Anti-HCV positif: apakah pasti hepatitis C?
Ringkasan
Tidak pasti. Anti-HCV positif berarti kamu pernah terpapar virus hepatitis C, tetapi belum memastikan virusnya masih ada. Bisa berarti infeksi aktif, infeksi lama yang sudah hilang (sekitar seperempat orang sembuh sendiri), atau positif palsu. Langkah berikutnya adalah tes HCV RNA. Bila virus terdeteksi, obat antivirus modern bisa menyembuhkan lebih dari 95% pasien.
- Anti-HCV positif berarti pernah terpapar, belum tentu infeksi aktif
- Tes HCV RNA (PCR) memastikan apakah virus masih ada
- Sekitar 26% infeksi akut hilang sendiri tanpa obat
- Antibodi biasanya tetap positif seumur hidup, bahkan setelah sembuh
- Obat antivirus modern menyembuhkan lebih dari 95% pasien

Anti-HCV adalah antibodi terhadap virus hepatitis C (HCV). Tubuh membuat antibodi ini setelah pernah bertemu virusnya. Jadi anti-HCV positif artinya kamu pernah terpapar virus hepatitis C. Hasil ini belum bisa memastikan apakah virusnya masih ada di tubuhmu sekarang. Untuk itu perlu tes lanjutan, yaitu HCV RNA [1].
Kalau kamu baru pertama membaca lembar hasil lab, lihat juga cara membaca hasil lab. Cara pelaporan anti-HCV berbeda antar lab: ada yang menulis “reaktif” atau “non-reaktif”, ada yang memberi angka indeks dengan batas tertentu. Ikuti keterangan dan batas yang tercetak di lembar hasil kamu sendiri.
Tiga kemungkinan arti anti-HCV positif
- Infeksi yang masih aktif. Virus masih berkembang biak di hati. Menurut CDC, lebih dari separuh orang yang tertular hepatitis C akan mengalami infeksi kronis atau menahun [2].
- Infeksi lama yang sudah hilang. Sebagian orang membersihkan virus dengan sendirinya. Sebuah tinjauan sistematis atas 31 studi mendapatkan rata-rata sekitar 26% orang dengan hepatitis C akut sembuh spontan tanpa obat [3]. Orang yang sudah sembuh, baik sendiri maupun setelah pengobatan, biasanya tetap punya antibodi, sehingga anti-HCV tetap positif [1].
- Positif palsu. Kadang tes antibodi memberi hasil positif padahal orangnya tidak pernah terinfeksi [1].
Ketiga kemungkinan ini tidak bisa dibedakan hanya dari anti-HCV. Di Indonesia, sebuah studi pada 243 pasien dengan anti-HCV positif mendapatkan jumlah virus yang bisa diukur pada 180 orang (74,1%) [4]. Artinya, kira-kira seperempat pasien dalam studi itu tidak punya virus yang terukur saat diperiksa.
Langkah berikutnya: tes HCV RNA
Pedoman AASLD-IDSA (perhimpunan dokter penyakit hati dan penyakit infeksi Amerika) menganjurkan agar setiap anti-HCV positif dilanjutkan dengan tes HCV RNA, yaitu pemeriksaan materi genetik virus dengan metode PCR [1]. Banyak lab bisa langsung mengerjakannya dari sampel darah yang sama.
| Anti-HCV | HCV RNA | Arti yang paling mungkin |
|---|---|---|
| Positif | Terdeteksi | Infeksi hepatitis C aktif, perlu dirujuk untuk pengobatan [1] |
| Positif | Tidak terdeteksi | Tidak ada bukti infeksi aktif: infeksi lama yang sudah hilang, atau positif palsu [1] |
| Negatif | Tidak diperiksa | Umumnya tidak ada infeksi, kecuali paparan sangat baru atau daya tahan tubuh sangat lemah [1] |
HCV RNA yang tidak terdeteksi tidak membuat kamu kebal. Orang yang pernah sembuh tetap bisa tertular lagi [1]. Dokter mungkin meminta HCV RNA diulang bila ada paparan dalam 6 bulan terakhir, bila daya tahan tubuhmu lemah, atau bila kamu menjalani cuci darah jangka panjang [1].
Bagaimana hepatitis C menular
Hepatitis C terutama menular lewat darah, misalnya transfusi darah yang tidak disaring, suntikan medis dengan alat yang tidak steril, dan berbagi jarum suntik pada pengguna narkoba suntik [5]. Pedoman AASLD-IDSA menyebutkan virus ini tidak menular lewat bersin, batuk, pelukan, bergandengan tangan, berbagi alat makan atau gelas, maupun lewat makanan dan air [1]. Risiko penularan lewat hubungan seksual tergolong rendah, kecuali pada orang dengan HIV atau yang punya banyak pasangan [1]. Orang dengan hepatitis C dianjurkan tidak berbagi sikat gigi dan alat cukur, serta menutup luka yang berdarah [1].
Kenapa perlu ditindaklanjuti
Hepatitis C sering tidak bergejala selama bertahun-tahun. Sekitar 10 sampai 20% orang dengan infeksi kronis mengalami komplikasi seperti sirosis, gagal hati, atau kanker hati dalam kurun 20 sampai 30 tahun [5]. Dokter biasanya juga melihat enzim hati; baca arti SGOT dan SGPT.
Hepatitis C juga bisa mengenai ginjal. Virus ini dapat memicu krioglobulinemia, yaitu protein abnormal di darah yang bisa menimbulkan radang pembuluh darah kecil dan peradangan di saringan ginjal (glomerulonefritis membranoproliferatif) [6]. Di kawasan Asia Tenggara, sebuah tinjauan mendapatkan anti-HCV positif pada sekitar 0,84% populasi berisiko rendah, tetapi sekitar 25,8% pada pasien cuci darah rutin [7]. Pedoman AASLD-IDSA menganjurkan pemeriksaan hepatitis C berkala pada pasien yang menjalani hemodialisis jangka panjang [1]. Kalau kamu sedang kontrol penyakit ginjal kronis, tanyakan jadwalnya ke dokter.
Hepatitis B adalah penyakit yang berbeda dengan tes yang berbeda pula. Kalau kamu juga punya hasil HBsAg, baca HBsAg positif artinya apa.
Bisakah sembuh?
Bisa. Obat antivirus yang bekerja langsung (direct-acting antivirals, DAA) diminum selama 8 sampai 12 minggu dan dapat menyembuhkan sebagian besar pasien [2]. Angka kesembuhan virologisnya di atas 95% [6]. Setelah sembuh, anti-HCV biasanya tetap positif, jadi yang dipakai untuk memantau adalah HCV RNA [1]. Belum ada vaksin untuk hepatitis C [2]. Pedoman juga menganjurkan orang dengan hepatitis C berhenti minum alkohol dan mendapat vaksin hepatitis A dan B bila belum kebal [1]. Pilihan obat dan lamanya diputuskan oleh dokter.
Persiapan tes
Tes anti-HCV dan HCV RNA umumnya tidak memerlukan puasa. Kalau dokter memintanya bersama tes lain, ikuti aturan untuk tes itu; lihat puasa sebelum cek darah. Pedoman AASLD-IDSA menganjurkan setiap orang dewasa berusia 18 tahun ke atas diperiksa hepatitis C setidaknya sekali seumur hidup [1].
Kapan harus ke dokter?
- Mata atau kulit menguning, urine pekat seperti teh
- Perut membesar berisi cairan, kaki bengkak, atau mudah memar
- Muntah darah atau BAB hitam
- HCV RNA terdeteksi: segera rujuk ke dokter penyakit dalam atau konsultan hati untuk pengobatan
- Anti-HCV positif pada pasien cuci darah, ibu hamil, atau orang dengan HIV
Pertanyaan terkait
SGOT dan SGPT: arti hasil tes fungsi hatiHBsAg positif: artinya dan langkah selanjutnyaSGPT tinggi: penyebab tersering dan langkah selanjutnyaApa itu penyakit ginjal kronis?Rujukan
- Ghany MG, Morgan TR; AASLD-IDSA Hepatitis C Guidance Panel. Hepatitis C Guidance 2019 Update: American Association for the Study of Liver Diseases-Infectious Diseases Society of America recommendations for testing, managing, and treating hepatitis C virus infection. Hepatology. 2020;71(2):686-721 Lihat sumber
- Schillie S, Wester C, Osborne M, Wesolowski L, Ryerson AB. CDC recommendations for hepatitis C screening among adults, United States, 2020. MMWR Recomm Rep. 2020;69(2):1-17 Lihat sumber
- Micallef JM, Kaldor JM, Dore GJ. Spontaneous viral clearance following acute hepatitis C infection: a systematic review of longitudinal studies. J Viral Hepat. 2006;13(1):34-41 Lihat sumber
- Thedja MD, Wibowo DP, El-Khobar KE, et al. Improving linkage to care of hepatitis C: clinical validation of GeneXpert HCV viral load point-of-care assay in Indonesia. Am J Trop Med Hyg. 2021;105(1):117-24 Lihat sumber
- Spearman CW, Dusheiko GM, Hellard M, Sonderup M. Hepatitis C. Lancet. 2019;394(10207):1451-66 Lihat sumber
- Comarmond C, Cacoub P, Saadoun D. Treatment of chronic hepatitis C-associated cryoglobulinemia vasculitis at the era of direct-acting antivirals. Ther Adv Gastroenterol. 2020;13:1756284820942617 Lihat sumber
- Goel A, Rewari BB, Sharma M, Konath NM, Aggarwal R. Seroprevalence and burden of hepatitis C virus infection in WHO South-East Asia Region: a systematic review. J Gastroenterol Hepatol. 2022;37(6):964-72 Lihat sumber
Riwayat artikel
- Diterbitkan: 7 Oktober 2026
Artikel ini disusun Tim Redaksi Ginjalpedia dari pedoman klinis dan riset yang dikutip di bawah, dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter.
Laporkan kesalahan di artikel ini