Albumin urine (UACR): tanda awal ginjal bocor
Ringkasan
UACR mengukur albumin yang bocor ke urine. Menurut KDIGO 2024, di bawah 30 mg/g termasuk A1 (normal sampai naik ringan), 30 sampai 300 mg/g A2, dan di atas 300 mg/g A3. UACR 30 mg/g atau lebih yang menetap 3 bulan sudah menandakan penyakit ginjal kronis walau eGFR normal. Hasil tinggi perlu dikonfirmasi dengan tes ulang.
- A1 di bawah 30 mg/g, A2 30 sampai 300 mg/g, A3 di atas 300 mg/g
- UACR 30 mg/g atau lebih selama 3 bulan termasuk penyakit ginjal kronis walau eGFR normal
- Penyandang diabetes tipe 2 perlu UACR dan eGFR minimal setahun sekali
- Satu hasil tinggi belum cukup, perlu 2 dari 3 sampel dalam 3 sampai 6 bulan
- Olahraga berat, demam, infeksi, dan haid bisa menaikkan UACR sementara

Albumin adalah protein yang banyak terdapat di darah. Saringan ginjal yang sehat menahan albumin agar tetap di dalam darah, sehingga yang lolos ke urine hanya sedikit sekali. Bila saringan mulai rusak, albumin bocor ke urine. Kebocoran ini sering muncul jauh sebelum ada keluhan dan sebelum angka kreatinin naik.
UACR (urine albumin-to-creatinine ratio) mengukur albumin di contoh urine sekali kencing, lalu membaginya dengan kadar kreatinin urine. Pembagian ini mengoreksi urine yang pekat atau encer, jadi tidak perlu menampung urine 24 jam. Pedoman KDIGO 2024 menempatkan UACR sebagai cara pilihan utama untuk memeriksa albumin urine [1]. Bandingkan hasilmu dengan nilai rujukan dan satuan yang tercetak di lembar lab kamu sendiri.
Kategori A1, A2, A3
KDIGO membagi albumin urine menjadi tiga kategori [1]:
| Kategori | UACR (mg/g) | UACR (mg/mmol) | Istilah |
|---|---|---|---|
| A1 | Di bawah 30 | Di bawah 3 | Normal sampai naik ringan [1] |
| A2 | 30 sampai 300 | 3 sampai 30 | Naik sedang [1] |
| A3 | Di atas 300 | Di atas 30 | Naik berat [1] |
Lembar lab yang lebih lama kadang memakai istilah “mikroalbuminuria” untuk kisaran A2. Perhatikan satuannya: mg/g dan mg/mmol berbeda sekitar sepuluh kali lipat [1].
Kenapa penting walau eGFR normal
Banyak orang merasa ginjalnya aman karena eGFR masih di atas 60. Padahal menurut KDIGO, penyakit ginjal kronis bisa ditegakkan bila ada tanda kerusakan ginjal selama minimal 3 bulan, dan UACR 30 mg/g atau lebih termasuk tanda kerusakan itu [1]. Artinya, orang dengan eGFR 90 tetapi UACR 150 mg/g yang menetap sudah masuk kategori penyakit ginjal kronis (G1 A2). Sebaliknya, eGFR di kisaran G1 atau G2 tanpa tanda kerusakan tidak memenuhi kriteria penyakit ginjal kronis [1].
KDIGO juga mencatat bahwa eGFR dan albumin urine masing-masing secara terpisah menandakan risiko yang lebih tinggi untuk penyakit ginjal yang memburuk, penyakit jantung dan pembuluh darah, gagal ginjal, dan kematian [1]. Karena itu, keduanya dibaca bersama. Penjelasan stadium lengkap ada di penyakit ginjal kronis: pengertian, stadium, pemeriksaan.
Siapa yang perlu memeriksa
- Penyandang diabetes. Standar ADA 2026 menyarankan UACR dan eGFR minimal sekali setahun untuk semua penyandang diabetes tipe 2 sejak didiagnosis, apa pun pengobatannya, dan untuk diabetes tipe 1 yang sudah berjalan 5 tahun atau lebih [2]. Lihat juga bagaimana diabetes merusak ginjal.
- Penderita hipertensi dan penyakit jantung. KDIGO mendukung deteksi dini pada kelompok berisiko tinggi, termasuk orang dengan hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung pembuluh darah, dengan memeriksa eGFR dan albumin urine [1]. Seberapa sering, tentukan bersama doktermu. Baca hipertensi dan ginjal.
- Orang yang sudah punya penyakit ginjal kronis biasanya diperiksa 1 sampai 4 kali setahun, tergantung stadiumnya [2].
Satu hasil tinggi belum cukup
Kadar albumin urine sangat bervariasi dari hari ke hari, selisihnya bisa lebih dari 20% antar pemeriksaan [2]. Karena itu, ADA menyebut 2 dari 3 contoh urine dalam kurun 3 sampai 6 bulan harus tinggi sebelum seseorang dinyatakan mengalami albuminuria sedang atau berat [2]. KDIGO menyarankan hasil UACR 30 mg/g atau lebih dari urine acak dikonfirmasi dengan urine pertama pagi hari, ambil bagian tengah pancaran [1].
Hal yang bisa menaikkan UACR sementara
Beberapa keadaan bisa menaikkan UACR tanpa ada kerusakan ginjal [1] [2]:
- Olahraga berat dalam 24 jam sebelum tes.
- Demam dan infeksi, termasuk infeksi saluran kemih.
- Haid dan darah dalam urine.
- Gula darah atau tekanan darah yang sedang sangat tinggi.
- Gagal jantung.
Kreatinin urine juga ikut menentukan hasil. Perempuan dan orang bertubuh kecil membuang kreatinin lebih sedikit, sehingga UACR-nya cenderung lebih tinggi [1].
UACR, tes celup, dan kencing berbusa
Tes celup (dipstik) pada urine lengkap kurang akurat dibanding UACR. Hasil dipstik yang positif sebaiknya dikonfirmasi dengan pengukuran UACR di laboratorium [1]. Urine berbusa kadang memang tanda protein bocor, tetapi bisa juga karena hal lain. Bacaannya ada di kencing berbusa dan protein urine positif.
Persiapan
UACR tidak perlu puasa. Bila bisa, pakai urine pertama di pagi hari, hindari olahraga berat sehari sebelumnya, dan tunda tes saat sedang haid, demam, atau infeksi saluran kemih. Bila UACR kamu menetap tinggi, dokter akan menilai tekanan darah, gula darah, dan obat yang bisa menurunkan kebocoran albumin. Langkah ini dibuat sesuai kondisimu, jadi diskusikan hasilnya dengan dokter.
Kapan harus ke dokter?
- UACR di atas 300 mg/g (di atas 30 mg/mmol)
- UACR terus naik pada pemeriksaan berulang, atau eGFR ikut turun
- Kaki, kelopak mata, atau perut bengkak disertai urine berbusa yang menetap
- Urine berwarna merah atau seperti teh
- Tekanan darah sangat tinggi disertai sakit kepala berat atau sesak
Pertanyaan terkait
Penyakit ginjal kronis: pengertian, stadium, dan pemeriksaannyaCara membaca hasil eGFR dan stadium ginjalBagaimana diabetes bisa merusak ginjal?Kencing berbusa, kapan perlu khawatir?Rujukan
- Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO) CKD Work Group. KDIGO 2024 Clinical Practice Guideline for the Evaluation and Management of Chronic Kidney Disease. Kidney Int. 2024;105(4S):S117-S314 Lihat sumber
- American Diabetes Association Professional Practice Committee. 11. Chronic kidney disease and risk management: Standards of Care in Diabetes-2026. Diabetes Care. 2026;49(Suppl 1):S246-S260 Lihat sumber
Riwayat artikel
- Diterbitkan: 7 Oktober 2026
Artikel ini disusun Tim Redaksi Ginjalpedia dari pedoman klinis dan riset yang dikutip di bawah, dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter.
Laporkan kesalahan di artikel ini