PanduanPedoman klinisPengobatan

Kolesterol LDL: kenapa targetnya beda tiap orang

Ringkasan

Target LDL bergantung pada risiko serangan jantung dan stroke kamu. Pedoman ESC/EAS memakai empat target: di bawah 116, 100, 70, atau 55 mg/dL. Diabetes dengan kerusakan organ, penyakit ginjal kronis, dan riwayat serangan jantung menaikkan kategori risiko. Tiap penurunan LDL 1 mmol/L (sekitar 39 mg/dL) mengurangi kejadian kardiovaskular sekitar 22%.

  • Target LDL ditentukan oleh kategori risiko, bukan oleh satu angka normal
  • Target ESC/EAS: rendah di bawah 116, sedang di bawah 100, tinggi di bawah 70, sangat tinggi di bawah 55 mg/dL
  • Penyakit ginjal kronis, diabetes, dan riwayat serangan jantung atau stroke menaikkan kategori risiko
  • Tiap penurunan LDL sekitar 39 mg/dL mengurangi kejadian kardiovaskular sekitar 22%
  • LDL di atas 190 mg/dL perlu dipikirkan ke arah kelainan bawaan
Ilustrasi pembuluh darah yang menyempit karena tumpukan plak kolesterol di dindingnya
Gambar: OpenStax College, CC BY 3.0

Dua orang bisa sama-sama punya LDL 110 mg/dL, lalu dokter bilang ke yang satu “sudah bagus” dan ke yang lain “harus diturunkan”. Ini wajar. Target LDL tidak ditentukan dari angka LDL itu sendiri, tetapi dari seberapa besar risiko kamu terkena serangan jantung atau stroke dalam beberapa tahun ke depan.

Kenapa LDL yang dijadikan sasaran

LDL (low-density lipoprotein) adalah partikel pembawa kolesterol yang bisa masuk ke dinding pembuluh darah dan membentuk plak. Plak inilah yang lama-lama menyempitkan pembuluh atau pecah dan memicu serangan jantung. Pedoman ESC/EAS menjadikan LDL sebagai sasaran utama pengobatan lemak darah [1]. Kalau kamu belum paham isi lembar profil lemak, baca dulu cara membaca profil lemak.

Empat kategori risiko, empat target

Pedoman ESC/EAS 2019 membagi orang ke dalam empat kategori risiko, masing-masing dengan target LDL sendiri [1]. Pembaruan pedoman tahun 2025 tetap memakai target ini [2].

Kategori risikoTarget LDL
Rendahdi bawah 116 mg/dL (3,0 mmol/L)
Sedangdi bawah 100 mg/dL (2,6 mmol/L)
Tinggidi bawah 70 mg/dL (1,8 mmol/L), dan turun minimal 50% dari angka awal
Sangat tinggidi bawah 55 mg/dL (1,4 mmol/L), dan turun minimal 50% dari angka awal

Nilai rujukan LDL yang tercetak di lembar lab kamu biasanya hanya satu angka untuk semua orang. Angka itu berguna sebagai penanda awal, tetapi target pribadi kamu bisa lebih rendah. Bandingkan hasilmu dengan nilai rujukan di lembar lab, lalu tanyakan ke dokter kamu masuk kategori yang mana.

Apa yang menentukan kategori kamu

Risiko sangat tinggi

Menurut pedoman 2019, yang masuk kelompok ini antara lain orang yang sudah pernah serangan jantung, stroke, atau punya plak yang jelas terlihat pada pemeriksaan pembuluh darah. Juga orang dengan diabetes yang sudah merusak organ, misalnya ginjal atau mata, dan orang dengan penyakit ginjal kronis berat, yaitu eGFR di bawah 30 [1].

Risiko tinggi

Contohnya penyakit ginjal kronis sedang dengan eGFR 30 sampai 59, diabetes yang sudah berjalan 10 tahun atau lebih tanpa kerusakan organ, atau satu faktor risiko yang sangat menonjol seperti LDL di atas 190 mg/dL (4,9 mmol/L) atau tekanan darah 180/110 mmHg atau lebih [1]. Penjelasan stadium ginjal ada di artikel penyakit ginjal kronis: pengertian, stadium, dan pemeriksaan.

Risiko sedang dan rendah

Orang tanpa riwayat penyakit jantung, tanpa diabetes atau penyakit ginjal, dimasukkan ke kategori lewat hitungan risiko 10 tahun. Hitungan ini memakai usia, jenis kelamin, kebiasaan merokok, tekanan darah, dan kolesterol. Pembaruan 2025 merekomendasikan alat hitung bernama SCORE2, dan SCORE2-OP untuk usia 70 tahun ke atas [2]. Orang muda dengan diabetes yang baru berjalan singkat tanpa faktor risiko lain biasanya masuk risiko sedang [1].

Jadi kalau kamu punya diabetes yang sudah menyentuh ginjal, target LDL kamu ikut turun, kadang sampai di bawah 55 mg/dL.

Makin rendah, makin baik?

Pertanyaan ini dijawab oleh gabungan data 26 uji klinis dengan sekitar 170.000 peserta yang dianalisis Cholesterol Treatment Trialists’ Collaboration. Setiap penurunan LDL sebesar 1 mmol/L, sekitar 39 mg/dL, menurunkan kejadian pembuluh darah besar seperti serangan jantung, stroke karena sumbatan, dan tindakan membuka pembuluh jantung sekitar 22% per tahun [3]. Manfaat ini tetap terlihat pada peserta yang LDL awalnya sudah di bawah 2 mmol/L (sekitar 77 mg/dL), dan tidak ditemukan batas bawah di rentang yang diteliti [3]. Penurunan LDL lebih dalam juga tidak menambah risiko kanker dalam data ini [3].

Artinya, bagi orang dengan risiko tinggi, menurunkan LDL dari 90 ke 55 mg/dL tetap bermakna, walaupun 90 mg/dL sudah tercetak “normal” di lembar lab.

LDL di atas 190 mg/dL

LDL yang setinggi ini, terutama pada orang muda atau yang tidak punya penyebab jelas, perlu dipikirkan ke arah kelainan bawaan bernama hiperkolesterolemia familial [4]. Orang dengan kelainan ini terpapar LDL tinggi sejak lahir, sehingga risikonya lebih besar daripada yang terlihat dari usianya. Baca lebih lanjut di kolesterol tinggi padahal kurus atau masih muda.

Langkah berikutnya

Bawa hasil profil lemak kamu, catatan tekanan darah, hasil gula darah, dan hasil fungsi ginjal seperti eGFR saat kontrol. Dengan data itu dokter bisa menentukan kategori risiko dan target LDL yang sesuai. Perubahan pola makan, aktivitas fisik, dan berhenti merokok tetap menjadi dasar, dan dokter yang akan menilai apakah obat penurun kolesterol diperlukan. Profil lemak biasanya diulang beberapa minggu setelah pengobatan dimulai atau diubah, untuk melihat apakah target sudah tercapai.

Kapan harus ke dokter?

  • LDL di atas 190 mg/dL, apalagi bila ada keluarga yang terkena serangan jantung di usia muda
  • Kamu punya penyakit ginjal kronis, diabetes, atau pernah serangan jantung dan belum tahu target LDL kamu
  • LDL tetap di atas target setelah beberapa bulan berobat
  • Nyeri dada, sesak napas, atau lemah separuh badan: segera ke IGD

Pertanyaan terkait

Profil lemak: cara membaca kolesterol total, LDL, HDL, dan trigliseridaKolesterol tinggi padahal kurus atau masih mudaBagaimana diabetes bisa merusak ginjal?Penyakit ginjal kronis: pengertian, stadium, dan pemeriksaannya

Rujukan

  1. Mach F, Baigent C, Catapano AL, et al. 2019 ESC/EAS Guidelines for the management of dyslipidaemias: lipid modification to reduce cardiovascular risk. Eur Heart J. 2020;41(1):111-188 Lihat sumber
  2. Mach F, Koskinas KC, Roeters van Lennep JE, et al. 2025 Focused Update of the 2019 ESC/EAS Guidelines for the management of dyslipidaemias. Eur Heart J. 2025;46(42):4359-4378 Lihat sumber
  3. Cholesterol Treatment Trialists' (CTT) Collaboration; Baigent C, Blackwell L, Emberson J, et al. Efficacy and safety of more intensive lowering of LDL cholesterol: a meta-analysis of data from 170,000 participants in 26 randomised trials. Lancet. 2010;376(9753):1670-1681 Lihat sumber
  4. Nordestgaard BG, Langsted A, Mora S, et al. Fasting is not routinely required for determination of a lipid profile: clinical and laboratory implications including flagging at desirable concentration cut-points. A joint consensus statement from the European Atherosclerosis Society and European Federation of Clinical Chemistry and Laboratory Medicine. Eur Heart J. 2016;37(25):1944-1958 Lihat sumber

Riwayat artikel

  • Diterbitkan: 7 Oktober 2026

Artikel ini disusun Tim Redaksi Ginjalpedia dari pedoman klinis dan riset yang dikutip di bawah, dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter.

Laporkan kesalahan di artikel ini