PanduanPedoman klinisDasar

Urine lengkap (urinalisis): cara membaca hasilnya

Ringkasan

Urine lengkap terdiri dari tiga bagian: fisik (warna, kejernihan, berat jenis), strip celup (pH, protein, glukosa, keton, darah, leukosit esterase, nitrit, bilirubin, urobilinogen), dan sedimen mikroskopis. Hasil terbaik dari urine pagi porsi tengah yang ditampung bersih, bukan saat haid. Protein atau darah yang menetap perlu diperiksa lanjut oleh dokter.

  • Tampung urine porsi tengah secara bersih, pagi hari lebih baik untuk menilai protein
  • Jangan tes saat haid karena darah haid membuat hasil positif palsu
  • Nitrit negatif belum menyingkirkan infeksi saluran kemih
  • Epitel gepeng banyak menandakan sampel tercemar
  • Protein positif di strip perlu dikonfirmasi dengan rasio albumin kreatinin (ACR)
Kolase pemeriksaan urine: sampel urine, strip celup, dan gambaran mikroskopis endapan urine
Gambar: User:Spicy, User:Stevenfruitsmaak, User:Bobjgalindo, CC BY-SA 4.0

Urine lengkap atau urinalisis adalah pemeriksaan sampel air kencing yang terdiri dari tiga bagian: pemeriksaan fisik, pemeriksaan kimia dengan strip celup (dipstick), dan pemeriksaan mikroskopis endapan urine (sedimen) [1]. Tes ini murah dan sering jadi petunjuk awal masalah ginjal, saluran kemih, atau gula darah. Lembar hasilnya panjang, jadi berikut cara membacanya per bagian. Bandingkan selalu dengan nilai rujukan di lembar lab kamu sendiri, karena metode tiap lab bisa berbeda.

Cara menampung urine yang benar

Hasil yang aneh sering berasal dari cara menampung. Yang dianjurkan adalah urine porsi tengah (midstream) yang ditampung bersih: bersihkan area kelamin, buang sedikit urine pertama ke toilet, lalu tampung bagian tengahnya [1]. Untuk menilai protein atau albumin, urine pagi pertama setelah bangun tidur lebih disukai [2]. Sampel sebaiknya diperiksa dalam 2 jam, atau disimpan di kulkas bila tidak bisa segera [1].

Kalau sedang haid, sebaiknya tunda. Darah haid bisa membuat tes darah di urine positif palsu [1] dan menaikkan kadar albumin serta protein urine [2]. Olahraga berat dan infeksi saluran kemih juga dapat menaikkan protein urine sementara [2].

Bagian 1: pemeriksaan fisik

  • Warna. Normalnya kuning muda sampai kuning tua, tergantung seberapa pekat. Obat, makanan, atau darah bisa mengubah warna [1].
  • Kejernihan. Urine keruh sering hanya karena kristal fosfat pada urine yang basa, tetapi bisa juga karena banyak sel darah putih (piuria) [1].
  • Berat jenis. Menggambarkan seberapa pekat urine. Kisarannya 1,003 sampai 1,030. Di bawah 1,010 menandakan banyak minum, di atas 1,020 mengarah ke kurang cairan [1].

Bagian 2: strip celup (kimia)

ParameterNormalArti bila abnormal
pH4,5 sampai 8,0, umumnya 5,5 sampai 6,5 [1]Dipengaruhi makanan, infeksi, dan batu
ProteinNegatifBisa sementara, atau tanda kebocoran ginjal bila menetap [1]
GlukosaNegatifMuncul bila gula darah melewati sekitar 180 sampai 200 mg/dL [1]
KetonNegatifTubuh membakar lemak, misalnya saat puasa lama atau diabetes tidak terkontrol [1]
DarahNegatifSel darah merah, hemoglobin, atau mioglobin [1]
Leukosit esteraseNegatifAda sel darah putih, sering karena infeksi [1]
NitritNegatifBakteri pengubah nitrat, mendukung infeksi [1]
BilirubinNegatifMengarah ke gangguan hati atau saluran empedu [1]
UrobilinogenSedikit (normal)Bisa berubah pada penyakit hati atau pemecahan sel darah merah [1]

Protein. Hasil strip ditulis negatif, trace, atau +1 sampai +4. Kira-kira, trace setara 5 sampai 10 mg/dL, +1 sekitar 30 mg/dL, +2 sekitar 100 mg/dL, dan +3 sekitar 300 mg/dL [1]. Protein yang hanya muncul sekali sering tidak berbahaya, tetapi yang menetap perlu diperiksa lanjut [1]. Strip positif sebaiknya dikonfirmasi dengan pemeriksaan kuantitatif seperti rasio albumin terhadap kreatinin urine (ACR) [2]. Kalau kamu memperhatikan kencing berbusa, baca juga apakah kencing berbusa pasti sakit ginjal.

Glukosa. Gula di urine biasanya berarti gula darah sedang tinggi, sehingga langkah berikutnya adalah cek gula darah puasa atau HbA1c.

Leukosit esterase dan nitrit. Keduanya membantu menduga infeksi saluran kemih. Leukosit esterase cukup peka (sensitivitas 72 sampai 97 persen), sedangkan nitrit jarang positif palsu (spesifisitas 92 sampai 100 persen) tetapi sering negatif walau ada infeksi (sensitivitas 19 sampai 48 persen) [1]. Jadi nitrit negatif belum menyingkirkan infeksi bila ada keluhan.

Vitamin C dosis tinggi dapat membuat hasil darah, glukosa, leukosit esterase, dan nitrit negatif palsu [1]. Sampaikan ke petugas kalau kamu rutin minum suplemen.

Bagian 3: sedimen (mikroskopis)

  • Eritrosit (sel darah merah). Bila ditemukan 3 atau lebih sel per lapang pandang besar (LPB), disebut hematuria mikroskopis. Penjelasan lengkapnya ada di artikel darah dalam urine. Penyebabnya bisa ringan seperti olahraga, bisa juga batu ginjal, infeksi, peradangan ginjal, atau tumor [1].
  • Leukosit (sel darah putih). Normalnya kurang dari 2 per LPB pada laki-laki dan kurang dari 5 per LPB pada perempuan [1].
  • Silinder (cast). Cetakan protein dari tubulus ginjal. Silinder hialin bisa ditemukan pada orang sehat, sedangkan silinder eritrosit, leukosit, atau berbutir lebih mengarah ke penyakit ginjal [1].
  • Kristal. Misalnya kalsium oksalat, asam urat, atau fosfat. Sebagian tidak bermakna, tetapi jenis tertentu terkait gangguan metabolik, batu, atau infeksi [1].
  • Sel epitel. Epitel gepeng (skuamosa) dalam jumlah banyak menandakan sampel tercemar kulit atau vagina [1]. Kalau ini tinggi, hasil lain sebaiknya ditafsirkan hati-hati dan mungkin perlu diulang.
  • Bakteri. Ada artinya bila sejalan dengan keluhan dan leukosit, karena bakteri juga bisa berasal dari pencemaran [1].

Langkah berikutnya

Satu hasil urine yang sedikit abnormal sering perlu diulang dengan cara tampung yang benar. Bila protein atau darah menetap, dokter biasanya memeriksa ACR, kreatinin dan eGFR, sebagai bagian dari penilaian penyakit ginjal kronis [2]. Orang dengan diabetes atau hipertensi termasuk kelompok yang dianjurkan memeriksa albumin urine secara berkala [2], seperti dibahas di diabetes dan ginjal.

Kapan harus ke dokter?

  • Urine merah, cokelat, atau ada gumpalan darah
  • Demam, menggigil, dan nyeri pinggang disertai nyeri saat kencing
  • Protein urine positif menetap pada dua kali pemeriksaan atau lebih
  • Glukosa atau keton urine positif disertai haus berat, mual, atau lemas
  • Bengkak di kaki atau kelopak mata disertai kencing berbusa

Pertanyaan terkait

Apakah kencing berbusa pasti sakit ginjal?Penyakit ginjal kronis: pengertian, stadium, dan pemeriksaannyaCara membaca hasil lab: nilai rujukan, tanda H dan L, dan satuanGula darah puasa: nilai normal, prediabetes, dan diabetes

Rujukan

  1. Simerville JA, Maxted WC, Pahira JJ. Urinalysis: a comprehensive review. Am Fam Physician. 2005;71(6):1153-1162. PMID 15791892 Lihat sumber
  2. Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO) CKD Work Group. KDIGO 2024 Clinical Practice Guideline for the Evaluation and Management of Chronic Kidney Disease. Kidney Int. 2024;105(4S):S117-S314. PMID 38490803 Lihat sumber

Riwayat artikel

  • Diterbitkan: 7 Oktober 2026

Artikel ini disusun Tim Redaksi Ginjalpedia dari pedoman klinis dan riset yang dikutip di bawah, dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter.

Laporkan kesalahan di artikel ini