Profil lemak: cara membaca kolesterol total, LDL, HDL, dan trigliserida
Ringkasan
Profil lemak berisi kolesterol total, LDL, HDL, dan trigliserida. Target LDL bergantung pada risiko jantung kamu: di bawah 55, 70, 100, atau 116 mg/dL menurut pedoman ESC/EAS. HDL 40 mg/dL atau kurang dan trigliserida puasa 150 mg/dL atau lebih dianggap abnormal. Untuk tes rutin, sampel tanpa puasa umumnya sudah cukup.
- LDL adalah sasaran utama, dan targetnya bergantung pada kategori risiko kamu
- Penyakit ginjal kronis menaikkan kategori risiko, jadi target LDL lebih rendah
- HDL 40 mg/dL atau kurang dan trigliserida puasa 150 mg/dL atau lebih ditandai abnormal
- Untuk tes rutin, sampel tanpa puasa umumnya cukup, tapi ikuti petunjuk lab
- Angka pengali mg/dL ke mmol/L berbeda untuk kolesterol dan trigliserida

Profil lemak, sering juga disebut profil lipid, adalah satu paket tes darah yang mengukur beberapa jenis lemak dalam darah. Hasilnya dipakai dokter untuk menilai risiko penyakit jantung dan pembuluh darah, seperti serangan jantung dan stroke. Tes ini rutin ada di medical check-up.
Isi lembar hasil profil lemak
- Kolesterol total: jumlah semua kolesterol di darah.
- LDL (low-density lipoprotein): kolesterol yang paling erat kaitannya dengan penumpukan plak di dinding pembuluh darah. Angka ini yang paling sering dijadikan sasaran pengobatan [1].
- HDL (high-density lipoprotein): kolesterol yang ikut mengangkut lemak keluar dari pembuluh darah.
- Trigliserida: lemak yang naik-turun mengikuti makanan, terutama gula, tepung, dan alkohol.
- Non-HDL: kolesterol total dikurangi HDL. Angka ini mencakup semua kolesterol yang bisa membentuk plak, dan sebagian lab sudah mencantumkannya.
Batas yang dianggap tinggi atau rendah
European Atherosclerosis Society bersama federasi laboratorium klinik Eropa menyarankan lab menandai hasil berikut sebagai abnormal [3]:
| Pemeriksaan | Ditandai abnormal bila |
|---|---|
| Kolesterol total | 190 mg/dL (5 mmol/L) atau lebih |
| LDL | 115 mg/dL (3 mmol/L) atau lebih |
| Non-HDL | 150 mg/dL (3,9 mmol/L) atau lebih |
| HDL | 40 mg/dL (1 mmol/L) atau kurang |
| Trigliserida, sampel tidak puasa | 175 mg/dL (2 mmol/L) atau lebih |
| Trigliserida, sampel puasa | 150 mg/dL (1,7 mmol/L) atau lebih |
Angka di atas adalah batas “perlu diperhatikan” untuk orang pada umumnya. Bandingkan juga dengan nilai rujukan di lembar hasil lab kamu, karena tiap lab bisa memakai batas sendiri.
Target LDL bergantung pada risiko kamu
Ini bagian yang sering membingungkan. Tidak ada satu angka LDL “normal” yang berlaku untuk semua orang. Pedoman ESC/EAS 2019 menentukan target LDL berdasarkan tingkat risiko kardiovaskular [1], dan pembaruan 2025 menyatakan target ini tidak berubah [2]:
| Kategori risiko | Target LDL |
|---|---|
| Sangat tinggi | di bawah 55 mg/dL (1,4 mmol/L) |
| Tinggi | di bawah 70 mg/dL (1,8 mmol/L) |
| Sedang | di bawah 100 mg/dL (2,6 mmol/L) |
| Rendah | di bawah 116 mg/dL (3,0 mmol/L) |
Kategori risiko ditentukan dokter dari usia, tekanan darah, kebiasaan merokok, diabetes, riwayat penyakit jantung atau stroke, dan fungsi ginjal. Dalam pedoman ini, penyakit ginjal kronis sedang (eGFR 30 sampai 59) masuk risiko tinggi, dan penyakit ginjal kronis berat (eGFR di bawah 30) masuk risiko sangat tinggi [1]. Artinya LDL 110 mg/dL bisa dianggap cukup bagi orang muda yang sehat, tetapi terlalu tinggi bagi orang dengan penyakit ginjal kronis atau diabetes dengan kerusakan ginjal.
Kalau hasilnya tinggi
LDL atau non-HDL yang tinggi berarti lebih banyak kolesterol yang bisa menumpuk di pembuluh darah dari waktu ke waktu. Trigliserida tinggi sering muncul bersama kelebihan berat badan, gula darah tinggi, dan alkohol. LDL yang sangat tinggi, di atas 190 mg/dL (5 mmol/L), bisa menandakan kelainan bawaan bernama hiperkolesterolemia familial [3]. Trigliserida di atas 880 mg/dL (10 mmol/L) berisiko memicu radang pankreas dan perlu dirujuk tersendiri [3].
Kalau HDL rendah
HDL yang rendah ikut menaikkan risiko kardiovaskular dan sering berjalan bersama trigliserida tinggi. Dokter biasanya menilai HDL bersama angka lain, tidak berdiri sendiri.
Perlu puasa atau tidak?
Untuk pemeriksaan rutin, sampel tidak puasa umumnya sudah cukup [3]. Setelah makan biasa, perubahan rata-rata maksimal kecil: trigliserida naik sekitar 26 mg/dL, sementara kolesterol total dan LDL turun sekitar 8 mg/dL. HDL tidak terpengaruh [3]. Pemeriksaan puasa bisa dipertimbangkan bila trigliserida tidak puasa di atas 440 mg/dL (5 mmol/L) [3]. Banyak lab di Indonesia tetap meminta puasa, terutama bila profil lemak diperiksa bersama gula darah puasa. Ikuti petunjuk lab atau dokter kamu, dan lihat juga puasa sebelum cek darah.
Satuan mg/dL dan mmol/L
Lab di Indonesia umumnya memakai mg/dL. Kalau hasil kamu dalam mmol/L, ingat bahwa angka pengali untuk kolesterol dan trigliserida berbeda. Contohnya, 3 mmol/L kolesterol LDL setara 115 mg/dL, sedangkan 2 mmol/L trigliserida setara 175 mg/dL [3]. Jangan memakai satu angka pengali untuk keduanya.
Pemeriksaan tambahan: Lp(a)
Pembaruan pedoman 2025 menyarankan lipoprotein(a), atau Lp(a), diperiksa setidaknya sekali seumur hidup pada orang dewasa. Kadar di atas 50 mg/dL dapat dipakai untuk memperhalus penilaian risiko [2]. Kadarnya sebagian besar ditentukan faktor keturunan.
Kapan harus ke dokter?
- LDL di atas 190 mg/dL, terutama bila ada keluarga yang terkena serangan jantung di usia muda
- Trigliserida di atas 880 mg/dL, apalagi disertai nyeri perut atas yang hebat
- Nyeri dada, sesak, atau lemah separuh badan: segera ke IGD
- Kamu punya penyakit ginjal kronis atau diabetes dan belum pernah membahas target LDL dengan dokter
Pertanyaan terkait
Cara membaca hasil lab: nilai rujukan, tanda H dan L, dan satuanPerlu puasa sebelum cek darah? Pemeriksaan yang wajib puasaBagaimana diabetes bisa merusak ginjal?Tensi tinggi dan ginjal: mana yang lebih dulu?Rujukan
- Mach F, Baigent C, Catapano AL, et al. 2019 ESC/EAS Guidelines for the management of dyslipidaemias: lipid modification to reduce cardiovascular risk. Eur Heart J. 2020;41(1):111-188 Lihat sumber
- Mach F, Koskinas KC, Roeters van Lennep JE, et al. 2025 Focused Update of the 2019 ESC/EAS Guidelines for the management of dyslipidaemias. Eur Heart J. 2025;46(42):4359-4378 Lihat sumber
- Nordestgaard BG, Langsted A, Mora S, et al. Fasting is not routinely required for determination of a lipid profile: clinical and laboratory implications including flagging at desirable concentration cut-points. A joint consensus statement from the European Atherosclerosis Society and European Federation of Clinical Chemistry and Laboratory Medicine. Eur Heart J. 2016;37(25):1944-1958 Lihat sumber
Riwayat artikel
- Diterbitkan: 7 Oktober 2026
Artikel ini disusun Tim Redaksi Ginjalpedia dari pedoman klinis dan riset yang dikutip di bawah, dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter.
Laporkan kesalahan di artikel ini