PanduanPedoman klinisDasar

ALP dan GGT: arti hasil tes fungsi hati dan saluran empedu

Ringkasan

ALP berasal dari hati dan saluran empedu, tetapi juga dari tulang, plasenta saat hamil, dan tulang anak yang sedang tumbuh. GGT dipakai untuk memastikan ALP berasal dari hati, karena GGT tidak ada di tulang. ALP dan GGT yang sama sama naik menandakan aliran empedu terhambat, dan langkah pertama biasanya USG perut.

  • ALP ada di hati, saluran empedu, tulang, usus dan plasenta
  • ALP tinggi wajar pada anak yang tumbuh dan ibu hamil
  • GGT tidak ada di tulang, jadi membantu memastikan ALP berasal dari hati
  • GGT tinggi sendirian sering karena alkohol, kegemukan atau obat
  • Pola kolestatik biasanya dilanjutkan dengan USG perut
Gambar anatomi kantong empedu dan saluran empedu
Gambar: Dr. Swapnil Banerjee, CC BY-SA 4.0

ALP (alkali fosfatase) dan GGT (gamma glutamil transferase) adalah dua enzim yang sering ada di panel tes hati. Keduanya paling berguna untuk menilai saluran empedu, yaitu pipa kecil yang membawa cairan empedu dari hati ke usus. Hasilnya dibaca bersama SGOT dan SGPT serta bilirubin [1][2].

Dari mana ALP berasal

ALP terutama dibuat di hati, oleh sel yang melapisi saluran empedu. ALP juga banyak terdapat di tulang, dan dalam jumlah lebih kecil di usus, ginjal dan sel darah putih [2]. Artinya, ALP yang tinggi belum tentu masalah hati.

Ada beberapa keadaan ketika ALP tinggi itu wajar:

  • Anak dan remaja yang sedang tumbuh. Kadarnya memang lebih tinggi karena tulang sedang bertumbuh [2]. Pada remaja laki laki, ALP bisa 2 sampai 5 kali kadar orang dewasa [3].
  • Kehamilan. Plasenta ikut membuat ALP, sehingga kadarnya naik secara alami [2]. Karena itu ALP kurang berguna untuk mendiagnosis masalah hati pada ibu hamil [3].
  • Setelah makan berlemak. Pada orang bergolongan darah O atau B, ALP dari usus bisa naik setelah makan makanan berlemak [3].

Penyakit tulang juga bisa menaikkan ALP. Dokter akan menilai ini bersama keluhan dan hasil lain.

Peran GGT: memastikan asal ALP

GGT banyak terdapat di hati, juga di ginjal, usus, prostat dan pankreas, tetapi tidak ada di tulang [2]. Jadi, bila ALP tinggi dan GGT juga tinggi, kemungkinan besar ALP berasal dari hati atau saluran empedu. Bila ALP tinggi tetapi GGT normal, sumber dari tulang lebih mungkin [2].

GGT sendiri tidak spesifik. Penyebab tersering GGT tinggi adalah kegemukan, minum alkohol berlebihan, dan pengaruh obat tertentu [2]. GGT yang naik sendirian tanpa kelainan lain karena itu perlu dibaca dengan hati hati, dan sering berkaitan dengan gaya hidup.

Pola kolestatik

Kolestasis berarti aliran empedu terhambat, bisa di dalam hati atau di saluran di luar hati. Pedoman American College of Gastroenterology (ACG) menyebut cedera kolestatik bila kenaikan ALP lebih menonjol dibanding SGOT dan SGPT. Bila SGOT dan SGPT yang lebih menonjol, polanya disebut hepatoseluler [1]. Pedoman BSG menyebut ALP dan GGT yang sama sama naik menandakan kolestasis [2].

Pola hasilArah yang biasanya dipikirkan
ALP tinggi, GGT tinggiSumber hati atau saluran empedu, pola kolestatik [2]
ALP tinggi, GGT normalSumber tulang lebih mungkin, atau keadaan wajar seperti masa tumbuh dan kehamilan [2]
GGT tinggi sendirianSering karena alkohol, kegemukan atau obat [2]
SGOT dan SGPT jauh lebih tinggi daripada ALPPola hepatoseluler, masalah di sel hati [1]

Rentang normal ALP dan GGT berbeda antarlab, dan ALP juga dipengaruhi usia. Bandingkan selalu dengan rentang rujukan di lembar lab kamu sendiri. Panduan umumnya ada di cara membaca hasil lab.

Penyebab ALP tinggi dari hati

Kalau ALP terbukti berasal dari hati, penyebab yang dicari antara lain sumbatan saluran empedu (misalnya batu atau tumor), obat yang mengganggu aliran empedu, dan penyakit saluran empedu kronis. ACG menganjurkan pemeriksaan untuk kolangitis bilier primer (PBC) dan kolangitis sklerosing primer (PSC), dua penyakit peradangan saluran empedu [1]. Penanda khas PBC adalah antibodi antimitokondria (AMA), yang positif pada 90 sampai 95% pasien [3].

Langkah selanjutnya

Bila pola kolestatik ditemukan, langkah pertama yang lazim adalah USG perut. USG adalah pemeriksaan gambar pertama yang dianjurkan karena paling tidak invasif dan paling murah [3][4]. USG bisa menunjukkan pelebaran saluran empedu, batu, atau perlemakan hati. Pedoman BSG memasukkan USG perut, HBsAg, anti-HCV dan AMA dalam pemeriksaan penyebab dasar untuk orang dewasa dengan tes hati yang tidak normal [2]. Bila perlu gambaran saluran empedu yang lebih rinci, dokter bisa meminta MRCP, yaitu MRI khusus saluran empedu [3].

BSG juga menyarankan agar tes hati yang tidak normal dicari penyebabnya, dan tidak hanya diulang terus, kecuali dokter cukup yakin kelainannya sementara [2]. Bila SGPT juga naik, baca SGPT tinggi: penyebab tersering.

Persiapan sebelum tes

ALP dan GGT tidak wajib puasa, tetapi karena makanan berlemak bisa menaikkan ALP pada sebagian orang [3], mengikuti instruksi puasa dari lab membantu hasil lebih rapi. Baca juga puasa sebelum cek darah. Sebutkan bila kamu sedang hamil, rutin minum alkohol, atau memakai obat, jamu dan suplemen.

Kapan harus ke dokter?

  • Kulit atau mata menguning
  • Urine gelap seperti teh dan tinja pucat seperti dempul
  • Demam menggigil dengan nyeri perut kanan atas
  • Gatal di seluruh tubuh yang menetap disertai ALP tinggi
  • Berat badan turun tanpa sebab disertai ALP dan GGT tinggi

Pertanyaan terkait

Bilirubin tinggi: arti hasil total, direk, dan indirekSGOT dan SGPT: arti hasil tes fungsi hatiSGPT tinggi: penyebab tersering dan langkah selanjutnyaCara membaca hasil lab: nilai rujukan, tanda H dan L, dan satuan

Rujukan

  1. Kwo PY, Cohen SM, Lim JK. ACG Clinical Guideline: Evaluation of Abnormal Liver Chemistries. Am J Gastroenterol. 2017;112(1):18-35 Lihat sumber
  2. Newsome PN, Cramb R, Davison SM, et al. Guidelines on the management of abnormal liver blood tests. Gut. 2018;67(1):6-19 Lihat sumber
  3. Siddique A, Kowdley KV. Approach to a patient with elevated serum alkaline phosphatase. Clin Liver Dis. 2012;16(2):199-229 Lihat sumber
  4. Fargo MV, Grogan SP, Saguil A. Evaluation of Jaundice in Adults. Am Fam Physician. 2017;95(3):164-168 Lihat sumber

Riwayat artikel

  • Diterbitkan: 7 Oktober 2026

Artikel ini disusun Tim Redaksi Ginjalpedia dari pedoman klinis dan riset yang dikutip di bawah, dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter.

Laporkan kesalahan di artikel ini