, atau bingung
Pertanyaan terkait
Cara membaca hasil lab: nilai rujukan, tanda H dan L, dan satuanHasil lab sedikit di luar normal, perlu khawatir?Berapa kadar kreatinin yang normal?Cara membaca hasil eGFR dan stadium ginjalRujukan
- Ozarda Y. Reference intervals: current status, recent developments and future considerations. Biochem Med (Zagreb). 2016;26(1):5-16 Lihat sumber
- Ozarda Y, Higgins V, Adeli K. Verification of reference intervals in routine clinical laboratories: practical challenges and recommendations. Clin Chem Lab Med. 2018;57(1):30-37 Lihat sumber
- Horn PS, Pesce AJ. Reference intervals: an update. Clin Chim Acta. 2003;334(1-2):5-23 Lihat sumber
- Myers GL, Miller WG, Coresh J, et al. Recommendations for improving serum creatinine measurement: a report from the Laboratory Working Group of the National Kidney Disease Education Program. Clin Chem. 2006;52(1):5-18 Lihat sumber
- Abbassi-Ghanavati M, Greer LG, Cunningham FG. Pregnancy and laboratory studies: a reference table for clinicians. Obstet Gynecol. 2009;114(6):1326-31 Lihat sumber
- Flegar-Meštrić Z, Perkov S, Radeljak A. Standardization in laboratory medicine: adoption of common reference intervals to the Croatian population. World J Methodol. 2016;6(1):93-100 Lihat sumber
- Fraser CG. Reference change values. Clin Chem Lab Med. 2011;50(5):807-12 Lihat sumber
Riwayat artikel
- Diterbitkan: 7 Oktober 2026
Artikel ini disusun Tim Redaksi Ginjalpedia dari pedoman klinis dan riset yang dikutip di bawah, dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter.
Laporkan kesalahan di artikel ini