Spirometri: cara membaca hasil tes fungsi paru
Ringkasan
Spirometri mengukur FVC (total udara yang dihembuskan), FEV1 (udara di detik pertama), dan rasio FEV1/FVC. Rasio rendah berarti pola obstruktif, seperti asma atau PPOK; GOLD memakai batas di bawah 0,70 setelah bronkodilator untuk PPOK. FVC rendah dengan rasio normal mengarah ke restriksi, yang perlu dipastikan dengan tes volume paru. Hasil hanya sahih bila tiupannya maksimal.
- FEV1/FVC rendah berarti pola obstruktif
- GOLD: PPOK bila FEV1/FVC di bawah 0,70 setelah bronkodilator
- ERS/ATS 2022 memakai batas bawah normal (LLN) atau z-score di bawah minus 1,645
- Restriksi tidak bisa dipastikan dengan spirometri saja
- Berhenti merokok memperlambat penurunan fungsi paru

Spirometri adalah tes fungsi paru yang mengukur berapa banyak udara yang bisa kamu hembuskan dan seberapa cepat. Caranya: kamu menarik napas sedalam mungkin, menutup bibir rapat di corong, lalu meniup sekuat dan secepat mungkin sampai udara benar-benar habis. Hidung biasanya dijepit. Tes ini sering ada di medical check-up pekerja, terutama di lingkungan berdebu atau bagi perokok.
Tiga angka utama
| Singkatan | Arti |
|---|---|
| FVC | Kapasitas vital paksa: total udara yang bisa dihembuskan sekuat tenaga setelah tarik napas maksimal |
| FEV1 | Volume udara yang keluar pada detik pertama tiupan |
| FEV1/FVC | Perbandingan keduanya, yaitu berapa bagian udara yang keluar di detik pertama |
Hasil biasanya ditulis dalam liter, persen dari nilai prediksi, dan pada mesin yang lebih baru juga z-score. Nilai prediksi adalah angka yang diharapkan untuk orang sehat dengan usia, tinggi badan, dan jenis kelamin yang sama.
Persen prediksi, LLN, dan z-score
Dulu banyak laporan memakai patokan 80% prediksi sebagai batas normal. Standar interpretasi ERS/ATS 2022 menganjurkan cara lain: hasil dianggap rendah bila berada di bawah batas bawah normal atau LLN (lower limit of normal), yaitu persentil ke-5 orang sehat. Dalam z-score, batas ini sama dengan minus 1,645 [2]. Z-score menunjukkan seberapa jauh hasilmu dari rata-rata orang sehat seusiamu. Cara ini lebih adil untuk orang muda dan orang tua dibanding patokan persen yang tetap [2].
Standar yang sama juga memakai z-score FEV1 untuk menilai berat ringannya gangguan: minus 1,65 sampai minus 2,5 ringan, minus 2,51 sampai minus 4 sedang, dan di bawah minus 4 berat [2].
Pola obstruktif dan restriktif
Obstruktif
Pola obstruktif berarti saluran napas menyempit sehingga udara sulit keluar dengan cepat. FEV1 turun lebih banyak daripada FVC, sehingga rasio FEV1/FVC menjadi rendah. Menurut ERS/ATS 2022, obstruksi ditetapkan bila FEV1/FVC di bawah LLN [2]. Contoh penyebabnya adalah asma dan PPOK (penyakit paru obstruktif kronis), yang paling sering terkait rokok.
Untuk diagnosis PPOK, laporan GOLD memakai patokan yang lebih sederhana: rasio FEV1/FVC di bawah 0,70 setelah diberi obat pelega saluran napas (bronkodilator) [3][4]. Tes setelah bronkodilator penting, karena pada asma penyempitan sering membaik setelah obat. ERS/ATS 2022 menyebut respons bronkodilator bermakna bila FEV1 atau FVC naik lebih dari 10% dari nilai prediksinya [2]. Pada PPOK, berat ringannya hambatan dibagi berdasarkan FEV1: GOLD 1 bila 80% prediksi atau lebih, GOLD 2 bila 50 sampai 79%, GOLD 3 bila 30 sampai 49%, dan GOLD 4 bila di bawah 30% [3].
Patokan 0,70 dan patokan LLN kadang memberi hasil berbeda. Rasio tetap 0,70 cenderung memberi label obstruksi berlebihan pada orang lanjut usia, dan bisa melewatkan obstruksi pada orang muda [2]. Karena itu dokter membaca angka ini bersama keluhan dan riwayat merokok.
Restriktif
Pola restriktif berarti paru tidak bisa mengembang penuh, misalnya karena jaringan parut paru, kelainan dinding dada, atau obesitas berat. Di spirometri, FVC rendah sedangkan rasio FEV1/FVC normal atau tinggi. Spirometri saja tidak cukup untuk memastikan restriksi. Diagnosisnya perlu pengukuran volume paru total (TLC) di laboratorium fungsi paru [2]. Jadi kalau hasil MCU menulis “restriksi ringan”, anggap itu dugaan yang perlu dikonfirmasi. Lihat juga IMT dan lingkar perut, karena berat badan berlebih bisa ikut menurunkan FVC.
Hasil hanya sebaik usaha tiupannya
Spirometri sangat bergantung pada usaha. Tiupan yang kurang kuat, berhenti terlalu cepat, atau batuk di tengah tiupan bisa membuat hasil tampak seperti gangguan paru padahal tidak. Standar ATS/ERS 2019 meminta minimal tiga tiupan yang dapat diterima, dan dua nilai FVC dan FEV1 terbesar tidak boleh berbeda lebih dari 150 mL [1]. Laporan yang baik biasanya mencantumkan nilai mutu tes. Sebelum tes, hindari merokok dan olahraga berat dalam 1 jam, dan pakai baju yang tidak ketat [1]. Kalau kamu memakai obat inhaler, tanyakan ke dokter apakah perlu ditunda sebelum tes.
Spirometri pada orang tanpa keluhan
USPSTF tidak menganjurkan skrining PPOK dengan spirometri pada orang dewasa yang tidak punya keluhan pernapasan, karena tidak terbukti memberi manfaat bersih [5]. Spirometri lebih berguna bila kamu punya batuk lama, dahak menahun, sesak saat beraktivitas, atau riwayat merokok dan paparan debu. Rontgen dada tidak bisa menggantikan spirometri; baca arti hasil rontgen dada.
Kalau hasilnya obstruktif dan kamu merokok
Berhenti merokok adalah langkah yang paling berpengaruh. Dalam Lung Health Study, perokok usia 35 sampai 60 tahun dengan obstruksi ringan yang berhasil berhenti merokok mengalami penurunan FEV1 yang jauh lebih lambat dibanding yang terus merokok [6]. GOLD juga menempatkan berhenti merokok sebagai bagian utama penanganan PPOK [3][4]. Kalau sulit berhenti sendiri, minta bantuan dokter atau layanan berhenti merokok di puskesmas.
Kapan harus ke dokter?
- Sesak napas yang makin berat, terutama saat istirahat atau membuat sulit bicara
- Bibir atau ujung jari kebiruan
- Batuk darah, atau batuk lebih dari 2 minggu disertai demam dan berat badan turun
- Hasil spirometri menunjukkan obstruksi sedang atau berat, atau FEV1 di bawah 50% prediksi
- Mengi atau sesak yang tidak membaik dengan obat pelega yang biasa dipakai
Pertanyaan terkait
Rontgen dada (thorax): arti hasil di medical check-upMedical check-up: pemeriksaan apa yang perlu sesuai usiaIMT dan lingkar perut: cara menghitung dan batas untuk orang AsiaRujukan
- Graham BL, Steenbruggen I, Miller MR, et al. Standardization of spirometry 2019 update. An official American Thoracic Society and European Respiratory Society technical statement. Am J Respir Crit Care Med. 2019;200(8):e70-e88 Lihat sumber
- Stanojevic S, Kaminsky DA, Miller MR, et al. ERS/ATS technical standard on interpretive strategies for routine lung function tests. Eur Respir J. 2022;60(1):2101499 Lihat sumber
- Agusti A, Celli BR, Criner GJ, et al. Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease 2023 Report: GOLD Executive Summary. Eur Respir J. 2023;61(4):2300239 Lihat sumber
- Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease. Global strategy for prevention, diagnosis and management of COPD: 2025 report Lihat sumber
- US Preventive Services Task Force; Mangione CM, Barry MJ, Nicholson WK, et al. Screening for chronic obstructive pulmonary disease: US Preventive Services Task Force reaffirmation recommendation statement. JAMA. 2022;327(18):1806-1811 Lihat sumber
- Anthonisen NR, Connett JE, Kiley JP, et al. Effects of smoking intervention and the use of an inhaled anticholinergic bronchodilator on the rate of decline of FEV1. The Lung Health Study. JAMA. 1994;272(19):1497-505 Lihat sumber
Riwayat artikel
- Diterbitkan: 7 Oktober 2026
Artikel ini disusun Tim Redaksi Ginjalpedia dari pedoman klinis dan riset yang dikutip di bawah, dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter.
Laporkan kesalahan di artikel ini