Kolesterol non-HDL dan rasio kolesterol: cara menghitung dan artinya
Ringkasan
Kolesterol non-HDL adalah kolesterol total dikurangi HDL, mencakup semua kolesterol yang bisa membentuk plak. Non-HDL 150 mg/dL atau lebih umumnya ditandai abnormal. Target pengobatannya sekitar 30 mg/dL di atas target LDL: di bawah 85, 100, atau 130 mg/dL sesuai risiko. Angka ini sangat berguna saat trigliserida tinggi atau sampel tidak puasa.
- Non-HDL = kolesterol total dikurangi HDL
- Non-HDL 150 mg/dL atau lebih umumnya ditandai abnormal
- Target non-HDL di bawah 85, 100, atau 130 mg/dL untuk risiko sangat tinggi, tinggi, dan sedang
- Lebih berguna dari LDL saja bila trigliserida tinggi, ada diabetes, atau sampel tidak puasa
- Rasio total/HDL hanya informasi tambahan, target pengobatan memakai LDL dan non-HDL

Di lembar profil lemak, sebagian lab mencantumkan “kolesterol non-HDL” atau “rasio kolesterol total/HDL”. Kalau tidak tercantum, kamu bisa menghitungnya sendiri dari angka yang sudah ada. Artikel ini menjelaskan cara menghitung, arti angkanya, dan kapan angka ini lebih berguna daripada LDL saja.
Apa itu kolesterol non-HDL
Kolesterol non-HDL adalah semua kolesterol di darah selain yang dibawa HDL. Isinya kolesterol di LDL, di partikel kaya trigliserida beserta sisa-sisanya, dan di lipoprotein(a). Semua partikel ini bisa ikut membentuk plak di dinding pembuluh darah [1]. Jadi non-HDL menggambarkan seluruh “muatan” kolesterol yang berpotensi merugikan, sedangkan LDL hanya salah satu bagiannya.
Cara menghitung
Rumusnya sederhana [1]:
Non-HDL = kolesterol total dikurangi kolesterol HDL
Contoh: hasil lab kamu menunjukkan kolesterol total 220 mg/dL dan HDL 45 mg/dL. Maka non-HDL kamu 220 dikurangi 45, yaitu 175 mg/dL. Pastikan kedua angka memakai satuan yang sama. Kalau hasilnya dalam mmol/L, kurangkan saja dalam mmol/L.
Batas dan target non-HDL
Untuk orang pada umumnya, European Atherosclerosis Society bersama federasi laboratorium klinik Eropa menyarankan lab menandai non-HDL 150 mg/dL (3,9 mmol/L) atau lebih sebagai abnormal [2]. Pada contoh di atas, 175 mg/dL sudah melewati batas itu.
Bagi orang yang sedang diobati, pedoman ESC/EAS 2019 menetapkan target non-HDL sebagai sasaran kedua setelah LDL. Targetnya sekitar 30 mg/dL di atas target LDL untuk kategori risiko yang sama [1]:
| Kategori risiko | Target LDL | Target non-HDL |
|---|---|---|
| Sangat tinggi | di bawah 55 mg/dL (1,4 mmol/L) | di bawah 85 mg/dL (2,2 mmol/L) |
| Tinggi | di bawah 70 mg/dL (1,8 mmol/L) | di bawah 100 mg/dL (2,6 mmol/L) |
| Sedang | di bawah 100 mg/dL (2,6 mmol/L) | di bawah 130 mg/dL (3,4 mmol/L) |
Kategori risiko ditentukan dokter dari usia, tekanan darah, rokok, diabetes, riwayat penyakit jantung atau stroke, dan fungsi ginjal. Dalam pedoman ini, penyakit ginjal kronis sedang masuk risiko tinggi dan penyakit ginjal kronis berat masuk risiko sangat tinggi [1]. Penjelasan lebih lengkap ada di kenapa target LDL tiap orang berbeda. Tetap bandingkan dengan nilai rujukan yang tercetak di lembar hasil lab kamu.
Kapan non-HDL lebih berguna dari LDL
Pedoman ESC/EAS menyarankan non-HDL dipakai untuk menilai risiko, terutama pada orang dengan trigliserida tinggi, diabetes, obesitas, atau LDL yang sangat rendah [1]. Alasannya begini. Pada keadaan itu, banyak kolesterol berpindah ke partikel kaya trigliserida, sehingga LDL saja bisa terlihat “lumayan” padahal muatan kolesterol yang merugikan sebenarnya tinggi.
Ada alasan teknis juga. Di banyak lab, LDL tidak diukur langsung tetapi dihitung dengan rumus yang memakai angka trigliserida, dan hasil hitungan ini makin kurang tepat saat trigliserida tinggi [1][2]. Non-HDL cukup memakai kolesterol total dan HDL, jadi tidak terpengaruh masalah ini.
Non-HDL juga cocok untuk sampel tanpa puasa. Setelah makan biasa, kolesterol total hanya turun sedikit dan HDL tidak berubah [2], jadi non-HDL tetap bisa dibaca. Soal perlu puasa atau tidak, lihat puasa sebelum cek darah.
Rasio kolesterol total/HDL
Rasio ini didapat dengan membagi kolesterol total dengan HDL. Pada contoh tadi, 220 dibagi 45 hasilnya sekitar 4,9. Sebuah analisis besar dari 61 studi menemukan bahwa di antara beberapa indeks sederhana yang melibatkan HDL, rasio ini paling kuat memprediksi kematian karena penyakit jantung koroner [3].
Meski begitu, baca rasio ini dengan hati-hati:
- Pedoman ESC/EAS menetapkan target pengobatan dalam bentuk LDL dan non-HDL, tidak dalam bentuk rasio [1]. Dokter menentukan langkah pengobatan dari angka-angka itu.
- Rasio bisa menyamarkan kolesterol yang tinggi. Contohnya, kolesterol total 260 mg/dL dengan HDL 80 mg/dL menghasilkan rasio sekitar 3,3 yang tampak bagus, padahal non-HDL-nya 180 mg/dL.
- Batas rasio yang dicetak di lembar lab bisa berbeda antar laboratorium.
Jadi kalau lab kamu mencantumkan rasio, anggap itu informasi tambahan. Yang lebih penting dibahas dengan dokter adalah LDL, non-HDL, dan kategori risiko kamu, terutama bila kamu punya penyakit ginjal kronis atau diabetes.
Kapan harus ke dokter?
- Non-HDL jauh di atas target padahal kamu punya penyakit ginjal kronis, diabetes, atau riwayat penyakit jantung
- Kolesterol tinggi disertai keluarga yang terkena serangan jantung di usia muda
- Trigliserida sangat tinggi disertai nyeri perut atas yang hebat
- Nyeri dada, sesak, atau lemah separuh badan: segera ke IGD
Pertanyaan terkait
Profil lemak: cara membaca kolesterol total, LDL, HDL, dan trigliseridaKolesterol LDL: kenapa targetnya beda tiap orangTrigliserida tinggi: penyebab dan cara menurunkanHDL rendah: artinya dan apakah perlu dinaikkanRujukan
- Mach F, Baigent C, Catapano AL, et al. 2019 ESC/EAS Guidelines for the management of dyslipidaemias: lipid modification to reduce cardiovascular risk. Eur Heart J. 2020;41(1):111-188 Lihat sumber
- Nordestgaard BG, Langsted A, Mora S, et al. Fasting is not routinely required for determination of a lipid profile: clinical and laboratory implications including flagging at desirable concentration cut-points. A joint consensus statement from the European Atherosclerosis Society and European Federation of Clinical Chemistry and Laboratory Medicine. Eur Heart J. 2016;37(25):1944-1958 Lihat sumber
- Prospective Studies Collaboration; Lewington S, Whitlock G, Clarke R, et al. Blood cholesterol and vascular mortality by age, sex, and blood pressure: a meta-analysis of individual data from 61 prospective studies with 55,000 vascular deaths. Lancet. 2007;370(9602):1829-1839 Lihat sumber
Riwayat artikel
- Diterbitkan: 7 Oktober 2026
Artikel ini disusun Tim Redaksi Ginjalpedia dari pedoman klinis dan riset yang dikutip di bawah, dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter.
Laporkan kesalahan di artikel ini