PanduanPedoman klinisGejala & diagnosis

Hb rendah (anemia): penyebab dan langkah selanjutnya

Ringkasan

Hb rendah atau anemia paling sering disebabkan kekurangan zat besi, misalnya karena haid banyak, kehamilan, atau perdarahan perlahan di saluran cerna. Penyebab lain adalah pembawa sifat thalassemia, penyakit ginjal kronis, dan kekurangan vitamin B12 atau folat. Dokter biasanya mulai dari ukuran sel (MCV) dan kadar feritin untuk menentukan penyebab.

  • MCV membagi anemia menjadi mikrositik, normositik, dan makrositik
  • Feritin rendah menandakan cadangan besi habis, tetapi bisa tampak normal saat ada peradangan
  • Laki-laki dan perempuan menopause dengan kurang besi perlu dicari sumber perdarahan di saluran cerna
  • Pembawa thalassemia punya sel kecil tetapi tidak membaik dengan tablet besi
  • Penyakit ginjal kronis menurunkan hormon eritropoietin sehingga Hb turun
Sediaan apus darah anemia defisiensi besi, sel darah merah tampak kecil dan pucat di bawah mikroskop
Gambar: Ed Uthman from Houston, TX, USA, CC BY 2.0

Hasil lab menunjukkan hemoglobin (Hb) kamu rendah. Artinya kamu mengalami anemia, yaitu darah membawa oksigen lebih sedikit dari seharusnya. Anemia adalah tanda, belum diagnosis. Yang lebih penting adalah mencari tahu penyebabnya, karena pengobatannya berbeda untuk tiap penyebab.

Batas Hb untuk anemia menurut usia, jenis kelamin, dan kehamilan sudah dibahas di hemoglobin: nilai normal, arti rendah dan tinggi. Selalu bandingkan hasilmu dengan nilai rujukan di lembar lab kamu sendiri.

Langkah pertama: lihat ukuran sel darah merah (MCV)

Dokter biasanya mulai dari MCV, yaitu ukuran rata-rata sel darah merah, yang sudah tercantum di pemeriksaan darah lengkap. MCV membagi anemia menjadi tiga kelompok, dan tiap kelompok punya daftar penyebab sendiri [1]:

KelompokArtinyaPenyebab yang sering
MikrositikSel lebih kecil dari normalKekurangan zat besi, pembawa sifat thalassemia, sebagian anemia karena penyakit kronis [1]
NormositikUkuran sel normalPenyakit ginjal kronis, penyakit kronis atau peradangan, perdarahan baru, kelainan sumsum tulang [1]
MakrositikSel lebih besar dari normalKekurangan vitamin B12 atau folat, alkohol, penyakit hati, hormon tiroid rendah, efek obat [1]

Pola ini membantu, tetapi tidak mutlak. Seseorang bisa punya dua penyebab sekaligus, misalnya kurang besi dan kurang B12, sehingga MCV tampak normal.

Kekurangan zat besi: penyebab tersering

Tubuh kehilangan zat besi terutama lewat perdarahan. Pada perempuan usia subur, sumber tersering adalah haid yang banyak dan kehamilan, karena kebutuhan besi naik untuk janin [2]. Pada laki-laki dan perempuan yang sudah menopause, perdarahan perlahan dari lambung atau usus menjadi kecurigaan utama [2]. Asupan yang kurang dan gangguan penyerapan di usus juga bisa berperan [2].

Tes kuncinya adalah feritin, yaitu protein penyimpan besi. Menurut WHO, feritin di bawah 15 µg/L pada orang dewasa sehat menunjukkan cadangan besi habis [3]. Feritin juga naik saat ada infeksi atau peradangan, jadi pada keadaan itu WHO memakai batas di bawah 70 µg/L [3]. Untuk orang yang sudah anemia, pedoman gastroenterologi Amerika (AGA) memakai batas feritin 45 ng/mL [4]. Satuan ng/mL sama nilainya dengan µg/L.

Pada laki-laki dan perempuan pascamenopause dengan anemia defisiensi besi, AGA menganjurkan pemeriksaan teropong saluran cerna atas dan bawah untuk mencari sumber perdarahan, termasuk kanker usus [4]. Karena itu, jangan hanya minum tablet besi tanpa tahu dari mana besinya hilang.

Pembawa sifat thalassemia

Di Indonesia, MCV kecil tidak selalu berarti kurang besi. Pada pembawa sifat thalassemia, sel darah merah kecil tetapi jumlahnya normal atau malah tinggi [1]. Sebuah studi pada mahasiswa kedokteran di Jakarta menemukan sebagian peserta dengan sel darah merah kecil ternyata pembawa thalassemia alfa atau HbE [5]. Bila feritin normal tetapi MCV tetap kecil, dokter bisa meminta analisis hemoglobin. Tablet besi tidak memperbaiki Hb pada pembawa thalassemia.

Penyakit ginjal kronis

Ginjal menghasilkan hormon eritropoietin yang memerintahkan sumsum tulang membuat sel darah merah. Saat fungsi ginjal turun, produksi hormon ini berkurang dan pemakaian zat besi juga terganggu [6]. Anemia jenis ini biasanya normositik. Kalau Hb rendah tanpa sebab jelas, dokter sering mengecek kreatinin dan eGFR. Penjelasan umum ada di apa itu penyakit ginjal kronis.

Kekurangan vitamin B12 dan folat

Kekurangan B12 bisa terjadi karena penyakit autoimun lambung (anemia pernisiosa), operasi lambung, pola makan tanpa produk hewani, atau pemakaian jangka panjang obat tertentu seperti metformin dan obat penekan asam lambung [7]. Gejalanya bisa berupa kesemutan, mati rasa, atau gangguan keseimbangan, dan keluhan saraf ini kadang muncul sebelum Hb turun [7].

Apa yang biasanya diperiksa berikutnya

  • Darah lengkap ulang dengan MCV, RDW, dan retikulosit (sel darah merah muda) [1].
  • Feritin, kadang ditambah besi serum dan saturasi transferin [3].
  • Kreatinin dan eGFR bila dicurigai ada masalah ginjal [6].
  • Vitamin B12 dan folat bila MCV besar [7].
  • Pemeriksaan sumber perdarahan bila kekurangan besinya jelas [4].

Tes-tes ini umumnya tidak perlu puasa, kecuali digabung dengan gula darah atau kolesterol. Baca puasa sebelum cek darah. Jangan mulai suplemen besi sendiri sebelum feritin diperiksa, karena suplemen bisa membuat hasil berikutnya sulit dibaca dan penyebab utama terlewat.

Kapan harus ke dokter?

  • Pucat disertai sesak, nyeri dada, berdebar, atau pingsan
  • BAB hitam seperti aspal, BAB berdarah, atau muntah darah
  • Hb di bawah 8 g/dL, atau di bawah 7 g/dL saat hamil
  • Kesemutan, mati rasa, atau sulit berjalan disertai Hb rendah
  • Hb terus turun pada pemeriksaan berulang, atau disertai berat badan turun tanpa sebab

Pertanyaan terkait

Hemoglobin (Hb): nilai normal, arti rendah dan tinggiDarah lengkap (hematologi rutin): apa saja yang diperiksaApa itu penyakit ginjal kronis?Cara membaca hasil eGFR dan stadium ginjal

Rujukan

  1. Tefferi A, Hanson CA, Inwards DJ. How to interpret and pursue an abnormal complete blood cell count in adults. Mayo Clin Proc. 2005;80(7):923-36 Lihat sumber
  2. Camaschella C. Iron-deficiency anemia. N Engl J Med. 2015;372(19):1832-43 Lihat sumber
  3. World Health Organization. WHO guideline on use of ferritin concentrations to assess iron status in individuals and populations. Geneva: WHO; 2020 Lihat sumber
  4. Ko CW, Siddique SM, Patel A, et al. AGA clinical practice guidelines on the gastrointestinal evaluation of iron deficiency anemia. Gastroenterology. 2020;159(3):1085-1094 Lihat sumber
  5. Wratsangka R, Tungka EX, Murthi AK, et al. Anemia among medical students from Jakarta: Indonesia-iron deficiency or carrier thalassemia? Anemia. 2024;2024:4215439 Lihat sumber
  6. Babitt JL, Lin HY. Mechanisms of anemia in CKD. J Am Soc Nephrol. 2012;23(10):1631-4 Lihat sumber
  7. Stabler SP. Clinical practice. Vitamin B12 deficiency. N Engl J Med. 2013;368(2):149-60 Lihat sumber

Riwayat artikel

  • Diterbitkan: 7 Oktober 2026

Artikel ini disusun Tim Redaksi Ginjalpedia dari pedoman klinis dan riset yang dikutip di bawah, dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter.

Laporkan kesalahan di artikel ini