PanduanPedoman klinisDasar

IMT dan lingkar perut: cara menghitung dan batas untuk orang Asia

Ringkasan

IMT adalah berat badan (kg) dibagi tinggi badan (m) kuadrat. Untuk orang Asia, WHO Asia Pasifik menyebut berat badan lebih mulai IMT 23 dan obesitas mulai 25. Kemenkes memakai normal 18,5 sampai 25,0 dan obesitas di atas 27,0. Lingkar perut 90 cm (laki-laki) atau 80 cm (perempuan) ke atas menandakan obesitas sentral.

  • IMT = berat (kg) dibagi tinggi (m) kuadrat
  • Orang Asia berisiko diabetes dan penyakit jantung pada IMT lebih rendah daripada orang Eropa
  • WHO Asia Pasifik: berat badan lebih mulai 23, obesitas mulai 25; Kemenkes: obesitas di atas 27,0
  • Lingkar perut Asia: waspada bila 90 cm atau lebih (laki-laki) dan 80 cm atau lebih (perempuan)
  • IMT tidak membedakan otot dan lemak, jadi baca bersama lingkar perut
Petugas mengukur lingkar perut seorang laki-laki dengan pita ukur
Gambar: Department of Defense. American Forces Information Service. Defense Visual Information Center. 1994, Public domain

Di lembar medical check-up, berat dan tinggi badan biasanya diubah menjadi satu angka bernama IMT (indeks massa tubuh), atau BMI dalam bahasa Inggris. Banyak klinik juga mencatat lingkar perut. Dua angka ini dipakai untuk menilai apakah berat badanmu sudah menambah risiko diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan penyakit ginjal.

Cara menghitung IMT

Rumusnya: berat badan dalam kilogram dibagi tinggi badan dalam meter yang dikuadratkan [3].

IMT = berat (kg) ÷ (tinggi (m) × tinggi (m))

Contoh: berat 70 kg, tinggi 165 cm.

  1. Ubah tinggi ke meter: 165 cm = 1,65 m.
  2. Kuadratkan: 1,65 × 1,65 = 2,72.
  3. Bagi berat dengan hasil tadi: 70 ÷ 2,72 = 25,7.

IMT orang ini 25,7 kg/m². Apa artinya tergantung tabel mana yang dipakai, seperti dijelaskan di bawah.

Kenapa batas untuk orang Asia lebih rendah

Batas internasional WHO menyebut kelebihan berat badan mulai IMT 25 dan obesitas mulai 30. Masalahnya, pada IMT yang sama, orang Asia rata-rata punya persentase lemak tubuh lebih tinggi daripada orang Eropa. Sebuah konsultasi pakar WHO menyimpulkan bahwa cukup banyak orang Asia sudah berisiko tinggi terkena diabetes tipe 2 dan penyakit jantung pada IMT di bawah 25 [2]. Ambang risikonya bervariasi antar populasi Asia, kira-kira mulai dari 22 sampai 25 [2]. WHO tetap mempertahankan klasifikasi internasional, tetapi menambahkan titik tindakan kesehatan masyarakat di 23 dan 27,5 [2].

Tiga tabel yang sering kamu temui

KategoriWHO Asia Pasifik 2000 [1]Kemenkes RI [3]
Kurusdi bawah 18,5di bawah 18,5
Normal18,5 sampai 22,918,5 sampai 25,0
Berat badan lebih23 sampai 24,9di atas 25,0 sampai 27,0 (gemuk)
Obesitas25 atau lebihdi atas 27,0

Kemenkes juga membagi kurus menjadi dua: sangat kurus di bawah 17,0 dan kurus 17,0 sampai di bawah 18,5 [3]. Menurut Kemenkes, batas Indonesia diambil dari ketentuan FAO/WHO lalu disesuaikan dengan pengalaman klinis dan penelitian di negara berkembang [3].

Kembali ke contoh tadi: IMT 25,7 termasuk obesitas menurut tabel Asia Pasifik [1], tetapi masuk “gemuk” atau kelebihan berat badan tingkat ringan menurut Kemenkes [3]. Lab atau klinik bisa memakai salah satunya, jadi lihat keterangan kategori di lembar hasilmu sendiri. Apa pun tabelnya, angka 25,7 sudah di atas rentang normal.

Lingkar perut

IMT tidak bisa membedakan lemak di perut dari lemak di bagian tubuh lain. Lemak yang menumpuk di dalam rongga perut, di sekitar organ dalam, disebut lemak viseral. Lemak inilah yang paling erat kaitannya dengan gangguan gula darah, lemak darah, dan tekanan darah [5]. Lingkar perut memberi informasi tambahan di luar IMT dalam memperkirakan risiko penyakit dan kematian, sehingga sebuah konsensus internasional menyarankan agar lingkar perut diukur rutin seperti tanda vital [5].

Untuk orang Asia Selatan dan Tionghoa, Federasi Diabetes Internasional (IDF) memakai batas obesitas sentral 90 cm atau lebih pada laki-laki dan 80 cm atau lebih pada perempuan [4]. Pedoman WHO Asia Pasifik juga memakai angka 90 cm dan 80 cm [1].

Cara mengukur: berdiri tegak, buang napas biasa, lalu lingkarkan pita ukur secara mendatar di pertengahan antara tulang rusuk paling bawah dan puncak tulang panggul. Pita tidak boleh menekan kulit. Cara ini adalah salah satu protokol yang dibahas dalam konsensus tersebut [5].

Hubungannya dengan ginjal

Sebuah tinjauan sistematis terhadap 39 kelompok penelitian dengan lebih dari 630 ribu orang dewasa menemukan bahwa obesitas meningkatkan risiko munculnya penyakit ginjal kronis, baik berupa turunnya eGFR maupun bocornya albumin ke urine [6]. Pada kelompok berat badan lebih yang belum obesitas, kenaikan risikonya tidak bermakna [6]. Obesitas juga sering datang bersama diabetes dan hipertensi, dua penyebab utama penyakit ginjal. Baca diabetes merusak ginjal dan hipertensi dan ginjal.

Keterbatasan IMT

IMT hanya membandingkan berat dengan tinggi. Orang yang berotot, misalnya atlet atau pekerja fisik, bisa punya IMT tinggi padahal lemaknya sedikit [5]. Sebaliknya, orang dengan IMT normal bisa punya lemak perut berlebih. Karena itu IMT sebaiknya dibaca bersama lingkar perut, tekanan darah, gula darah puasa, dan profil lemak. IMT dewasa juga tidak dipakai untuk anak, remaja, dan ibu hamil, yang punya cara penilaian sendiri.

Kapan harus ke dokter?

  • Lingkar perut di atas batas disertai gula darah, tekanan darah, atau trigliserida yang tinggi
  • Berat badan turun lebih dari 5% dalam 6 sampai 12 bulan tanpa disengaja
  • IMT di bawah 17,0 atau terus turun
  • Berat badan naik cepat disertai bengkak di kaki, wajah, atau perut

Pertanyaan terkait

Tekanan darah: cara membaca angka atas dan bawahGula darah puasa: nilai normal, prediabetes, dan diabetesTrigliserida tinggi: penyebab dan cara menurunkanBagaimana diabetes bisa merusak ginjal?

Rujukan

  1. World Health Organization Regional Office for the Western Pacific, International Association for the Study of Obesity, International Obesity Task Force. The Asia-Pacific perspective: redefining obesity and its treatment. Sydney: Health Communications Australia; 2000 Lihat sumber
  2. WHO Expert Consultation. Appropriate body-mass index for Asian populations and its implications for policy and intervention strategies. Lancet. 2004;363(9403):157-63 Lihat sumber
  3. Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 41 Tahun 2014 tentang Pedoman Gizi Seimbang. Jakarta: Kemenkes; 2014 Lihat sumber
  4. Alberti KG, Zimmet P, Shaw J; IDF Epidemiology Task Force Consensus Group. The metabolic syndrome: a new worldwide definition. Lancet. 2005;366(9491):1059-62 Lihat sumber
  5. Ross R, Neeland IJ, Yamashita S, et al. Waist circumference as a vital sign in clinical practice: a Consensus Statement from the IAS and ICCR Working Group on Visceral Obesity. Nat Rev Endocrinol. 2020;16(3):177-189 Lihat sumber
  6. Garofalo C, Borrelli S, Minutolo R, et al. A systematic review and meta-analysis suggests obesity predicts onset of chronic kidney disease in the general population. Kidney Int. 2017;91(5):1224-1235 Lihat sumber

Riwayat artikel

  • Diterbitkan: 7 Oktober 2026

Artikel ini disusun Tim Redaksi Ginjalpedia dari pedoman klinis dan riset yang dikutip di bawah, dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter.

Laporkan kesalahan di artikel ini