CRP: arti hasil penanda peradangan
Ringkasan
CRP adalah protein buatan hati yang naik saat ada peradangan atau infeksi. Pada orang sehat rata-rata sekitar 1 mg/L, kenaikan 2 sampai 10 mg/L sering terkait obesitas atau merokok, dan di atas 100 mg/L sangat berkaitan dengan infeksi bakteri. CRP tidak bisa menunjukkan lokasi peradangan. hs-CRP di atas 3 mg/L menandakan risiko jantung lebih tinggi.
- CRP naik cepat dalam hitungan jam saat ada peradangan dan turun cepat saat peradangan reda
- CRP di atas 100 mg/L sangat berkaitan dengan infeksi bakteri
- CRP tidak memberi tahu di organ mana peradangannya
- LED naik dan turun lebih lambat, jadi hasil keduanya bisa tidak sejalan
- hs-CRP: di bawah 1 risiko rendah, 1 sampai 3 rata-rata, di atas 3 mg/L risiko jantung lebih tinggi

CRP (C-reactive protein) adalah protein yang dibuat hati ketika ada peradangan di tubuh. Saat terjadi infeksi atau kerusakan jaringan, kadarnya di darah bisa naik sampai seribu kali lipat [1]. Karena naik dan turunnya cepat, CRP sering diminta dokter untuk melihat apakah ada peradangan aktif dan untuk memantau apakah pengobatan berhasil.
Bandingkan hasilmu dengan nilai rujukan yang tercetak di lembar lab kamu sendiri. Perhatikan juga satuannya. Sebagian lab menulis mg/L, sebagian mg/dL. Angka 1 mg/dL sama dengan 10 mg/L, jadi hasil “0,5 mg/dL” sama dengan “5 mg/L”. Kalau kamu baru belajar membaca hasil, lihat cara membaca hasil lab.
Membaca angka CRP
Pada orang sehat, kadar CRP rata-rata sekitar 0,8 mg/L, walaupun angka dasarnya berbeda antar orang karena faktor usia, berat badan, merokok, dan keturunan [1]. Gambaran kasar berikut membantu membaca hasil:
| Kadar CRP | Gambaran umum |
|---|---|
| Sekitar 1 mg/L atau kurang | Kisaran orang sehat [1] |
| 2 sampai 10 mg/L | Kenaikan ringan, sering disebut “peradangan metabolik”, misalnya pada obesitas, merokok, diabetes, atau kurang tidur [2] |
| 50 sampai 100 mg/L | Bisa dicapai dalam 4 sampai 6 jam pada infeksi ringan sampai sedang seperti infeksi kulit, infeksi kandung kemih, atau bronkitis [2] |
| Di atas 100 mg/L | Sangat berkaitan dengan infeksi bakteri [2] |
Tabel ini hanya panduan kasar. Infeksi virus biasanya menaikkan CRP lebih sedikit dibanding infeksi bakteri berat, tetapi angka saja tidak cukup untuk membedakan keduanya [2]. Dokter tetap menilai dari keluhan, pemeriksaan fisik, dan tes lain.
Seberapa cepat CRP berubah
Setelah peradangan dimulai, CRP naik dua kali lipat kira-kira setiap 8 jam dan mencapai puncak dalam 36 sampai 50 jam [2]. Ketika peradangan mereda, CRP turun dengan cepat [2]. Sifat ini membuat CRP berguna untuk memantau, misalnya apakah antibiotik bekerja pada infeksi yang sedang diobati. Satu hasil tunggal yang diambil sangat awal, beberapa jam setelah demam mulai, bisa masih rendah.
CRP tidak menunjukkan lokasi peradangan
Ini batasan terpenting yang perlu kamu tahu. CRP tinggi hanya memberi tahu bahwa ada peradangan di suatu tempat. Angka ini tidak bisa menunjukkan di organ mana, dan tidak bisa membedakan infeksi dari radang sendi, cedera, atau kanker [2]. Karena itu CRP dan LED dianjurkan dipakai bersama riwayat keluhan dan pemeriksaan fisik, bukan sebagai alat diagnosis tunggal [2]. Hasil yang normal juga tidak selalu menyingkirkan penyakit.
CRP dibandingkan LED
LED (laju endap darah) juga penanda peradangan, tetapi sifatnya berbeda. LED baru naik 24 sampai 48 jam setelah peradangan mulai dan butuh waktu berminggu-minggu untuk kembali normal [2]. LED juga dipengaruhi banyak hal di luar peradangan, seperti anemia, usia, jenis kelamin, kehamilan, dan penyakit ginjal [2]. Karena itu hasil keduanya kadang tidak sejalan. Pada pasien rawat inap, perbedaan arah antara LED dan CRP ditemukan pada sekitar 1 dari 8 orang [2]. Misalnya, pada lupus LED bisa sangat tinggi sementara CRP hanya naik sedikit [2]. Dokter biasanya membaca keduanya bersama jumlah leukosit dari pemeriksaan darah lengkap.
hs-CRP untuk risiko jantung
hs-CRP (high-sensitivity CRP) adalah cara pemeriksaan CRP yang lebih peka, dipakai untuk mendeteksi peradangan tingkat rendah di pembuluh darah. Tujuannya berbeda: hs-CRP dipakai untuk menilai risiko penyakit jantung koroner pada orang yang tidak sedang sakit akut. Pernyataan bersama CDC dan American Heart Association tahun 2003 membagi hasilnya menjadi tiga kelompok [3]:
- Di bawah 1 mg/L: risiko rendah [3].
- 1 sampai 3 mg/L: risiko rata-rata [3].
- Di atas 3 mg/L: risiko lebih tinggi [3].
Pernyataan yang sama menyarankan pemeriksaan dilakukan dua kali dengan jarak sekitar dua minggu, lalu dirata-rata, saat kamu sedang sehat [3]. Bila hs-CRP di atas 10 mg/L, angka itu tidak dipakai untuk menilai risiko jantung. Tesnya diulang dan dokter mencari sumber infeksi atau peradangan lain [3]. hs-CRP hanyalah pelengkap. Penilaian risiko jantung tetap bertumpu pada tekanan darah, gula darah, merokok, dan profil lemak.
Persiapan dan hal yang memengaruhi hasil
CRP umumnya tidak perlu puasa. Berat badan berlebih menaikkan CRP secara umum [2], begitu pula terapi hormon estrogen yang diminum [1]. Penyakit hati yang berat bisa membuat hati tidak mampu membuat CRP, sehingga hasilnya rendah palsu [1]. Sampaikan kepada dokter bila kamu baru saja operasi, cedera, atau sedang flu, karena semua itu bisa menaikkan CRP untuk sementara.
Kalau CRP kamu sedikit tinggi tanpa keluhan, dokter biasanya mengulang beberapa minggu kemudian. Kalau tinggi disertai demam atau nyeri, langkah berikutnya adalah mencari sumbernya, misalnya dengan urine lengkap, rontgen, atau pemeriksaan lain sesuai keluhan.
Kapan harus ke dokter?
- CRP di atas 100 mg/L disertai demam tinggi, menggigil, atau tampak sangat lemas
- CRP tinggi dengan nyeri perut hebat, sesak napas, atau nyeri saat kencing disertai demam
- CRP terus naik pada pemeriksaan ulang padahal sudah minum antibiotik
- CRP tinggi berminggu-minggu disertai berat badan turun, keringat malam, atau nyeri sendi yang bengkak
Pertanyaan terkait
LED (laju endap darah): arti hasil tinggiLeukosit tinggi dan rendah: arti hasil sel darah putihDarah lengkap (hematologi rutin): apa saja yang diperiksaProfil lemak: cara membaca kolesterol total, LDL, HDL, dan trigliseridaRujukan
- Sproston NR, Ashworth JJ. Role of C-reactive protein at sites of inflammation and infection. Front Immunol. 2018;9:754 Lihat sumber
- Bray C, Bell LN, Liang H, et al. Erythrocyte sedimentation rate and C-reactive protein measurements and their relevance in clinical medicine. WMJ. 2016;115(6):317-21 Lihat sumber
- Pearson TA, Mensah GA, Alexander RW, et al. Markers of inflammation and cardiovascular disease: application to clinical and public health practice: a statement for healthcare professionals from the Centers for Disease Control and Prevention and the American Heart Association. Circulation. 2003;107(3):499-511 Lihat sumber
Riwayat artikel
- Diterbitkan: 7 Oktober 2026
Artikel ini disusun Tim Redaksi Ginjalpedia dari pedoman klinis dan riset yang dikutip di bawah, dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter.
Laporkan kesalahan di artikel ini