PanduanUlasan ilmiahGejala & diagnosis

Tes Widal positif: kenapa tidak bisa jadi patokan tifus

Ringkasan

Tes Widal positif tidak cukup untuk memastikan tifus. Di Indonesia banyak orang sehat sudah punya antibodi dari paparan lama, dan antigennya bisa bereaksi silang dengan kuman lain, sehingga positif palsu sering terjadi. Satu kali tes sulit ditafsirkan. Patokannya adalah biakan darah, sedangkan tes cepat seperti Tubex hanya punya akurasi sedang.

  • Widal mengukur antibodi, bukan bakteri itu sendiri
  • Positif palsu sering di daerah endemis seperti Indonesia
  • Satu kali tes Widal sulit ditafsirkan
  • Biakan darah adalah tes acuan menurut WHO
  • Tubex dan Typhidot lebih baik, tetapi akurasinya sedang
Slide tes Widal dengan beberapa lingkaran berisi campuran serum dan antigen, sebagian tampak menggumpal
Gambar: Sujith, CC BY-SA 3.0

Demam beberapa hari, periksa ke klinik, lalu hasil Widal keluar “positif” dan kamu langsung dibilang kena tifus. Cerita ini sangat umum di Indonesia. Masalahnya, tes Widal punya banyak kelemahan, terutama di negara tempat tifus sering terjadi. Hasil Widal positif saja tidak cukup untuk memastikan tifus.

Apa yang diukur tes Widal

Tifus (demam tifoid) disebabkan bakteri Salmonella Typhi. Tes Widal mencari antibodi, yaitu protein kekebalan yang dibuat tubuh setelah bertemu bakteri ini. Serum darahmu dicampur dengan antigen bakteri, biasanya antigen O (dari dinding bakteri) dan antigen H (dari rambut getar bakteri). Kalau ada antibodi, campuran akan menggumpal [2].

Hasilnya ditulis sebagai titer, misalnya 1/80, 1/160, atau 1/320. Titer adalah pengenceran serum terbesar yang masih menggumpal. Makin besar angka penyebutnya, makin banyak antibodi. Tetapi antibodi menunjukkan bahwa tubuh pernah bertemu bakteri, belum tentu sedang terinfeksi sekarang.

Kenapa sering positif palsu di Indonesia

  • Antibodi dari infeksi lama. Di daerah endemis, banyak orang sehat sudah punya antibodi dari paparan sebelumnya. Kadar latar belakang ini membuat batas titer “positif” sulit ditentukan [2].
  • Reaksi silang. Antigen yang dipakai mirip dengan antigen bakteri Salmonella jenis lain dan kuman lain, sehingga antibodi terhadap kuman itu ikut membuat gumpalan. Positif palsu juga dilaporkan pada malaria [2].
  • Kualitas antigen dan cara kerja berbeda antar lab, sehingga hasil dari dua tempat bisa tidak sama [2].

Ringkasan berbagai penelitian menemukan kepekaan (sensitivitas) Widal berkisar 32% sampai 95% dan ketepatan (spesifisitas) 4% sampai 98% [3]. Rentang selebar itu berarti hasilnya sangat bergantung pada tempat dan cara tes dilakukan. Di Makassar, Widal hanya mendeteksi 39,0% pasien tifus, lebih rendah daripada biakan darah yang mendeteksi 61,8% [4].

Satu kali tes tidak cukup

Hasil Widal dari satu sampel darah sulit ditafsirkan karena kamu tidak tahu kadar antibodimu sebelum sakit. Yang lebih bermakna adalah kenaikan titer yang jelas pada dua sampel yang diambil terpisah beberapa hari [2]. Dalam praktik, cara ini jarang dipakai karena hasilnya baru ada setelah pasien sudah diobati.

Sebuah penelitian di Bandung pada anak dengan infeksi dengue menemukan bahwa di rumah sakit swasta, 32,5% diagnosis tifus hanya didasarkan pada satu kali tes Widal dan 60,6% tanpa konfirmasi lab sama sekali. Sebagian besar kasus itu kemudian diobati dengan antibiotik [5].

Biakan darah sebagai acuan

Pemeriksaan yang dipakai sebagai patokan adalah biakan darah (kultur darah), yaitu menumbuhkan bakteri dari sampel darah di lab. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menjadikannya tes utama untuk tifus [1]. Biakan darah tidak selalu menemukan bakteri, terutama bila kamu sudah minum antibiotik, dan hasilnya butuh beberapa hari. Di Indonesia, akses ke biakan darah dan tes PCR masih terbatas, sehingga Widal dan tes cepat masih banyak dipakai [6].

Bagaimana dengan Tubex dan Typhidot

Tes cepat seperti Tubex dan Typhidot mendeteksi antibodi yang lebih spesifik. Tinjauan Cochrane tahun 2017 yang menggabungkan 37 penelitian menemukan rata-rata sensitivitas 78% dan spesifisitas 87% untuk Tubex, serta sensitivitas 84% dan spesifisitas 79% untuk semua jenis Typhidot [1]. Dalam contoh hitungan Cochrane, dari 700 orang demam yang sebenarnya tidak tifus, Tubex tetap salah menyebut 91 orang sebagai tifus [1]. Kesimpulan tinjauan itu: akurasi tes cepat sedang dan mutu buktinya rendah [1]. Tes ini lebih baik daripada Widal, tetapi tetap perlu dibaca bersama gejala.

Kenapa ini penting: antibiotik

Demam di Indonesia bisa disebabkan banyak penyakit dengan gejala mirip tifus, seperti demam berdarah, leptospirosis, dan infeksi riketsia [6]. Diagnosis tifus yang keliru membuat penyebab sebenarnya terlewat, dan antibiotik dipakai tanpa perlu. Pemakaian antibiotik yang tidak tepat ikut mempercepat munculnya bakteri tifus yang kebal obat, yang sudah dilaporkan di Indonesia [6]. WHO juga mencatat bahwa resistensi antibiotik membuat pengobatan tifus makin rumit dan mahal [7].

Kalau kamu demam dan diberi hasil Widal positif, tanyakan ke dokter apa dasar lain diagnosisnya. Pada demam hari-hari awal, dokter juga sering memeriksa darah lengkap, termasuk trombosit untuk demam berdarah dan leukosit. Cara umum membaca lembar hasil ada di cara membaca hasil lab.

Kapan harus ke dokter?

  • Demam lebih dari 3 hari atau terus naik walau sudah minum obat penurun panas
  • Nyeri perut hebat, perut kaku, atau BAB hitam atau berdarah
  • Muntah terus sehingga tidak bisa minum, atau tanda kurang cairan seperti jarang kencing
  • Bingung, sangat lemas, atau sesak napas
  • Bintik merah di kulit, mimisan, atau gusi berdarah saat demam

Pertanyaan terkait

Trombosit turun saat demam berdarah: kapan berbahayaDarah lengkap (hematologi rutin): apa saja yang diperiksaLeukosit tinggi dan rendah: arti hasil sel darah putihCara membaca hasil lab: nilai rujukan, tanda H dan L, dan satuan

Rujukan

  1. Wijedoru L, Mallett S, Parry CM. Rapid diagnostic tests for typhoid and paratyphoid (enteric) fever. Cochrane Database Syst Rev. 2017;5(5):CD008892 Lihat sumber
  2. Olopoenia LA, King AL. Widal agglutination test, 100 years later: still plagued by controversy. Postgrad Med J. 2000;76(892):80-4 Lihat sumber
  3. Bundalian R, Valenzuela M, Tiongco RE. Achieving accurate laboratory diagnosis of typhoid fever: a review and meta-analysis of TUBEX TF clinical performance. Pathog Glob Health. 2019;113(7):297-308 Lihat sumber
  4. Hatta M, Smits HL. Detection of Salmonella typhi by nested polymerase chain reaction in blood, urine, and stool samples. Am J Trop Med Hyg. 2007;76(1):139-43 Lihat sumber
  5. Adrizain R, Setiabudi D, Chairulfatah A. The inappropriate use of antibiotics in hospitalized dengue virus-infected children with presumed concurrent bacterial infection in teaching and private hospitals in Bandung, Indonesia. PLoS Negl Trop Dis. 2019;13(6):e0007438 Lihat sumber
  6. Yonatan ER, Pasaribu A, Nainggolan L, Lie KC. Typhoid fever in Indonesia: pitfalls in the diagnosis of typhoid fever. Acta Med Indones. 2025;57(4):559-569 Lihat sumber
  7. World Health Organization. Typhoid: fact sheet. 30 March 2023 Lihat sumber

Riwayat artikel

  • Diterbitkan: 7 Oktober 2026

Artikel ini disusun Tim Redaksi Ginjalpedia dari pedoman klinis dan riset yang dikutip di bawah, dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter.

Laporkan kesalahan di artikel ini