HBsAg positif: artinya dan langkah selanjutnya
Ringkasan
HBsAg positif berarti saat ini ada infeksi virus hepatitis B. Bila tetap positif 6 bulan atau lebih, disebut hepatitis B kronis. Langkah berikutnya adalah tes HBeAg, HBV DNA, dan SGPT untuk menentukan fase dan perlu tidaknya obat. Keluarga serumah perlu diperiksa dan divaksin. Hepatitis B tidak menular lewat makan bersama atau kontak kerja sehari-hari.
- HBsAg positif berarti ada infeksi hepatitis B saat ini
- Disebut kronis bila HBsAg positif 6 bulan atau lebih
- HBeAg, HBV DNA, dan SGPT menentukan fase dan kebutuhan obat
- Keluarga serumah dan pasangan perlu diperiksa lalu divaksin bila negatif
- Bayi dari ibu HBsAg positif perlu HBIG dan vaksin segera setelah lahir

HBsAg (hepatitis B surface antigen) adalah protein yang menempel di permukaan virus hepatitis B. Kalau tes HBsAg kamu positif, artinya saat ini ada infeksi virus hepatitis B di tubuhmu [1]. Hasil ini sering muncul tanpa keluhan apa pun, misalnya saat medical check-up kerja, donor darah, atau pemeriksaan kehamilan.
Hepatitis B bisa dipantau dan, bila perlu, diobati. Artikel ini menjelaskan arti hasilmu dan pemeriksaan yang biasanya diminta dokter sesudahnya. Bandingkan juga hasilmu dengan keterangan di lembar lab sendiri, karena ada lab yang melaporkan HBsAg sebagai reaktif atau nonreaktif, dan ada yang memberi angka.
Akut atau kronis?
Satu kali HBsAg positif belum bisa membedakan infeksi baru (akut) dari infeksi lama (kronis). Hepatitis B disebut kronis bila HBsAg tetap positif selama 6 bulan atau lebih [1]. Usia saat tertular sangat menentukan. Risiko menjadi kronis sekitar 90% pada bayi yang lahir dari ibu dengan HBeAg positif, 25 sampai 30% pada anak di bawah 5 tahun, dan kurang dari 5% pada orang dewasa [1]. Artinya, orang dewasa yang baru tertular kebanyakan sembuh sendiri, sedangkan yang tertular saat bayi lebih sering membawa virus seumur hidup.
Seberapa sering di Indonesia
Survei nasional Riskesdas menemukan HBsAg positif pada 9,4% penduduk yang diperiksa pada 2007 dan 7,1% pada 2013, sehingga Indonesia digolongkan daerah endemis sedang [2]. Banyak penularan terjadi saat lahir atau masa kanak-kanak [2]. Analisis Riskesdas juga menunjukkan anak dengan imunisasi hepatitis B lengkap lebih jarang HBsAg positif dibanding anak yang imunisasinya tidak lengkap [3].
Tes lanjutan yang biasa diminta
| Tes | Gunanya |
|---|---|
| HBeAg dan anti-HBe | Menggambarkan seberapa aktif virus berkembang biak; dipakai untuk menentukan fase penyakit [1] |
| HBV DNA (viral load) | Mengukur jumlah virus di darah dalam IU/mL [1] |
| SGPT (ALT) | Menilai peradangan hati. Untuk keperluan hepatitis B, AASLD memakai batas atas 35 U/L pada laki-laki dan 25 U/L pada perempuan [1] |
| IgM anti-HBc | Membantu mengenali infeksi yang baru terjadi [1] |
| Penilaian kekakuan hati | Elastografi atau skor darah seperti FIB-4 untuk melihat ada tidaknya jaringan parut di hati [1] |
Penjelasan SGPT dan SGOT ada di SGOT dan SGPT: arti hasilnya, dan penyebab SGPT naik di SGPT tinggi: penyebab. Hepatitis C diperiksa terpisah lewat tes anti-HCV.
Tidak semua orang dengan HBsAg positif perlu obat. Contohnya fase yang disebut tidak aktif, yaitu HBeAg negatif, SGPT normal, dan HBV DNA di bawah 2.000 IU/mL [1]. Pada fase ini AASLD menyarankan cek SGPT dan HBV DNA tiap 3 bulan pada tahun pertama, lalu tiap 6 sampai 12 bulan [1]. Keputusan terapi diambil dokter berdasarkan gabungan HBV DNA, SGPT, dan keadaan hati.
Penularan dan keluarga serumah
Virus hepatitis B menular lewat darah, hubungan seksual, dari ibu ke bayi saat lahir, dan lewat luka terbuka [6]. Menurut AASLD, orang dengan HBsAg positif boleh berbagi makanan dan alat makan, boleh berciuman, dan boleh ikut semua kegiatan termasuk olahraga [1]. Yang perlu dihindari adalah berbagi sikat gigi, pisau cukur, dan jarum, serta mendonorkan darah [1].
Anggota keluarga serumah dan pasangan seksual sebaiknya diperiksa, lalu divaksin bila hasilnya negatif [1]. Ini penting: pada sebuah studi di Jakarta, 10,6% anak dari pasien hepatitis B ternyata HBsAg positif, dan 40,4% anak belum punya kekebalan sama sekali [4].
Kalau kamu hamil
Semua ibu hamil dianjurkan diperiksa HBsAg [1]. Bayi dari ibu dengan HBsAg positif perlu mendapat imunoglobulin hepatitis B (HBIG) dan vaksin hepatitis B segera setelah lahir [1]. WHO menganjurkan semua bayi menerima vaksin hepatitis B secepatnya setelah lahir, dalam 24 jam pertama [6]. Bila HBV DNA ibu di atas 200.000 IU/mL, AASLD menganjurkan obat antivirus di trimester ketiga untuk menekan risiko penularan ke bayi [1]. Pedoman WHO 2024 memperluas kelompok ibu hamil yang layak mendapat antivirus pencegahan [5]. Menyusui tidak dilarang [1]. Diskusikan rencana ini dengan dokter kandungan dan dokter anak sejak awal kehamilan.
Soal pekerjaan dan stigma
Stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan hepatitis virus masih sering terjadi di Asia Tenggara, dan ini membuat banyak orang enggan diperiksa [7]. Secara medis, hepatitis B tidak menular lewat kontak kerja sehari-hari seperti makan bersama atau berbagi alat makan [1]. AASLD bahkan menyatakan tenaga kesehatan dengan HBsAg positif tidak perlu dikeluarkan dari pendidikan atau pekerjaannya; hanya yang melakukan tindakan berisiko tinggi seperti operasi tertentu yang perlu konsultasi khusus [1]. Yang dibutuhkan orang dengan HBsAg positif adalah kontrol rutin ke dokter. Hasil ini tidak membuat seseorang tidak mampu bekerja.
Panduan umum membaca lembar hasil ada di cara membaca hasil lab.
Kapan harus ke dokter?
- Mata atau kulit menguning, urine pekat seperti teh
- Perut membesar berisi cairan, kaki bengkak, atau muntah darah dan BAB hitam
- Bingung, sangat mengantuk, atau mudah memar dan berdarah
- Hamil dengan HBsAg positif dan belum pernah konsultasi ke dokter
- SGPT naik berulang atau benjolan di hati pada USG
Pertanyaan terkait
SGOT dan SGPT: arti hasil tes fungsi hatiSGPT tinggi: penyebab tersering dan langkah selanjutnyaAnti-HCV positif: apakah pasti hepatitis C?Cara membaca hasil lab: nilai rujukan, tanda H dan L, dan satuanRujukan
- Terrault NA, Lok ASF, McMahon BJ, et al. Update on prevention, diagnosis, and treatment of chronic hepatitis B: AASLD 2018 hepatitis B guidance. Hepatology. 2018;67(4):1560-1599 Lihat sumber
- Muljono DH. Epidemiology of hepatitis B and C in Republic of Indonesia. Euroasian J Hepatogastroenterol. 2017;7(1):55-59 Lihat sumber
- Lestari CSW, Dewi RM, Sunarno S, et al. The effectiveness of hepatitis B vaccine in toddlers based on the five-year period national basic health research (Riskesdas 2007, 2013 and 2018) in Indonesia. PeerJ. 2023;11:e15199 Lihat sumber
- Gunardi H, Iskandar MY, Turyadi, et al. Hepatitis B virus infection in children of HBV-related chronic liver disease patients: a study of intra-familial HBV transmission. Hepatol Int. 2017;11(1):96-104 Lihat sumber
- World Health Organization. Guidelines for the prevention, diagnosis, care and treatment for people with chronic hepatitis B infection. Geneva: WHO; 2024 Lihat sumber
- World Health Organization. Hepatitis B fact sheet Lihat sumber
- Wait S, Kell E, Hamid S, et al. Hepatitis B and hepatitis C in southeast and southern Asia: challenges for governments. Lancet Gastroenterol Hepatol. 2016;1(3):248-255 Lihat sumber
Riwayat artikel
- Diterbitkan: 7 Oktober 2026
Artikel ini disusun Tim Redaksi Ginjalpedia dari pedoman klinis dan riset yang dikutip di bawah, dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter.
Laporkan kesalahan di artikel ini