PanduanPedoman klinisDasar

Kalium tinggi dan rendah: arti hasil dan bahayanya

Ringkasan

Kalium normal dalam darah umumnya 3,5 sampai 5,0 mmol/L. Kalium tinggi paling sering terkait penyakit ginjal kronis dan obat seperti ACE inhibitor, ARB, spironolakton, atau antinyeri OAINS, tetapi bisa juga palsu karena sampel darah rusak. Kadar 6,5 mmol/L atau lebih perlu penanganan segera. Kalium rendah sering karena muntah, diare, atau obat diuretik.

  • Rentang normal umum 3,5 sampai 5,0 mmol/L, cek rentang di lembar lab kamu
  • Kalium tinggi bisa palsu karena tangan dikepal, tourniquet kencang, atau sampel hemolisis
  • Penyakit ginjal kronis dan obat ACE inhibitor, ARB, spironolakton, OAINS menaikkan kalium
  • KDIGO 2024 tidak menganjurkan membatasi buah dan sayur pada tahap awal penyakit ginjal
  • Kalium rendah sering karena muntah, diare, atau diuretik
Rekaman irama jantung (EKG) pada monitor, pemeriksaan yang dipakai dokter saat kalium terlalu tinggi atau rendah
Gambar: medipics1066, CC BY 2.0

Kalium (potasium) adalah elektrolit, yaitu mineral bermuatan listrik di dalam darah. Kalium mengatur kerja saraf dan otot, termasuk otot jantung. Karena itu, kadar kalium yang terlalu tinggi atau terlalu rendah bisa mengganggu irama jantung. Sebagian besar kalium dibuang lewat ginjal, sehingga kalium adalah salah satu angka yang paling sering dipantau pada orang dengan penyakit ginjal kronis.

Bandingkan hasilmu dengan nilai rujukan yang tercetak di lembar lab kamu sendiri. Rentangnya bisa sedikit berbeda antar laboratorium, dan nilai dari serum (darah yang dibiarkan membeku) biasanya sedikit lebih tinggi daripada nilai dari plasma [2].

Nilai normal dan tingkatannya

Rentang normal kalium serum yang umum dipakai adalah 3,5 sampai 5,0 mmol/L (satuan mEq/L nilainya sama) [1].

Kadar kaliumArti
Di bawah 2,5 mmol/LHipokalemia berat [1]
2,5 sampai 2,9 mmol/LHipokalemia sedang [1]
3,0 sampai 3,4 mmol/LHipokalemia ringan [1]
3,5 sampai 5,0 mmol/LRentang normal yang umum [1]
6,0 sampai 6,4 mmol/LHiperkalemia sedang [2]
6,5 mmol/L atau lebihHiperkalemia berat, perlu penanganan segera [2]

Angka di antara 5,0 dan 6,0 mmol/L tetap di atas normal dan perlu dicari penyebabnya bersama dokter.

Hasil tinggi yang ternyata palsu

Kalium tinggi tidak selalu berarti kalium di dalam tubuhmu benar-benar tinggi. Kondisi ini disebut pseudohiperkalemia: kalium keluar dari sel darah saat darah diambil atau saat tabung diproses. Pedoman KDIGO 2024 menyebut beberapa penyebabnya [2]:

  • Ikatan pembendung (tourniquet) di lengan terlalu kencang.
  • Tangan dikepal-kepalkan atau digerakkan saat darah diambil.
  • Sel darah merah pecah (hemolisis), misalnya karena tabung dikocok terlalu keras atau sampel disimpan terlalu lama.
  • Jumlah trombosit atau leukosit yang sangat tinggi.

Kadar kalium juga naik turun sepanjang hari. Pada orang yang sama, selisihnya bisa 0,24 sampai 0,73 mmol/L dalam 24 jam [2]. Bila dicurigai palsu, dokter biasanya meminta pengambilan darah ulang [2].

Penyebab kalium tinggi (hiperkalemia)

  • Fungsi ginjal turun. Makin rendah eGFR, makin besar risiko kalium menumpuk [3]. Pada pasien cuci darah, kalium termasuk angka yang dipantau rutin.
  • Obat. Golongan ACE inhibitor (misalnya captopril, lisinopril), ARB (misalnya losartan, candesartan), spironolakton dan obat sejenisnya, diuretik hemat kalium, obat antinyeri golongan OAINS seperti ibuprofen dan diklofenak, trimethoprim, serta heparin [2]. Baca juga obat antinyeri dan ginjal.
  • Diabetes yang tidak terkontrol. Kekurangan insulin dan gula darah sangat tinggi membuat kalium bergeser keluar dari sel [2].
  • Kerusakan jaringan besar, misalnya kerusakan otot berat [2].
  • Asupan kalium tambahan. Garam pengganti rendah natrium yang dibuat dari kalium klorida dan makanan olahan yang diberi aditif kalium bisa menambah beban kalium pada ginjal yang sudah lemah [2]. Suplemen kalium sebaiknya hanya diminum atas saran dokter.

Kenapa kalium tinggi berbahaya

Kalium tinggi bisa mengganggu listrik jantung. Pada rekam jantung (EKG), perubahannya antara lain gelombang T yang meruncing dan kompleks QRS yang melebar, dan pada keadaan berat bisa terjadi gangguan irama yang mengancam nyawa [3]. Masalahnya, perubahan EKG ini tidak selalu muncul. Ada laporan orang dengan kalium sangat tinggi yang EKG-nya hampir normal [3]. Banyak orang juga tidak merasakan gejala apa pun. Itu sebabnya angka lab tetap penting.

Kalium pada penyakit ginjal kronis

Dulu banyak pasien ginjal diminta menjauhi buah dan sayur. Konferensi KDIGO tentang kalium menilai bahwa bukti saat ini mendorong pergeseran: dari pembatasan ketat menuju pola makan sehat yang banyak bahan nabati [4]. Pedoman KDIGO 2024 menyebut bahwa pada tahap awal penyakit ginjal kronis, makanan yang alami kaya kalium tampaknya justru melindungi, dan pembatasan buah serta sayur tidak dianjurkan [2]. Untuk orang dengan penyakit ginjal kronis stadium G3 sampai G5 yang pernah mengalami kalium tinggi, yang disarankan adalah membatasi makanan dengan kalium yang mudah diserap, misalnya makanan olahan [2]. Pengaturan ini sebaiknya dibuat bersama dokter atau ahli gizi.

Obat ACE inhibitor dan ARB melindungi ginjal. Menurut KDIGO 2024, kalium tinggi akibat obat ini sering bisa diatasi dengan cara menurunkan kalium tanpa harus menurunkan dosis atau menghentikan obatnya [2]. Jadi jangan berhenti minum obat sendiri. Pemeriksaan kalium dan kreatinin biasanya diulang 2 sampai 4 minggu setelah obat ini dimulai atau dosisnya dinaikkan [2].

Penyebab kalium rendah (hipokalemia)

Hipokalemia cukup sering. Hipokalemia ringan ditemukan pada hampir 14% pasien rawat jalan yang diperiksa lab, dan sampai 20% pasien rawat inap [1]. Penyebabnya [1]:

  • Kehilangan lewat saluran cerna: muntah, diare yang lama, atau pemakaian obat pencahar berlebihan.
  • Kehilangan lewat ginjal: obat diuretik (obat pelancar kencing) dan kelebihan hormon aldosteron.
  • Kalium bergeser masuk ke dalam sel: pengaruh insulin, obat asma golongan beta agonis, dan tiroid yang terlalu aktif.

Kalium rendah bisa menimbulkan lemas otot dan, pada jantung, perubahan EKG serta gangguan irama yang kadang berbahaya [1].

Persiapan dan langkah berikutnya

Pemeriksaan kalium tidak perlu puasa. Saat diambil darah, usahakan tangan tetap rileks dan jangan dikepal-kepalkan. Sampaikan ke dokter semua obat yang kamu minum, termasuk obat bebas dan jamu. Kalium sering diperiksa bersama natrium dan kreatinin. Panduan umum membaca lembar hasil ada di cara membaca hasil lab.

Kapan harus ke dokter?

  • Kalium 6,0 mmol/L atau lebih, terutama 6,5 mmol/L atau lebih
  • Kalium di bawah 3,0 mmol/L, atau di bawah 2,5 mmol/L
  • Dada berdebar, denyut tidak teratur, nyeri dada, atau hampir pingsan
  • Otot sangat lemas sampai sulit berdiri atau bernapas
  • Muntah atau diare berat pada orang yang minum diuretik atau punya penyakit ginjal

Pertanyaan terkait

Natrium tinggi dan rendah: arti hasil elektrolitApa itu penyakit ginjal kronis?Cara membaca hasil eGFR dan stadium ginjalObat antinyeri yang perlu diwaspadai untuk ginjal

Rujukan

  1. Kardalas E, Paschou SA, Anagnostis P, Muscogiuri G, Siasos G, Vryonidou A. Hypokalemia: a clinical update. Endocr Connect. 2018;7(4):R135-R146 Lihat sumber
  2. Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO) CKD Work Group. KDIGO 2024 Clinical Practice Guideline for the Evaluation and Management of Chronic Kidney Disease. Kidney Int. 2024;105(4S):S117-S314 Lihat sumber
  3. Hunter RW, Bailey MA. Hyperkalemia: pathophysiology, risk factors and consequences. Nephrol Dial Transplant. 2019;34(Suppl 3):iii2-iii11 Lihat sumber
  4. Clase CM, Carrero JJ, Ellison DH, et al. Potassium homeostasis and management of dyskalemia in kidney diseases: conclusions from a Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO) Controversies Conference. Kidney Int. 2020;97(1):42-61 Lihat sumber

Riwayat artikel

  • Diterbitkan: 7 Oktober 2026

Artikel ini disusun Tim Redaksi Ginjalpedia dari pedoman klinis dan riset yang dikutip di bawah, dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter.

Laporkan kesalahan di artikel ini