PanduanPedoman klinisDasar

Hemoglobin (Hb): nilai normal, arti rendah dan tinggi

Ringkasan

Menurut pedoman WHO 2024, orang dewasa disebut anemia bila hemoglobin di bawah 13,0 g/dL pada laki-laki dan di bawah 12,0 g/dL pada perempuan tidak hamil. Pada ibu hamil batasnya 11,0 g/dL, atau 10,5 g/dL di trimester kedua. Penyebab tersering Hb rendah adalah kekurangan zat besi. Hb tinggi bisa karena merokok, kurang cairan, atau dataran tinggi.

  • Batas anemia WHO 2024: laki-laki di bawah 13,0 g/dL, perempuan tidak hamil di bawah 12,0 g/dL
  • Anemia berat pada dewasa tidak hamil adalah Hb di bawah 8,0 g/dL
  • Kekurangan zat besi penyebab anemia terbanyak, tetapi pembawa thalassemia juga sering di Asia
  • Penyakit ginjal kronis menurunkan hormon eritropoietin sehingga Hb turun
  • Merokok dan dataran tinggi menaikkan Hb, WHO menyarankan koreksi
Alat hemometer Sahli, cara manual lama untuk mengukur kadar hemoglobin
Gambar: Ajay Kumar Chaurasiya, CC BY-SA 4.0

Hemoglobin (Hb) adalah protein di dalam sel darah merah yang membawa oksigen dari paru ke seluruh tubuh. Kadar Hb adalah angka utama untuk menentukan apakah seseorang mengalami anemia atau kurang darah. Hb diperiksa sebagai bagian dari pemeriksaan darah lengkap, dan di Indonesia biasanya dilaporkan dalam satuan g/dL.

Ingat, bandingkan hasilmu dengan nilai rujukan yang tercetak di lembar lab kamu sendiri. Rentang tiap lab bisa sedikit berbeda, dan batasnya juga tergantung usia, jenis kelamin, dan kehamilan.

Batas anemia menurut WHO 2024

Pada 2024, WHO menerbitkan pedoman baru tentang batas Hb untuk menentukan anemia. Batas ini diambil dari persentil ke-5 orang sehat, artinya 95% orang sehat punya Hb di atas angka tersebut [1]. Tabel di bawah ini mengubah satuan WHO (g/L) menjadi g/dL dengan membagi 10.

KelompokAnemia bila Hb di bawah
Anak 6 sampai 23 bulan10,5 g/dL [1]
Anak 24 sampai 59 bulan11,0 g/dL [1]
Anak 5 sampai 11 tahun11,5 g/dL [1]
Remaja 12 sampai 14 tahun12,0 g/dL [1]
Perempuan 15 sampai 65 tahun, tidak hamil12,0 g/dL [1]
Laki-laki 15 sampai 65 tahun13,0 g/dL [1]
Hamil trimester 1 dan 311,0 g/dL [1]
Hamil trimester 210,5 g/dL [1]

Tingkat keparahan anemia

WHO membagi anemia menjadi ringan, sedang, dan berat [1]. Untuk orang dewasa yang tidak hamil:

  • Ringan: 11,0 sampai 12,9 g/dL pada laki-laki, 11,0 sampai 11,9 g/dL pada perempuan [1].
  • Sedang: 8,0 sampai 10,9 g/dL [1].
  • Berat: di bawah 8,0 g/dL [1].

Pada ibu hamil, anemia berat adalah Hb di bawah 7,0 g/dL di semua trimester [1].

Koreksi untuk perokok dan dataran tinggi

Merokok dan tinggal di dataran tinggi sama-sama menaikkan Hb, sehingga anemia bisa tersamar. WHO menyarankan koreksi. Untuk perokok, batas anemia dinaikkan 0,3 g/dL bila merokok kurang dari 10 batang sehari, 0,5 g/dL untuk 10 sampai 19 batang, dan 0,6 g/dL untuk 20 batang atau lebih [1]. Untuk tempat tinggal 1.000 sampai 1.499 meter di atas permukaan laut, koreksinya 0,8 g/dL [1].

Kalau Hb rendah

Anemia punya banyak penyebab. Yang paling sering:

  • Kekurangan zat besi. Ini penyebab anemia terbanyak di dunia, sekitar 60% dari seluruh kasus menurut WHO [1]. Sumbernya bisa asupan kurang, kebutuhan naik saat hamil, atau perdarahan kronis seperti haid yang banyak dan perdarahan saluran cerna [2].
  • Perdarahan. Kehilangan darah yang perlahan, misalnya dari lambung atau usus, sering tidak disadari [2].
  • Pembawa sifat thalassemia. WHO memperkirakan sekitar 7% penduduk Asia membawa varian gen hemoglobin [1]. Pada sebuah studi mahasiswa kedokteran di Jakarta, sebagian peserta dengan sel darah merah kecil ternyata pembawa thalassemia alfa atau HbE, dan cadangan besinya tidak selalu kurang [4]. Pembawa sifat biasanya punya MCV kecil dengan jumlah eritrosit normal atau tinggi [5]. Ini penting, karena tablet zat besi tidak memperbaiki Hb pada pembawa thalassemia.
  • Penyakit ginjal kronis. Ginjal menghasilkan hormon eritropoietin yang memerintahkan sumsum tulang membuat sel darah merah. Saat fungsi ginjal turun, hormon ini berkurang dan penyerapan serta pemakaian zat besi juga terganggu, sehingga anemia sering muncul [3]. Kalau kamu punya penyakit ginjal kronis, Hb biasanya dipantau bersama kreatinin dan eGFR.
  • Penyebab lain: infeksi dan peradangan kronis, kekurangan vitamin B12 atau folat, serta penyakit sumsum tulang [1].

Kalau Hb tinggi

Hb tinggi disebut eritrositosis atau polisitemia. Sebagai patokan, WHO memakai Hb di atas 16,5 g/dL pada laki-laki dan di atas 16,0 g/dL pada perempuan sebagai salah satu kriteria polisitemia vera [6]. Penyebabnya terbagi dua [6]:

  • Relatif, karena cairan darah berkurang sehingga darah lebih pekat. Contohnya muntah dan diare, atau pemakaian obat diuretik.
  • Absolut, karena sel darah merah memang bertambah. Yang sering adalah merokok, tinggal di dataran tinggi, penyakit paru kronis, henti napas saat tidur (sleep apnea), dan pemakaian testosteron. Yang jarang adalah polisitemia vera, kelainan sumsum tulang yang perlu ditangani dokter spesialis darah.

Persiapan dan langkah berikutnya

Pemeriksaan Hb tidak perlu puasa. Kalau Hb kamu rendah, dokter biasanya melihat MCV dan RDW, lalu bisa meminta feritin untuk cadangan besi, analisis hemoglobin untuk thalassemia, atau tes fungsi ginjal. Mengulang tes berguna bila hasil pertama mepet di batas atau diambil saat kamu sedang sakit atau kurang minum. Jangan mulai suplemen besi sendiri sebelum penyebabnya jelas.

Kapan harus ke dokter?

  • Hb di bawah 8 g/dL, atau di bawah 7 g/dL saat hamil
  • Pucat disertai sesak, dada berdebar, nyeri dada, atau pingsan
  • BAB hitam seperti aspal, muntah darah, atau haid sangat banyak
  • Hb terus turun pada pemeriksaan berulang tanpa sebab jelas
  • Hb di atas 16,5 g/dL (laki-laki) atau 16,0 g/dL (perempuan) disertai sakit kepala, gatal setelah mandi, atau pembengkakan kaki

Pertanyaan terkait

Darah lengkap (hematologi rutin): apa saja yang diperiksaApa itu penyakit ginjal kronis?Cara membaca hasil eGFR dan stadium ginjalCara membaca hasil lab: nilai rujukan, tanda H dan L, dan satuan

Rujukan

  1. World Health Organization. Guideline on haemoglobin cutoffs to define anaemia in individuals and populations. Geneva: WHO; 2024 Lihat sumber
  2. Camaschella C. Iron-deficiency anemia. N Engl J Med. 2015;372(19):1832-43 Lihat sumber
  3. Babitt JL, Lin HY. Mechanisms of anemia in CKD. J Am Soc Nephrol. 2012;23(10):1631-4 Lihat sumber
  4. Wratsangka R, Tungka EX, Murthi AK, et al. Anemia among medical students from Jakarta: Indonesia-iron deficiency or carrier thalassemia? Anemia. 2024;2024:4215439 Lihat sumber
  5. Tefferi A, Hanson CA, Inwards DJ. How to interpret and pursue an abnormal complete blood cell count in adults. Mayo Clin Proc. 2005;80(7):923-36 Lihat sumber
  6. Mithoowani S, Laureano M, Crowther MA, Hillis CM. Investigation and management of erythrocytosis. CMAJ. 2020;192(32):E913-E918 Lihat sumber

Riwayat artikel

  • Diterbitkan: 7 Oktober 2026

Artikel ini disusun Tim Redaksi Ginjalpedia dari pedoman klinis dan riset yang dikutip di bawah, dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter.

Laporkan kesalahan di artikel ini